Grow with Character! (23/100) Series by Hermawan Kartajaya
Marketing is Everything, Everything is Marketing!
SELAIN aktif di berbagai organisasi nonprofit untuk mengembangkan network, saya juga aktif membantu Pemerintah Daerah Jawa Timur. Sejak bekerja di Sampoerna, berkat Pak Alim Sutrisno yang bos Dharmala, saya jadi kenal Gubernur Jawa Timur waktu itu, Sularso.
Saya sempat beberapa kali ikut kunjungan kerja beliau ke luar negeri mewakili Sampoerna. Di situlah saya sering bertemu dengan berbagai pengusaha yang sering ikut kunjungan gubernur. Mereka sering diajak gubernur keluar negeri untuk dipertemukan dengan pengusaha luar negeri.
Diharapkan, pengusaha luar akan lebih mau investasi di Jawa Timur karena sudah kenal calon partnernya. Jadi, walaupun waktu itu belum ada gerakan besar-besaran untuk menarik investasi, Pak Sularso sudah getol melakukan itu.
Selain itu, saya melihat bagaimana gubernur berusaha menjadi salesman bagi produk-produk Indonesia keluar negeri. Maspion, yang waktu itu sudah ekspor ke berbagai negara, juga ikut mendukung misi gubernur.
Saya masih ingat, setiap keluar negeri, Gubernur Sularso juga getol memasarkan Bromo. Tourism Marketing! Belakangan, saya baru mengerti bahwa yang dilakukan waktu itu kini disebut Place Marketing! Memasarkan suatu kawasan. Bisa negara, provinsi, kota atau bahkan realestat.
Biasanya place marketing memang meliputi TTI Marketing atau trade, tourism, and investment marketing. Memasarkan perdagangan, pariwisata, dan investasi. Sekarang TTI diubah jadi tourism, trade, and investment! Menurut saya itu lebih pas.
Kenapa? Karena tourism paling praktis dan simpel. Turis tidak menanggung risiko ketika mengunjungi suatu tempat. Selanjutnya memang perdagangan, karena risikonya lebih besar. Meyakinkan importer untuk membeli barang dari suatu wilayah tidak gampang. Ada risiko kualitas produk tidak sama dengan sampelnya. Ada risiko penerimaan produk terlambat dari jadwal yang dijanjikan. Ada risiko produk ilegal dan sebagainya!
Yang paling susah pasti investasi atau penanaman modal. Waktu itu, Gubernur Sularso memerintahkan kepada jajaran BKPM untuk memberikan red carpet kepada para investor.
Tapi, itu pun susah, apalagi zaman itu. Pengusaha luar takut peraturan kita berubah-ubah. Takut kalau pekerja Jawa Timur tidak kooperatif dan susah diatur. Belum lagi mereka khawatir akan disiplin kita sehingga produksi tidak lancar atau menghasilkan produk yang kualitasnya tidak standar.
Gubernur Sularso percaya akan Jatim Incorporated atau kerja sama pemerintah dan swasta. Banyak proyek inisiatif pemda yang diminta dikerjakan swasta. Dengan demikian, risiko usahanya pindah ke swasta. Selain itu, tidak usah mengganggu APBD yang tidak besar. Karena itu, saya juga diangkat jadi ketua Yayasan Promosi Pariwisata Jawa Timur. Kerjanya mengoordinasikan semua pemkab dan pemkot untuk memfokuskan upaya pemasaran pariwisata Jawa Timur. Selain itu, saya pernah diangkat jadi wakil ketua Badan Promosi Investasi Jawa Timur. Ketuanya adalah ketua BKPMD Jawa Timur.
Dengan membantu pemda, saya terlibat juga dalam hubungan Sister Province Jatim dan Perfecture Osaka, Jepang. Hubungan kerja sama antardua pemda itu sebenarnya merupakan upaya memasarkan Jatim di Osaka dan memasarkan Osaka di Jatim.
