Minggu, 06 Agustus 2017
Jumat, 04 Agustus 2017
Setelah melakukan perjalanan evaluasi Trial Multilokasi Sweet Corn di Cirebon, Klaten dan Karanganyar, Bersama team Specialty Corn, istirahat sejenak di Cemoro Kandang di ketinggian 1825 m dpl ( diatas permukaan laut), sekedar ngopi, makan jagung bakar dan nyate, sebelum melanjutkan lagi perjalanan menuju Kediri-Jawa Timur.
Bagi para pecinta alam yang mau mendaki Gunung Lawu, titik awal pendakian bisa dimulai dari Cemoro Sewu yang masuk Kabupaten Magetan-Jawa Timur atau melalui Cemoro Kandang, masuk Kabupaten Karanganyar-Jawa Tengah. Kedua tempat tersebut lokasinya berdekatan, hanya berjarak sekitar 200 m.
Berbicara mengenai pendakian, teringat akan sebuah buku berjudul Adversity Quotient merubah hambatan menjadi peluang karya Paul G Stolz.
Paul G. Stolz menggolongkan kelompok manusia dalam menghadapi kesulitan menjadi tiga macam yaitu Quiters, Campers dan Climber. Kesulitan diibaratkan sebagai gunung, maka hanya Climber lah yang mampu mendaki gunung tersebut sampai ke puncak, sementara Quiter menolak pendakian dan Camper berhenti dalam pendakiannya untuk menikmati pencapaiannya.
Jadi kesuksesan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh IQ, EQ, SQ tetapi juga dipengaruhi oleh AQ.
Apakah kita termasuk seorang seorang Quiter, Campers atau Climber, hanya diri kitalah yang tahu...
#Salam dari Cemoro Kandang 1825 m dpl.
#ptbisiinternationaltbk
#specialtycorn
#sweetcorn #waxycorn #cemorokandang#azisrifianto Read More..
Rabu, 06 November 2013
Buku Budidaya Jagung Manis

Penerbit : Penebar Swadaya Penulis : Dr. M. Syukur, SP., M.Si. & Azis Rifianto, SP., M.Si
ISBN : 978-979-002-591-2
Halaman : 124
Konsumsi jagung manis juga mengalami peningkatan di Asia, Eropa, Amerika Latin serta banyak negara lain, termasuk Indonesia. Seiring dengan kebutuhan yang semakin meningkat maka perlu pengetahuan teknik budi daya jagung manis yang lebih baik, agar diperoleh kualitas dan kuantitas produksi yang lebih optimal.
Berbeda dengan jagung pipil, jagung manis memerlukan penanganan khusus dalam produksi benih, teknik budi daya, dan isolasi tanaman dari tanaman lain (baik jagung manis tipe lain maupun jagung biasa) di lahan agar tidak terjadi penyerbukan silang. Penyerbukan silang tersebut menyebabkan biji jagung manis menjadi tidak manis.
Buku ini membahas berbagai hal tentang jagung manis antara lain gen pengendali rasa manis, varietas unggul, produksi benih, teknik isolasi, dan budi daya jagung manis, selain itu buku ini juga dilengkapi dengan solusi dan permasalahan budidaya yang didasarkan pada pengalaman penulis. Segera dapatkan buku ini di Toko Buku Gramedia, dan Toko Buku yang ada di Kota Anda Read More..
Minggu, 18 Maret 2012
Lalat Cari Alkohol Jika di Tolak Pasangan

VIRGINIA, KOMPAS.com - Pernahkah merasa patah hati ditolak orang yang dicintai dan akhirnya melampiaskan kekecewaan dengan mabuk-mabukan dengan minuman beralkohol? Tak cuma manusia, lalat buah pun kalau ditolak pasangan mencari alkohol.
Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science bahwa lalat buah jantan yang ditolak oleh betina akan mengonsumis makanan yang mengandung alkohol lebih banyak.
Demikian kesimpulan hasil penelitian Galit Shohat Ophir dan rekannya dari Howard Hughes Medical Institute di Virginia, AS melakukan sebuah penelitian di laboratorium Ulrike Heberlein, Universitas California di San Diego.
Dalam penelitian itu, Ophir mengelompokkan lalat buah jantan menjadi dua grup. Grup pertama ditempatkan di kotak penuh lalat betina perawan yang siap dikawini. Sementara, lalat grup kedua ditempatkan di box dengan lalat yang sudah dikawini sehingga cenderung menolak ajakan kawin.
Peneliti menemukan bahwa grup pejantan yang ditolak memakan makanan yang mengandung 15 persen alkohol, sementara grup lain menghindari. Menurut Ophir, lalat buah memilih alkohol untuk memberi penghargaan atas dirinya walau ditolak.
Perilaku tersebut dikendalikan oleh senyawa dalam otak yang disebut neuropeptida F (NPF). Berdasarkan penelitian, lalat buah jantan yang gagal kawin memiliki level NPF yang lebih rendah.