Bagi saya semua hal sebenarnya bisa dilihat dari kaca mata marketing. Bahkan, saya melihat para pengusaha yang ikut rombongan gubernur itu pun me-marketing-kan dirinya. Sebelum memasarkan produk atau perusahaannya, seorang pengusaha biasanya pintar memasarkan diri. Sebagai orang yang siap menjadi partner yang reliable!
Memasarkan diri sebagai partner yang tahu situasi lokal. Yang bisa dipercaya! Yang punya akses ke mana-mana. Yang siap inves juga dan menanggung rugi kalau bisnisnya gagal.
Bahkan, saya masih ingat, ketika itu, bos Maspion Ali Markus selalu membagikan kartu nama yang berlapiskan emas! "This is my Gold Card! I am ready to be your partner". Itulah selalu kata-kata yang diucapkan Pak Alim kalau memulai pidato di depan para pengusaha luar negeri.
Alim Markus selalu membanggakan diri sebagai orang yang bukan lulusan sekolah tinggi, tapi cukup sukses di dunia usaha. Saya bahkan pernah diajak keliling pabriknya dengan disetiri sendiri pakai mobilnya. Sedangkan pengusaha lain kebanyakan tidak pintar pidato, tapi pintar "memasarkan" diri lewat cara lain.
Memang, seperti kata sebuah buku: "Marketing is everything, everything is marketing". Produk, jasa, wilayah, pariwisata, perdagangan, investasi, orang, bahkan ide bisa di-marketing-kan. Seolah ada "benang merah" di antara semua itu.
Pengalaman saya membantu pemda memberikan banyak pencerahan tentang marketing yang akhirnya makin membulatkan tekad saya untuk membuat konsep marketing sendiri. Terutama setelah melihat banyak kasus yang berbagai macam. Bukan hanya marketing yang ada di perusahaan. (*)
Read More..
Kamis, 11 Februari 2010
Rabu, 10 Februari 2010
Success Breeds Confidence, Not The Other Way Round!
Grow with Character! (22/100) Series by Hermawan Kartajaya
Success Breeds Confidence, Not The Other Way Round!
SETELAH beberapa bulan berkeliling untuk memberikan pelatihan di Sampoerna, mulai ada beberapa permintaan. Memang selalu begitu kan? Sebuah restoran yang sepi malah dijauhi orang, walaupun makanannya enak.Tapi, kalau sebuah restoran mulai ramai, pengunjung akan makin ramai! Walaupun, mungkin rasanya biasa-biasa saja!
Itu yang namanya halo effect. Seolah-olah ada customer yang menyapa hello kepada customer lain. Kepercayaan Sampoerna kepada eks direkturnya memberikan kontrak selama setahun membawa dampak positif. Beberapa permintaan berbicara dari perusahaan teman-teman mulai ada.
Harga? Terserah! Seadanya budget! Tapi, setiap kesempatan berbicara, berapa pun bayarannya, saya pakai sebagai laboratorium. Saya selalu mempersiapkan diri baik-baik. Bukan cuma materi, melainkan juga penyesuaian materi tersebut kepada peserta. Undangan untuk berbicara di seminar publik pun mulai datang. Biasanya, malah gak dibayar!
Panitia sengaja mengundang para pembicara ''junior'' supaya mendapatkan gratisan. Paling ada satu pembicara utama yang dibayar dengan benar.
Ini pun saya laksanakan dengan sungguh-sungguh. Peserta seminar selalu saya anggap sebagai customer yang harus dipuaskan. Sedangkan pembicara lain di suatu seminar yang sama selalu saya anggap competitor.
Dengan demikian, saya menjalankan konsep dasar marketing itu sendiri. Yaitu, berusaha mengalahkan competitor dengan cara lebih memuaskan customer! Bukan dengan cara ''menjegal'' atau menjelek-jelekan competitor. Itu disebut black campaign dan biasanya tidak bisa sustainable karena customer akhirnya akan ''nek''!