"Ini semua membuat kita berpikir bahwa otak lalat buah, dan juga mungkin hewan lain dan manusia, memiliki sistem kontrol untuk memberi penghargaan internal, bahwa jika penghargaan internal turun maka akan diikuti dengan perilaku yang akan mengembalikannya lagi," kata Ophir seperti dikutip BBC, Kamis (15/3/2012).
Senyawa mirip NPF sebenarnya juga ditemukan pada manusia, disebut Neuropeptida Y. Namun, efek zat itu pada perilaku manusia belum bisa dijelaskan dengan gamblang.
Sumber : www.kompas.com
Read More..
Jumat, 18 November 2011
Misteri Bau Tanah Terpecahkan

Bau tanah yang khas tercium setiap kali hujan mengguyur, tapi dari mana asal bau tersebut masih menjadi teka-teki sejak bertahun-tahun. Para peneliti dari Universitas Brown di New York, AS, akhirnya memastikan bahwa aroma tersebut berasal dari senyawa yang dihasilkan bakteri.
Mereka menyimpulkan bahwa bau tanah berasal dari kombinasi dua senyawa yang disebut geosmin dan methylisoborneol. Kedua zat kimia yang tidak berbahaya itu termasuk dalam kelas senyawa terpene yang sama-sama disintesis oleh bakteri tanah.
Tahun lalu, salah satu peneliti bernama David Cane menemukan gen dalam tubuh bakteri yang mengatur produksi geosmin. Proses produksi methylisoborneol masih misterius waktu itu. Sebab, tidak seperti senyawa-senyawa terpene lainnya yang memiliki 15 rantai karbon, senyawa ini hanya memiliki 11 rantai karbon.
Saat itu, Cane dan koleganya, Chieh-Mieh Wang, mencoba menyintesis senyawa tersebut dengan mempelajari gen bakteri tanah yang disebut Streptomyces. Salah satu gen dari 8.000 gen diprediksi sebagai katalis terpene, tapi saat disisipkan ke tubuh bakteri lainnya ternyata tak menghasilkan apa-apa.
Gen ganda
"Kami lalu melihat gen lainnya, gen berikutnya dari yang pertama," ujar Cane yang melaporkan temuannya dalam Journal of the American Chemical Society. Gen tersebut diketahui menambahkan satu rantai karbon dalam senyawa kimia yang dihasilkan gen lainnya.
Tanpa disadari sebelumnya, methylisoberneol dihasilkan dari kerja sama kedua gen. Saat kedua gen disisipkan ke dalam bakteri Escherichia coli, senyawa tersebut terbentuk sempurna.
Selain pada bakteri, Cane memperkirakan kedua senyawa tersebut juga dihasilkan alga hijau. Sebab, aroma yang sama juga ditemukan pada lumpur yang terbentuk di dalam perairan yang ditumbuhi alga tersebut. Jika benar, temuan ini dapat dijadikan dasar peringatan dini untuk mencegah gangguan ganggang sebelum tumbuh berlebihan.
sumber:www.kompas.com
Read More..
Ada Gen yang menyebabkan Suka Makan

Suka makan permen atau makanan manis, bukan cuma disebabkan oleh kebiasaan, tetapi juga oleh DNA kita. DNA yang disebut Glucose Transporter Type 2 (GLUT2) adalah variasi gen yang mampu merangsang otak mengonsumsi makanan secara berlebihan.
Informasi ini merupakan hasil penelitian dari Department of Nutritional Sciences, University of Toronto di Kanada terhadap 687 orang. Para relawan dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama merupakan sekumpulan orang yang memiliki variasi gen GLUT2. Kelompok lainnya tidak. Terbukti, kelompok pertama memakan lebih banyak permen.
Namun, kedua kelompok itu mengonsumsi protein, lemak, dan alkohol dalam porsi yang sama banyaknya. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pola makan seseorang dapat bersifat genetik. Kalau kita termasuk salah satu orang yang memiliki gen ini, cobalah ganti camilan permen dengan dark chocolate yang ditaburi kacang almon. Meski rasanya manis, kadar gula dalam dark chocolate tidak terlalu tinggi. Read More..
Gen Kanguru Menyerupai Gen Manusia
Kanguru Australia secara genetika serupa dengan manusia dan mungkin pertama kali berevolusi di China.Beberapa ilmuwan Australia, Selasa (18/11), mengatakan, mereka untuk pertama kali telah memetakan kode genetika hewan khas Australia tersebut dan mendapati kebanyakan gen itu serupa dengan gen manusia. Demikian keterangan Centre of Excellence for Kangaroo Genomics, lembaga yang didukung pemerintah.
"Ada sedikit perbedaan, kami memiliki beberapa tambahan ini, kurang dari itu, tapi semuanya adalah gen yang sama dan banyak di antaranya memiliki susunan yang sama," kata Direktur lembaga tersebut Jenny Graves kepada wartawan di Melbourne.
"Kami mulanya mengira semuanya akan tercampur penuh, tetapi ternyata tidak. Ada banyak potongan genome manusia yang berada tepat di dalam genome kanguru," kata Graves, sebagaimana dilaporkan AAP.
Manusia dan kanguru terakhir memiliki nenek moyang yang sama setidaknya 150 juta tahun lalu, demikian temuan para peneliti tersebut, sementara tikus dan manusia berpisah satu sama lain hanya 70 juta tahun lalu.