Malah, customer bisa simpatik kepada competitor yang berada pada posisi ''terzalimi''. Pelayanan pada beberapa customer ini akhirnya menemukan saya dengan Pak Unang, mantan eksekutif Auto 2000 yang waktu itu bekerja untuk Edward Suryajaya.
Pak Edward waktu itu menggebu dengan Summa Group yang masuk ke berbagai bidang. Antara lain, proyek Jembatan Suramadu! Kantornya besar sekali di kawasan Plasa Surabaya sekarang, yang dulu bernama Delta Plaza. Saya diajak Pak Unang berkantor gratis di situ, dengan syarat membantu proyek perkebunan model ''inti-plasma'' di daerah Malang.
Proyek itu juga milik Pak Edward yang berpartner dengan orang lain dengan mimpi mewujudkan suatu kawasan agrowisata.
Pak Unang kayak ''dikirim'' Tuhan kepada saya karena dialah yang menjamin saya kepada Pak Budi, partner Pak Edward, bahwa saya bisa menjadi advisor pemasaran proyek itu! Jadi, di luar training untuk Sampoerna, saya sudah punya satu klien. Saya malah dikasih kantor dan mobil dinas Toyota Crown Saloon!
Saya tidak pernah menduga bahwa saya bisa balik lagi naik Saloon, walaupun masih punya Corolla cicilan sebagai mobil kedua. Di situ pula, saya mulai ''berani'' mempunyai karyawan pertama. Watty, mantan sekretaris di PT SIER Rungkut, ternyata mau ikut saya.
Saya bersyukur sekali mengenal dia, sejak di Sampoerna dulu karena tempat pertemuan rutin Rotary Club Surabaya Rungkut berada di gedung PT SIER. Divisi distribusi yang saya pimpin juga pernah berlokasi di situ.
Tanpa disangka, Watty si gadis Minang yang berjiwa entrepreneur mau bekerja untuk saya karena ingin tahu entrepreneurship saya. Watty memang tidak terlalu lama bekerja. Setelah menikah dengan orang Surabaya yang karyawan BRI, dia banyak buka usaha sendiri. Sampai sekarang, saya masih bertemu dengan Watty dan suaminya yang sudah menjadi kepala regional BRI di Jakarta. Kami sering ketawa-ketawa mengenang masa lalu. ''Saya bersyukur, berani keluar dari PT SIER untuk belajar dari Pak Hermawan untuk menjadi entrepreneur,'' katanya!
Ketika saya keliling ke kota lain, Watty ''jaga gawang'' untuk mengatur jadwal dan ''menjual'' saya lewat telepon. Maklum, kenalannya banyak dari PT SIER dulu. Omzet saya mulai naik dan harga pun mulai lumayan!
Rasa percaya diri pun mulai naik !
Saya jadi ingat kata-kata Al Ries dan Jack Trout dalam salah satu buku mereka. ''It is not confidence that makes you success, but success that makes you confidence!'' Itu sangat benar. Percuma saja punya rasa percaya diri yang besar, tapi tidak sukses !Lebih penting meraih sukses kecil lebih dulu untuk menimbulkan rasa percaya diri! Selanjutnya, sukses yang satu biasanya akan membawa confidence dan sukses lebih besar lainnya.
Itu saya alami sendiri! (*)
Read More..
Success Breeds Confidence, Not The Other Way Round!
SETELAH beberapa bulan berkeliling untuk memberikan pelatihan di Sampoerna, mulai ada beberapa permintaan. Memang selalu begitu kan? Sebuah restoran yang sepi malah dijauhi orang, walaupun makanannya enak.Tapi, kalau sebuah restoran mulai ramai, pengunjung akan makin ramai! Walaupun, mungkin rasanya biasa-biasa saja!