Kanguru pertama kali berevolusi di China, tapi pindah melewati dataran Amerika ke Australia dan Antartika. "Kanguru adalah sumber informasi yang sangat besar mengenai seperti apa kita 150 juta tahun lalu," kata Graves.
sumber:www.kompas.com
Read More..
Gen Khusus Perlambat Penuaan Lalat
Ahli biologi dari Universitas California Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat, menemukan gen PGC-1 penghambat proses penuaan lalat buah (Drosophila melanogaster). Gen ini meningkatkan aktivitas mitokondria: organ sel penghasil energi utama pengontrol pertumbuhan dan memberi tahu sel kapan hidup atau mati.Asisten profesor biologi integratif dan fisiologi UCLA, David Walker, mengujikan gen PGC-1 dengan menempatkannya di jaringan lain pada lalat buah. Hasilnya, saat PGC-1 ditempatkan pada saluran pencernaan lalat, lalat hidup lebih lama, hingga 50 persen usia hidupnya yang umumnya hanya dua bulan.
”Hasil ini tak tampak ketika gen PGC-1 ditempatkan pada jaringan syaraf, otot, dan jaringan lain,” katanya, Rabu (9/11).
Selama ini, para ahli berpikir penuaan dapat dihambat lewat jaringan otak atau jantung. Ternyata, usus berperan besar menghambat penuaan, bukan hanya dalam penyerapan makanan. Usus juga menghambat racun dan patogen dari lingkungan.
Gen ini bisa untuk obat-obatan melawan penyakit terkait penuaan, seperti alzheimer, parkinson, kanker, dan jantung.
sumber: www.kompas.com
Selasa, 16 Februari 2010
Kenapa Nyamuk Tertarik pada Darah Kita?

Kenapa Nyamuk Tertarik pada Darah Kita?
KOMPAS.com - Mengapa nyamuk suka mengerubungi tubuh dan pakaian kita? Untuk menjawab pertanyaan itu, pakar kimia ekologi Walter Lear meneliti apakah manusia menghasilkan semacam bau yang mengundang nyamuk. Ia dan para koleganya menemukan zat yang mereka cari, yakni nonanal, zat yang dihasilkan manusia dan burung-burung yang mengeluarkan aroma yang mengundang nyamuk Culex.
Ia awalnya melakukan percobaan pada dirinya sendiri. "Aku mengukur kadar pada diriku sendiri," kata Leal. Rekannya menempelkan alat seperti suntikan pada kulitnya, lalu dibungkus dengan aluminium foil agar terisolasi. Setelah sejam, ujung suntikan itu dimasukkan ke suatu alat untuk mengukur kadar nonanal.
"Ternyata tubuhku menghasilkan cukup banyak (nonanal)," kata Leal, "Saya rasa tubuh saya melepaskan 20 nanogram (nonanal) per jam. Itu termasuk tinggi."
Kini Leal sadar bahwa inilah alasan kenapa dulu ketika ia di Meksiko, walaupun sudah melakukan langkah-langkah pencegahan, ia tetap diburu nyamuk.
"Banyak sekali nyamuknya, saya hampir tak percaya," ia bernostalgia, "Aku menyemprotkan Deet (anti nyamuk) di mana-mana, sampai di rambutku. Dan waktu pagi aku sadar nyamuk-nyamuk bahkan menggigit menembus kaos kakiku, padahal cukup tebal. Kalau kelewatan satu titik saja, maka pasti ditemukan nyamuk, lalu digigit. Nyamuk bahkan bisa menggigit menembus jeans, selama mereka tahu di baliknya ada pembuluh darah. Mereka juga bisa mendeteksi panas tubuh."
Read More..
Minggu, 07 Februari 2010
Cobalah Tinggal di Pegunungan untuk Turunkan Berat Badan
-dalam.jpg)
Cobalah Tinggal di Pegunungan untuk Turunkan Berat Badan
Irna Gustia - detikHealth
Munich, Penderita obesitas harus mencoba tinggal di pegunungan jika ingin menurunkan berat badan. Lemak jadi lebih mudah terbakar ketika udara semakin tipis yang merupakan ciri khas daerah pegunungan.
Ilmuwan mengatakan fenomena itu banyak terjadi di negara-negara yang atmosfernya sedikit karena daerahnya tinggi seperti di Tibet dan Argentina.
Daerah tinggi memiliki udara yang oksigennya tipis sehingga tubuh dipaksa berusaha keras untuk mendapatkan oksigen. Sedangkan di daerah lautan atau permukaan rendah oksigennya sangat padat dan mudah didapat.
Peneliti melakukan studi terhadap 20 orang yang memiliki indeks massa tubuh atau body mass index (BMI) 34. Angka BMI lebih dari 30 adalah pertanda orang mengalami obesitas serius juga masalah kegemukan yang parah. Karena seseorang dikatakan gemuk jika BMI sebesar 25-29,9 dan obesitas jika BMI mencapai 30 atau lebih.
Para partisipan itu berhasil menurunkan beberapa pound setelah tinggal sedikitnya satu bulan untuk percobaan ini. Ketika tinggal di gunung gaya hidup partisipan mengalami perubahan. Dengan kondisi yang unik itu malah membuat fungsi metabolismenya meningkat, nafsu makan berkurang dan menurunnya tekanan darah.
Dr Florian Lippi, dari Ludwig Maximillians University di Munich, mengatakan dengan memahami mekanisme di balik penurunan berat badan ini dapat memberikan dasar untuk perawatan baru penderita obesitas.
Dr Lippi dan timnya juga mempelajari efek tinggal di dataran tinggi selama satu minggu tanpa melakukan perubahan seperti melakukan latihan rutin atau kesediaan pangan.
Pada akhir penelitian sebuah studi juga dilakukan di laboratorium berpendingin udara (AC) dekat puncak gunung tertinggi di Jerman Zugspitze, untuk melihat pengaruhnya terhadap berat badan. Ternyata asupan makanan dan tekanan darah telah menurun secara dramatis dan efek-efek ini masih berlanjut hingga empat minggu sesudahnya.
Peneliti mengatakan rendahnya tingkat oksigen pada daerah tinggi berpengaruh pada peningkatan leptin yakni hormon di otak yang berperan untuk menekan nafsu makan. Meskipun diakui penyebab ini masih perlu dipelajari lebih lanjut. Penemuan ini telah dipublikasikan dalam the journal Obesity.
"Penurunan berat terlihat pada tempat yang tinggi terutama disebabkan oleh peningkatan metabolisme dan asupan makanan yang berkurang. Namun alasan di balik perubahan-perubahan ini belum begitu jelas dan mungkin merupakan efek sementara tubuh ke perubahan iklim dan lingkungan yang baru," kata Dr Lippi seperti dilansir dari Telegraph, Minggu (7/2/2010).(ir/ir)
Read More..
Sabtu, 23 Januari 2010
Bagi Katak, Bulan Purnama Saatnya Pesta Seks

Bagi Katak, Bulan Purnama Saatnya Pesta Seks
David Bickford/National University of Singapore
Spesies katak Barbourula kalimantanensis yang ditemukan sejak tahun 1978 baru diketahui sebagai katak pertama di dunia yang bernapas tanpa menggunakan paru-paru.
KOMPAS.com - Selama ini bulan purnama identik dengan romantisme dan saat yang asyik untuk bermesraan dengan kekasih. Ternyata hal tersebut juga benar dan berlaku di dunia hean khususnya amfibi.
Para peneliti menemukan bahwa amfibi di seluruh muka bumi melakukan pesta kawin pada saat bulan purnama. Walaupun belum banyak diketahui, tetapi fenomena ini terjadi secara global. Semua spesies amfibi seperti katak, kodok, dan salamander melakukan aktivitas perkawinannya selama periode itu.
Pergerakan bulan yang tengah berada pada fase penuh umum dimanfaatkan hewan. Amfibi pun menggunakan siklus ini untuk mengumpulkan spesies katak jantan dan betina dalam waktu yang sama. Dengan demikian, potensi kesuksesan pembuahan telur dapat dimaksimalkan.
Pada 2005, ahli biologi Rachel Grant yang sedang meneliti mengenai salamander dekat sebuah telaga di wilayah Italia Tengah, tanpa sengaja melihat begitu banyak katak memenuhi jalan di bawah bulan purnama.
"Meski masih ada kemungkinan ini hanya suatu kebetulan, tapi di bulan berikut saya melewati jalan yang sama di hari senja, dan kembali menemukan sejumlah katak. Jumlahnya meningkat seiring bulan bertambah besar, mencapai puncaknya pada bulan purnama, lantas berangsur-angsur berkurang," ujarnya.
Oleh sebab itu, Grant kembali ke lokasi tersebut pada 2006 dan 2007. Ia kemudian membandingkan data perolehannya dengan data penelitian perilaku kawin katak-katak di sebuah kolam dekat Oxford, Inggris yang dikumpulkan oleh Tim Halliday; serta data Elizabeth Chadwick dari Universitas Cardiff mengenai katak-katak dan kadal-kadal di Wales.
Hasilnya, disimpulkan terdapat 3 fase hidup pada amfibi yang dipengaruhi perputaran bulan, yakni fase pembiakan (breeding site), fase perkawinan (mating site), dan fase bertelur (spawning site). Spesies katak biasa Bufo bufo melakukan ketiga fase ini selama masa bulan purnama. Begitu pula dengan spesies katak Jawa Bufo melanostictus, yang melakukan fase perkawinannya dalam periode bulan purnama, di mana katak betina melakukan ovulasi pada saat berdekatan atau di waktu yang sama.
Sementara spesies katak Rana temporaria melakukan fase bertelur pada bulan purnama. Perkawinan kadal juga dipengaruhi siklus bulan walaupun hasil yang ditunjukkannya tidak sejelas pada katak.
"Kami kira gejala ini tersebar di seluruh dunia. Bagaimanapun, perbedaan ekologi dan cara reproduksi juga akan mempengaruhi hal ini, dan itu perlu diselidiki lebih lanjut," ujar Grant.