Itu yang namanya halo effect. Seolah-olah ada customer yang menyapa hello kepada customer lain. Kepercayaan Sampoerna kepada eks direkturnya memberikan kontrak selama setahun membawa dampak positif. Beberapa permintaan berbicara dari perusahaan teman-teman mulai ada.
Harga? Terserah! Seadanya budget! Tapi, setiap kesempatan berbicara, berapa pun bayarannya, saya pakai sebagai laboratorium. Saya selalu mempersiapkan diri baik-baik. Bukan cuma materi, melainkan juga penyesuaian materi tersebut kepada peserta. Undangan untuk berbicara di seminar publik pun mulai datang. Biasanya, malah gak dibayar!
Panitia sengaja mengundang para pembicara ''junior'' supaya mendapatkan gratisan. Paling ada satu pembicara utama yang dibayar dengan benar.
Ini pun saya laksanakan dengan sungguh-sungguh. Peserta seminar selalu saya anggap sebagai customer yang harus dipuaskan. Sedangkan pembicara lain di suatu seminar yang sama selalu saya anggap competitor.
Dengan demikian, saya menjalankan konsep dasar marketing itu sendiri. Yaitu, berusaha mengalahkan competitor dengan cara lebih memuaskan customer! Bukan dengan cara ''menjegal'' atau menjelek-jelekan competitor. Itu disebut black campaign dan biasanya tidak bisa sustainable karena customer akhirnya akan ''nek''!
Malah, customer bisa simpatik kepada competitor yang berada pada posisi ''terzalimi''. Pelayanan pada beberapa customer ini akhirnya menemukan saya dengan Pak Unang, mantan eksekutif Auto 2000 yang waktu itu bekerja untuk Edward Suryajaya.
Pak Edward waktu itu menggebu dengan Summa Group yang masuk ke berbagai bidang. Antara lain, proyek Jembatan Suramadu! Kantornya besar sekali di kawasan Plasa Surabaya sekarang, yang dulu bernama Delta Plaza. Saya diajak Pak Unang berkantor gratis di situ, dengan syarat membantu proyek perkebunan model ''inti-plasma'' di daerah Malang.
Proyek itu juga milik Pak Edward yang berpartner dengan orang lain dengan mimpi mewujudkan suatu kawasan agrowisata.
Pak Unang kayak ''dikirim'' Tuhan kepada saya karena dialah yang menjamin saya kepada Pak Budi, partner Pak Edward, bahwa saya bisa menjadi advisor pemasaran proyek itu! Jadi, di luar training untuk Sampoerna, saya sudah punya satu klien. Saya malah dikasih kantor dan mobil dinas Toyota Crown Saloon!
Saya tidak pernah menduga bahwa saya bisa balik lagi naik Saloon, walaupun masih punya Corolla cicilan sebagai mobil kedua. Di situ pula, saya mulai ''berani'' mempunyai karyawan pertama. Watty, mantan sekretaris di PT SIER Rungkut, ternyata mau ikut saya.
Saya bersyukur sekali mengenal dia, sejak di Sampoerna dulu karena tempat pertemuan rutin Rotary Club Surabaya Rungkut berada di gedung PT SIER. Divisi distribusi yang saya pimpin juga pernah berlokasi di situ.
Tanpa disangka, Watty si gadis Minang yang berjiwa entrepreneur mau bekerja untuk saya karena ingin tahu entrepreneurship saya. Watty memang tidak terlalu lama bekerja. Setelah menikah dengan orang Surabaya yang karyawan BRI, dia banyak buka usaha sendiri. Sampai sekarang, saya masih bertemu dengan Watty dan suaminya yang sudah menjadi kepala regional BRI di Jakarta. Kami sering ketawa-ketawa mengenang masa lalu. ''Saya bersyukur, berani keluar dari PT SIER untuk belajar dari Pak Hermawan untuk menjadi entrepreneur,'' katanya!