Read More..
Apakah Manusia Masih Berevolusi?

KOMPAS.com — Manusia modern (Homo sapiens) masih terus berevolusi. Meski banyak yang meyakini bahwa seleksi alam telah berhenti karena kini hampir setiap orang hidup cukup lama untuk memiliki anak, penelitian baru dari Massachussets mengenai populasi membuktikan bahwa evolusi masih berlangsung.
Sebuah tim peneliti yang dipimpin ahli Biologi Evolusi Universitas Yale, Stephen Stearns, mendapati bahwa seleksi alam tak lagi didorong kemampuan survival, tetapi tergantung pada perbedaan kesuburan perempuan. “Variasi dari kesuksesan reproduksi masih ada di antara kita sehingga beberapa sifat yang berhubungan dengan kesuburan terus dibentuk oleh seleksi alam,” kata Stearns. Artinya, wanita dengan lebih banyak anak akan lebih mudah menurunkan sifat-sifat tertentu pada keturunannya.
Tim Stearns memeriksa statistik 2.238 wanita pasca-menopause yang berpartisipasi pada Penelitian Jantung Framingheart, yang mencatat sejarah medis 14.000 penduduk di Framingham sejak 1948. Para peneliti mencari hubungan antara karakteristik fisik wanita—termasuk tinggi, berat, tekanan darah, serta kadar kolesterol—dan jumlah keturunan mereka.
Mereka menemukan, wanita yang gemuk (bukan kegemukan) cenderung memiliki banyak anak. “Wanita dengan kadar lemak yang sedikit, tak berovulasi,” ujar Stearns. Hal sama juga terjadi pada wanita dengan tekanan darah dan kadar kolesterol yang rendah.
Menggunakan analisis statistik canggih yang memasukkan faktor-faktor sosial dan budaya yang bisa memengaruhi angka kelahiran, para peneliti menemukan bahwa ciri-ciri tersebut diturunkan dari ibu ke anak perempuan dan cucu perempuannya.
Bila tren tersebut terus berlanjut tanpa perubahan hingga 10 generasi mendatang, rata-rata wanita Framingham pada tahun 2409 akan lebih pendek 2 cm, 1 kg lebih berat, mempunyai jantung yang lebih sehat, memiliki anak pertama 5 bulan lebih cepat, dan memasuki menopause 10 bulan lebih lambat dari wanita sekarang.
“Evolusi ini berjalan lambat, tapi mirip dengan apa yang kita lihat pada tumbuhan dan hewan. Sepertinya tak ada pengecualian terhadap manusia,” ujar Stearns mengenai penelitian yang dipublikasikan pada 21 Oktober dalam Procceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).
Douglas Ewbank, seorang demografer di Universitas Pennsylvania yang juga berperan dalam analisis statistik, mengatakan bahwa faktor budaya yang cenderung berdampak lebih menonjol dari seleksi alam pada pembentukan generasi mendatang menyebabkan orang-orang cenderung menyepelekan efek evolusi.
“Perubahan yang kita ramalkan tahun 2409 dapat saja terhapus oleh hal sederhana, seperti, katakanlah, program makan siang di sekolah. Namun, apa pun yang terjadi, tahun 2409, wanita Framingham cenderung akan lebih pendek 2 cm dan 1 kg lebih berat dibanding mereka yang tidak mengalami seleksi alam. “Evolusi merupakan proses yang lambat. Kita tak melihatnya pada kakek nenek kita, tapi seleksi itu ada.”
Sementara itu, Steve Jones, ahli biologi evolusi di Universitas College London yang pernah mengatakan bahwa evolusi manusia mendekati akhir, menganggap studi Framingham merupakan contoh penting bagaimana seleksi alam masih berjalan melalui perbedaan kemampuan reproduksi. Namun, Jones menganggap bahwa variasi kesuburan wanita seperti yang diukur dalam studi Framingham kurang penting dalam mempengaruhi evolusi manusia, dibanding variasi kesuburan pria. Menurutnya, sperma memiliki lebih banyak kemungkinan mutasi dibanding indung telur, terutama di kalangan pria berusia lebih tua.
"Bila dahulu lazim jika seorang pria memiliki banyak anak di usia senja dari beberapa istri, kini pria cenderung hanya memiliki satu istri dan sedikit anak di usia muda. Berkurangnya jumlah ayah berusia senja memiliki efek pada laju mutasi dan mengurangi munculnya diversitas baru. Padahal, inilah yang menjadi material utama evolusi," kata Jones. "Namun (meski materi evolusi makin jarang) mesin evolusi Darwin tidaklah berhenti. Ia hanya menjadi sangat melambat."
Read More..
Penarik Kereta Sinterklas Ternyata Betina

KOMPAS.com — Dasher dan Dancer dan Prancer dan Vixen—rusa-rusa kutub penarik kereta sinterklas—barangkali kecewa dengan hasil pertemuan iklim di Kopenhagen yang tidak tegas memutuskan langkah apa yang harus disepakati untuk mencegah pemanasan global. Kekecewaan itu beralasan karena jumlah reindeer atau rusa kutub menurun hingga 60 persen dalam tiga dekade terakhir akibat perubahan iklim dan kerusakan habitat karena ulah manusia.