Ketika saya keliling ke kota lain, Watty ''jaga gawang'' untuk mengatur jadwal dan ''menjual'' saya lewat telepon. Maklum, kenalannya banyak dari PT SIER dulu. Omzet saya mulai naik dan harga pun mulai lumayan!
Rasa percaya diri pun mulai naik !
Saya jadi ingat kata-kata Al Ries dan Jack Trout dalam salah satu buku mereka. ''It is not confidence that makes you success, but success that makes you confidence!'' Itu sangat benar. Percuma saja punya rasa percaya diri yang besar, tapi tidak sukses !Lebih penting meraih sukses kecil lebih dulu untuk menimbulkan rasa percaya diri! Selanjutnya, sukses yang satu biasanya akan membawa confidence dan sukses lebih besar lainnya.
Itu saya alami sendiri! (*)
Read More..
Selasa, 09 Februari 2010
Network untuk Terobosan Vertikal
Grow with Character! (21/100) Series by Hermawan Kartajaya
Network untuk Terobosan Vertikal
TAHUN pertama MarkPlus Professional Service bisa dilalui dengan tenang berkat adanya job "pelaris" dari Sampoerna. Saya menggunakan "masa tenang" itu untuk memperluas network, dengan berusaha aktif di organisasi nonprofit sebanyak mungkin. Yang relevan tentu saja.
Rotary Club (RC) penting, karena di situlah berkumpul orang-orang "kelas atas". Karena itulah, saya pun mengambil inisiatif untuk membentuk Rotary Club Surabaya Metropolitan. Saya nekat saja jadi chartered president, artinya ketua pendiri.
Saya perlu setengah tahun untuk persiapan sebuah RC baru sebagai "anak" dari RC Surabaya Rungkut. Waktu di Rungkut, saya sempat diberi Paul Harris Fellow Medal oleh teman-teman di sana. Mungkin karena dianggap menghasilkan profit waktu berseminar dengan Pak Ciputra. Karena itu pula, teman-teman jadi percaya ketika saya ingin mendirikan sebuah RC baru.
Kesukaan saya berorganisasi sejak kecil cukup menunjang pada waktu mempersiapkan sebuah RC baru. Tempat pertemuan saya tentukan di Heritage Club, sebuah klub eksekutif "termahal" ketika itu. Ini supaya jadi elite dan berbeda dari yang lain. Saya pun mengundang banyak teman dari perusahaan besar, juga konjen Amerika di Surabaya sebagai chartered members atau anggota pendiri.
Benar-benar capai, sebenarnya bekerja sebagai President RC baru selama setahun. Tapi cukup lega, karena bisa membidani sebuah RC baru. Ketika akhirnya pindah ke Jakarta, saya tidak mampu lagi aktif di RC yang punya meeting mingguan itu. Tapi, sekarang saya bersyukur bahwa teman-teman saya, walaupun tidak banyak, masih mempertahankan aktivitas RC Surabaya Metropolitan. Bahkan, pada saat ini, Governor RC Indonesia berasal dari RC Surabaya Metropolitan.
Selain RC, saya ikut mendirikan AMA Indonesia atau Asosiasi Manager Indonesia bersama teman Jakarta. Ini sempalan IMC atau Indonesia Manager Club. Ketika jadi ketua AMA Surabaya, saya berhasil membuat organisasi ini punya anggota sampai 400 orang dengan pertemuan rutin bulanan.
Usaha ber-network tidak cukup sampai di situ. Saya pun membantu Yayasan Bhakti Persatuan semacam Yayasan Prasetya Mulia di Jakarta. Tempat berkumpulnya bos-bos besar di Surabaya. Di sinilah saya bertemu dengan Alim Markus bos Maspion, Herman Djuhar bos Bogasari, Willy Walla bos Wismilak, Alim Sutrisno bos Dharmala, dan lain-lain. Saya menyediakan diri jadi sekretaris untuk aktivitas yayasan.