Padahal setiap Natal tiba, reindeer selalu menjadi hewan yang menonjol karena Sinterklas dilukiskan bepergian mengunjungi rumah-rumah dengan menggunakan kereta salju yang ditarik rusa kutub. Dengan populasi yang terus menurun, dunia pun menaruh perhatian lebih pada hewan-hewan itu. Di luar ancaman terhadap mereka, ada fakta-fakta menarik mengenai hewan yang juga disebut caribou itu. Inilah beberapa di antaranya:
Reindeer dan caribou adalah dua nama yang merujuk pada satu hewan, yakni Rangifer tarandus. Sebutan reindeer sering kali mengacu pada rusa domestik yang digembalakan manusia dan dipakai menarik kereta. Rusa-rusa ini kebanyakan hidup di Skandinavia dan Siberia, serta umumnya lebih kecil dan memiliki kaki lebih pendek dibanding caribou liar. Di Siberia, caribou disebut reindeer liar. Ukuran badan dan bobot mereka bervariasi tergantung jenis kelamin dan usia. Caribou dewasa mencapai tinggi 1 meter dan berat sekitar 170 kilogram untuk yang jantan dan 90 kilogram untuk betina.
Mereka mampu berlari kencang, tetapu tak bisa terbang seperti rusa sinterklas. Caribou bisa berlari dengan kecepatan 80 km/jam. Bila terancam hewan pemangsa, caribou akan berlari dengan kepala dan ekor terangkat. Ia pun mampu melompat dengan sigap.
Caribou adalah hewan yang selalu bergerak. Kawanan hewan ini bisa bergerak hingga 5.000 km dalam setahun, yang menurut IUCN adalah mamalia darat dengan pergerakan paling jauh. Di laut, hewan yang bergerak jauh adalah paus bongkok. Paus ini mampu berenang 8.000 km ke tempat beranak pinak.
Rusa kutub, seperti namanya, adalah hewan yang mampu menahan dingin. Mereka hidup di Alaska, Kanada, Skandinavia, dan Rusia. Kulitnya diselimuti bulu-bulu berongga yang mampu menahan panas. Sistem peredaran darahnya memungkinkan reindeer menjaga suhu darah di kaki tetap rendah dan tidak terpengaruh suhu tubuhnya yang lebih hangat.
Reindeer adalah hewan yang tenang sehingga Sinterklas tak perlu khawatir akan membangunkan anak-anak saat mengunjungi rumah mereka. Reindeer betina hanya mengeluarkan bunyi pada bulan pertama setelah melahirkan, sementara reindeer jantan bersuara hanya saat musim kawin.
Rusa yang menarik kereta sinterklas (bila sesuai dengan gambarannya) semuanya pastilah betina. Alasannya, rusa jantan akan menanggalkan tanduk mereka seusai musim kawin yang jatuh awal Desember. Rusa betina akan tetap bertanduk selama musim dingin. Selain itu, rusa jantan hanya akan menyimpan 5 persen lemak saat Natal tiba. Mereka telah kehilangan banyak lemak saat musim kawin. Sementara itu, rusa betina memiliki lemak tubuh hampir 50 persen yang bisa membuat mereka bertahan di suhu minus 43 derajat celsius.
Read More..
Minggu, 10 Januari 2010
Mengawinkan Banteng dan Sapi

Mengawinkan Banteng dan Sapi
Rabu, 6 Januari 2010 | 06:27 WIB
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Seekor anak banteng jawa (Boas javanicus) berada di tengah kelompok banteng koleksi Taman Safari Indonesia II Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Banteng Indonesia yang lebih tahan terhadap cuaca panas kini diminati Jepang dan akan dikawinkan dengan sapi Jepang sehingga bisa menghasilkan sapi bermutu tinggi yang lebih tahan terhadap pemanasan global.
Sumber : Kompas Cetak
Nawa Tunggal
KOMPAS.com - Banteng Indonesia sudah diimpor Jepang untuk menunjang riset sapi mereka. Banteng liar yang tersebar di sejumlah pulau besar di Indonesia itu diteliti untuk mencari peluang penyilangan terhadap sapi konsumsi Jepang supaya sapi yang dihasilkan di kemudian hari lebih tahan cuaca panas.
Inspirasi ini dipicu gejala peningkatan suhu akibat pemanasan global yang menerpa dan menyebabkan perubahan iklim di Jepang. Usaha kreatif, tidak seperti bangsa kita yang lebih suka berkeluh kesah, seperti tatkala menghadapi kebuntuan dari sebuah Konferensi Kerangka Kerja untuk Perubahan Iklim PBB (UNFCCC), yang berlangsung di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini.
Jepang menyadari betul dampak perubahan iklim. Dan, Jepang hanya membutuhkan kerja keras untuk menghadapi perubahan iklim.
Soal impor banteng dari Indonesia oleh Jepang ini diungkapkan Thomas Darmawan selaku anggota Tim Penilai Riset Unggulan Strategis Nasional (Rusnas) Kementerian Negara Riset dan Teknologi periode 2000-2009 saat paparan hasil Rusnas itu, 30 Desember 2009.