Terus terang, tidak mudah buat orang seperti saya, sebagai eks profesional yang baru buka "warung sendiri", berkumpul dengan the real boss. Harus menahan perasaan, kadang-kadang. Maklum, tingkatan strata saya "di bawah" bos-bos itu.
Kartu nama MarkPlus dengan logo sembilan huruf yang saya pikir membawa rezeki itu ternyata tidak berarti apa-apa. Saya tahu diri, karena itu nggak berani menulis jabatan apa pun. Toh percuma, kalau ditulis direktur atau President Director atau bahkan CEO! Bisa-bisa diketawain orang.
Namun, semuanya harus dijalani dengan semangat membaja. Kalau sudah merasa "tersinggung", saya jadi ingat Pak Dahlan Iskan yang nggak pernah minder kepada siapa pun sejak pertama. Kalau mulai agak loyo, saya ingat cerita Pak Ciputra yang berani "menantang" gubernur DKI untuk bikin proyek Ancol, walaupun baru lulus dari ITB. Itulah perlunya Anda punya "role model" yang terdiri atas orang-orang yang benar!
Di Rotary Club saya ber-network dengan sistem "kelas dunia". Di AMA Indonesia saya ber-network sambil terus meningkatkan kreativitas berorganisasi. Sedangkan di Yayasan Bhakti Persatuan, saya ber-network untuk mengerti jalan pikiran the real boss. Semua itu saya perlukan untuk terus membangun MarkPlus yang masih one man show waktu itu.
Pelajarannya? Network, network, dan network!
Untuk apa? Melakukan terobosan vertikal! (*)
Read More..
Network untuk Terobosan Vertikal
TAHUN pertama MarkPlus Professional Service bisa dilalui dengan tenang berkat adanya job "pelaris" dari Sampoerna. Saya menggunakan "masa tenang" itu untuk memperluas network, dengan berusaha aktif di organisasi nonprofit sebanyak mungkin. Yang relevan tentu saja.
Rotary Club (RC) penting, karena di situlah berkumpul orang-orang "kelas atas". Karena itulah, saya pun mengambil inisiatif untuk membentuk Rotary Club Surabaya Metropolitan. Saya nekat saja jadi chartered president, artinya ketua pendiri.
Saya perlu setengah tahun untuk persiapan sebuah RC baru sebagai "anak" dari RC Surabaya Rungkut. Waktu di Rungkut, saya sempat diberi Paul Harris Fellow Medal oleh teman-teman di sana. Mungkin karena dianggap menghasilkan profit waktu berseminar dengan Pak Ciputra. Karena itu pula, teman-teman jadi percaya ketika saya ingin mendirikan sebuah RC baru.
Kesukaan saya berorganisasi sejak kecil cukup menunjang pada waktu mempersiapkan sebuah RC baru. Tempat pertemuan saya tentukan di Heritage Club, sebuah klub eksekutif "termahal" ketika itu. Ini supaya jadi elite dan berbeda dari yang lain. Saya pun mengundang banyak teman dari perusahaan besar, juga konjen Amerika di Surabaya sebagai chartered members atau anggota pendiri.
Benar-benar capai, sebenarnya bekerja sebagai President RC baru selama setahun. Tapi cukup lega, karena bisa membidani sebuah RC baru. Ketika akhirnya pindah ke Jakarta, saya tidak mampu lagi aktif di RC yang punya meeting mingguan itu. Tapi, sekarang saya bersyukur bahwa teman-teman saya, walaupun tidak banyak, masih mempertahankan aktivitas RC Surabaya Metropolitan. Bahkan, pada saat ini, Governor RC Indonesia berasal dari RC Surabaya Metropolitan.
Selain RC, saya ikut mendirikan AMA Indonesia atau Asosiasi Manager Indonesia bersama teman Jakarta. Ini sempalan IMC atau Indonesia Manager Club. Ketika jadi ketua AMA Surabaya, saya berhasil membuat organisasi ini punya anggota sampai 400 orang dengan pertemuan rutin bulanan.
Usaha ber-network tidak cukup sampai di situ. Saya pun membantu Yayasan Bhakti Persatuan semacam Yayasan Prasetya Mulia di Jakarta. Tempat berkumpulnya bos-bos besar di Surabaya. Di sinilah saya bertemu dengan Alim Markus bos Maspion, Herman Djuhar bos Bogasari, Willy Walla bos Wismilak, Alim Sutrisno bos Dharmala, dan lain-lain. Saya menyediakan diri jadi sekretaris untuk aktivitas yayasan.
Terus terang, tidak mudah buat orang seperti saya, sebagai eks profesional yang baru buka "warung sendiri", berkumpul dengan the real boss. Harus menahan perasaan, kadang-kadang. Maklum, tingkatan strata saya "di bawah" bos-bos itu.
Kartu nama MarkPlus dengan logo sembilan huruf yang saya pikir membawa rezeki itu ternyata tidak berarti apa-apa. Saya tahu diri, karena itu nggak berani menulis jabatan apa pun. Toh percuma, kalau ditulis direktur atau President Director atau bahkan CEO! Bisa-bisa diketawain orang.
Namun, semuanya harus dijalani dengan semangat membaja. Kalau sudah merasa "tersinggung", saya jadi ingat Pak Dahlan Iskan yang nggak pernah minder kepada siapa pun sejak pertama. Kalau mulai agak loyo, saya ingat cerita Pak Ciputra yang berani "menantang" gubernur DKI untuk bikin proyek Ancol, walaupun baru lulus dari ITB. Itulah perlunya Anda punya "role model" yang terdiri atas orang-orang yang benar!
Di Rotary Club saya ber-network dengan sistem "kelas dunia". Di AMA Indonesia saya ber-network sambil terus meningkatkan kreativitas berorganisasi. Sedangkan di Yayasan Bhakti Persatuan, saya ber-network untuk mengerti jalan pikiran the real boss. Semua itu saya perlukan untuk terus membangun MarkPlus yang masih one man show waktu itu.
Pelajarannya? Network, network, dan network!
Untuk apa? Melakukan terobosan vertikal! (*)
Read More..
Senin, 08 Februari 2010
Mereposisi Diri pada Situasi Berbeda
Grow with Character (20/100) Series by Hermawan Kartajaya
Mereposisi Diri pada Situasi Berbeda
WALAUPUN hanya mendapatkan job untuk memberikan pelatihan kepada mantan anak buah di divisi distribusi Sampoerna, itu sudah cukup bagus. Saat menangani job itu, selama setahun saya harus keliling Indonesia, mengunjungi seluruh region yang dulu saya buat strukturnya.
Saya tahu persis apa yang mereka sudah tahu dan jago. Dan, apa lagi yang sebenarnya mereka butuhkan. Mereka adalah para "jago lapangan", mulai tingkat salesman, supervisor, hingga manajer.
Mereka tahu persis bagaimana menjalankan pengecekan stok langganan sambil menawarkan barang untuk diorder. Mereka juga sudah terbiasa memasang merchandise seperti poster, stiker, dan alat-alat promosi lain di retailer. Mereka juga jeli melihat perkembangan promosi para pesaing. Selain itu, mereka cekatan untuk bertanya dan mencatat omzet berbagai merek besar untuk perkiraan market share. Itu yang dikerjakan para salesman.
Para supervisor sudah pintar merancang rute-rute kanvas yang akan dijalankan salesman. Supervisor juga sudah hebat dalam mengawasi kerja salesman dan laporannya. Karena sebagian besar berasal dari salesman, para supervisor segera tahu kalau melihat ada laporan yang "dikarang". Mereka juga mengawasi produktivitas salesman dan menghitung pencapaian target penjualan areanya. Supervisor juga tahu cara melaksanakan kegiatan below the line di area masing-masing. Para supervisor yang biasanya sudah lama di lapangan ini, punya market sensing yang kuat.