”Impor banteng oleh Jepang itu bukan untuk pertunjukan, tetapi untuk pengembangan industri sapi. Lagi-lagi ini menunjukkan keunggulan Jepang dalam hal riset,” ujar Thomas.
Dalam 100 tahun terakhir kenaikan suhu rata-rata di Jepang, menurut Thomas, dikhawatirkan melampaui empat derajat celsius. Ini dikhawatirkan pula berdampak pada gangguan industri sapi Jepang yang kurang tahan panas.
Secara terpisah, peneliti senior bidang reproduksi ternak pada Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syahruddin Said, mengatakan, sapi Jepang yang disebut wagyu itu memiliki kualitas daging yang tergolong paling baik. Namun, daya tahan ternak sapinya kurang terhadap cuaca panas.
”Banteng sebagai sapi liar dari wilayah tropis seperti Indonesia bisa menjadi paling bagus jika dikawinsilangkan untuk menghasilkan sapi Jepang supaya lebih tahan cuaca panas,” ujar Syahruddin.
Kepala Bidang Biologi Sel dan Jaringan Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Puspita Lisdiyanti menambahkan, rekayasa genetika dengan mengambil gen ketahanan terhadap cuaca panas pada banteng untuk diekspresikan ke dalam tubuh sapi Jepang itu lebih memungkinkan.
”Hasilnya akan jauh lebih cepat untuk menghasilkan turunan sapi Jepang yang lebih tahan cuaca panas,” kata Puspita.
Mastitis
Thomas menyebutkan, agenda Rusnas 2000-2009 belum sepenuhnya bisa disebut sebagai riset unggulan strategis nasional. Produk Rusnas Pengembangan Industri Sapi meliputi tiga hal, yaitu produk kaplet herbal (makanan tambahan untuk kesehatan sapi), kit mastitis subklinis (alat uji kualitas susu sapi perah), dan peranti lunak Srepsi (Sistem Rekording dan Evaluasi Performans Sapi Potong Indonesia).
Hasil riset kaplet herbal statusnya dalam proses paten. Begitu pula kit mastitis subklinisnya sedang dalam proses paten. Adapun peranti lunak Srepsi sudah berjalan penerapannya.
Menurut Thomas, produk Rusnas Pengembangan Industri Sapi itu kurang memenuhi standar. Ia mengambil contoh produk riset kit mastitis subklinis.
”Kit mastitis subklinis sudah ada sejak zaman Belanda. Mengapa riset itu yang diunggulkan?” kata Thomas.
Mastitis merupakan penyakit infeksi paling sering terjadi pada sapi perah. Mastitis merupakan penyebab kerugian ekonomi terbesar bagi peternakan sapi perah di dunia.
”Semestinya riset yang sekelas atau mendekati sama dengan yang dilakukan Jepang,” kata Thomas.
Rp 124 miliar
Menteri Negara Riset dan Teknologi Suharna Surapranata dalam peluncuran buku Rusnas, Riset Unggulan Strategis Nasional dalam Realitas Kurun Waktu 2000-2009 menyebutkan, alokasi dana Rusnas sebesar Rp 124 miliar untuk tiga periode. Periode 2000-2009 meliputi pengembangan buah tropis oleh Pusat Kajian Buah-buahan Tropika Institut Pertanian Bogor (IPB), pengembangan teknologi informatika dan mikroelektronika oleh Pusat Mikroelektronika Institut Teknologi Bandung, serta pengembangan teknologi kelautan-budidaya ikan kerapu oleh BPPT.
Periode 2002-2009 mencakup pengembangan industri kelapa sawit oleh South East Asian Food and Agricultural Science and Technology (Seafast) Center IPB bekerja sama dengan Masyarakat Kelapa Sawit Indonesia (Maksi) Bogor. Diversifikasi pangan pokok oleh Pusat Studi Pangan dan Gizi pada Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat IPB. Pengembangan engine (mesin) aluminium paduan oleh Pusat Teknologi Material BPPT.
Periode 2006-2009 meliputi pengembangan energi baru dan terbarukan oleh Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya, Palembang, dan pengembangan industri sapi oleh Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang.
Deputi Bidang Pengembangan Sistem Iptek Nasional Kementerian Negara Riset dan Teknologi Amin Soebandrio mengatakan, agenda Rusnas sepenuhnya ditetapkan secara top down.
Riset unggulan dengan hasil ala kadarnya tentu bukan hal yang diharapkan. Perubahan iklim, misalnya, semestinya menjadi ladang inspirasi bagi pengembangan riset unggul dan strategis secara nasional.
Read More..
Ahli Jepang Yakini Gempa Besar Akan Terjadi

Ahli Jepang Yakini Gempa Besar Akan Terjadi
Kamis, 7 Januari 2010 | 15:41 WIB
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
BANDUNG, KOMPAS.com - Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi patut menjadi antisipasi, ahli seismologi asal Jepang, Prof. Jim Mori meyakini, gempa besar akan kembali terjadi di Indonesia dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, bahkan ratusan tahun ke depan.
"Itu pasti akan terjadi (lagi), seperti halnya di Jepang," tutur Jim Mori kepada pers di sela-sela acara The 5th Kyoto University Southeast Asia Forum di Kampus ITB, Kamis (7/1/2010).
Tetapi, ketika ditanya kapan waktu pastinya dan di mana tempatnya, Jim hanya tersenyum kecil. Menurut pemateri Can We Opredict The Next Great Earthquake di dalam Conference of the Earth and Space Sciences di ITB ini, sampai dengan sekarang ini, belum ada teknologi yang mampu memprediksi kapan terjadinya gempa secara presisi.
"Dalam hitungan jam atau harian, sayangnya, sekarang ini belum dimungkinkan. Kita baru sanggup melakukan perkiraan dalam hitungan dekade dan ratusan tahun," ujar pakar gempa nomor wahid ini.
Namun, yang unik, menurutnya, beberapa hewan diketahui memiliki indera khusus untuk mendeteksi gempa besar yang akan terjadi. Ini misalnya terbukti ketika beberapa saat menjelang terjadi gempa China tahun lalu. Ribuan katak diketahui keluar dari sarangnya dan naik ke permukaan, memenuhi jalan. Kepada peserta konferensi yang hadir di ITB, ia menunjukkan foto-foto itu.
Rektor Universitas Kyoto Hiroshi Matsumoto menuturkan, beberapa kelompok kecil peneliti memang pernah mengklaim bisa memprediksi kapan gempa terjadi. Namun menurutnya, secara ilmiah itu belum bisa dibuktikan dan didukung. Untuk mencegah korban jiwa akibat gempa, ucapnya, langkah terbaik adalah melalui mitigasi.
Yaitu, dengan membuat sistem peringatan dini yang efektif. Kalau perlu secanggih di Jepang, yaitu kecepatan 10 detik dan diumumkan massal. Kedua, membuat dan memastikan bangunan bisa tahan gempa. "Di Jepang, untuk bangunan baru, ini (bangunan tahan gempa) diwajibkan oleh undang-undang," tuturnya. Read More..
Selasa, 05 Januari 2010
Inilah Cara Bebek Menolak Hubungan Intim

Inilah Cara Bebek Menolak Hubungan Intim
Minggu, 27 Desember 2009 | 09:43 WIB
TPG Images
LIVESCIENCE
KOMPAS.com — Manusia bisa menolak berhubungan intim dengan kata-kata atau sikap. Namun, bagaimana hewan melakukannya? Ini salah satu contohnya: Demi menolak berhubungan seks, sebagian bebek betina telah berevolusi dan mengembangkan "pertahanan" pada organ intimnya untuk menolak penis bebek jantan. Organ bebek tersebut memiliki rongga spiral yang melingkar searah jarum jam, sementara penis bebek melingkar dengan arah berlawanan.
Menurut para peneliti, bila memang sang bebek betina bersedia berhubungan intim, maka ia akan melakukan beberapa trik untuk memudahkan bebek jantan memasukkan penisnya yang berbentuk spiral itu sehingga pembuahan bisa terjadi.
"Pada spesies di mana kopulasi sering terjadi secara paksa, kaum jantannya mengevolusikan penis yang lebih panjang, tapi kaum betinanya juga telah merespons dengan mengevolusi bentuk vagina yang rumit, berspiral atau dengan saluran buntu untuk melawan arah penis kaum jantan tersebut," tutur peneliti Patricia Brennan dari Universitas Yale. "Ko-evolusi ini merupakan hasil konflik antar-jenis kelamin untuk memperebutkan kendali atas pembuahan."
Dalam pertandingan antar-jenis kelamin ini, kaum betina dari jenis bebek Muscovy (Cairina moschata) unggul dari kaum jantannya. Temuan ini dipaparkan dalam edisi 23 Desember majalah Proceedings of the Royal Society B.
Organ kelamin yang janggal
Pada tahun 2007, tim Brennan menggambarkan morfologi yang janggal pada organ kelamin bebek. Umumnya unggas jantan tidak berpenis, tapi memiliki kloaka (celah) untuk memindahkan sperma ke dalam kloaka kaum betinanya. Tapi bebek jantan jenis Muschovy ini bukan saja memiliki penis, tapi penisnya cukup besar dan fleksibel (bahkan ketika ereksi), kira-kira 20 cm panjangnya. Sebagai perbandingan, umumnya penis pria ketika ereksi hanya 15 cm.
Para peneliti telah mengamati bahwa bentuk vagina bebek Muschovy yang melingkar searah jarum jam itu efektif menghambat penetrasi penis bebek jantan sehingga walaupun kopulasi tak terhindarkan, tetapi pembuahan sulit terjadi.
Kaum betina jaya
Jadi bagaimana caranya bebek seperti jenis Muschovy ini berkembang biak?
Bebek jantan harus melakukan ritual pemanasan sebelum kopulasi, dan bila bebek betinanya setuju maka ia akan mengambil posisi sehingga bukaan kloakanya membesar dan saluran di dalamnya berdenyut sehingga penis si jantan bisa masuk sepenuhnya.
Read More..