Sedangkan para manajer wilayah atau region lebih berpengalaman lagi. Mereka hebat dalam merancang dan menjalankan time and territory management. Mereka bertanggung jawab terhadap omzet region di bawah kendalinya. Mereka juga bertanggung jawab terhadap logistik dan inventory yang dibutuhkan dari waktu ke waktu. Mereka juga sudah jadi human resources manager di wilayahnya. Mereka harus tahu bagaimana menjalankan policy perusahaan di wilayah masing-masing.
Mereka juga harus bisa memberikan motivasi kepada bawahannya yang lagi kurang bergairah. Tapi, mereka juga harus berani menegakkan disiplin dan memberikan evaluasi atas bawahannya. Lantas? Apalagi yang harus saya latihkan kepada mereka?
Jawabnya, saya harus bisa "mengisi" yang kurang dari mereka! Karena itu, saya memberikan pelatihan yang bersifat "strategic". Semua yang dilakukan selama ini adalah "tactical" dan "rutin". Nah, yang saya berikan adalah cara berpikir "strategic", baik dalam penjualan, penyediaan, dan manajemen.
Saya jaring mereka untuk melihat pasar dari "atas". Saya katakan bahwa kelebihan orang yang biasa ada di pasar adalah dengan cepat bisa melihat apa yang terjadi. Tapi, karena sibuk dengan operasional sehari-hari, biasanya lemah dalam melihat big picture.
Seorang salesman yang "strategic", misalnya. Dia bisa tahu bahwa kayaknya mulai sulit menjual produk tertentu. Dia tidak hanya mengecek dan mencatat angka-angka, tapi juga belajar menganalisis. Mereka harus mampu mulai mencari apa kira-kira penyebab makin sulitnya berjualan produk tertentu itu. Kemudian mereka menulis dalam laporannya kepada supervisor. Mereka juga harus mampu "menguasai" sejumlah langganan tetap yang diserahkan kepadanya. Melaporkan pada supervisor, langganan mana yang mulai "malas" berjualan atau bahkan "akan bangkrut".
Supervisor juga harus mampu berpikir "strategic" untuk area masing-masing. Bukan cuma menjadi "kantor pos" untuk meneruskan laporan dari salesman ke manajer. Atau meneruskan instruksi manajer ke salesman. Supervisor harus bisa "mengolah" laporan para salesman menjadi suatu kesimpulan komprehensif.
Supervisor juga saya ajari menganalisis kegiatan para pesaing, baik dalam above maupun below the line di areanya. Dia tidak boleh percaya begitu saja pada laporan salesman. Dia harus bisa turun ke rute salesman untuk mengecek dan mencari kebenaran akan sense-nya.
Sedangkan para manajer, saya ajari menjadi "marketing manager kecil". Walaupun mereka resminya cuma bertanggung jawab atas distribusi, ternyata mereka bangga kalau bisa mengerti "perang marketing" di wilayah masing-masing.
Saya katakan kepada mereka bahwa seseorang, apa pun jabatannya, punya tiga tugas. Pertama, menguasai pekerjaan dan menyempurnakan pekerjaan masing-masing. Kedua, mempersiapkan diri untuk jabatan yang lebih tinggi dengan menambah pengetahuan baru. Ketiga, menyiapkan pengganti untuk dirinya bila kelak dipromosi.
Nah, dengan cara seperti itu, akhirnya saya "diterima" oleh mantan anak buah saya. Mereka merasakan ada sesuatu yang "berbeda" dari ajaran saya sebagai pelatih ketimbang waktu sebagai bos mereka.
Memang benar kan? Waktu saya jadi bos, saya terpaksa menjalankan hubungan vertikal "atas bawah". Memberikan instruksi, mengawasi, dan mengevaluasi pekerjaan mereka. Ada yang suka, ada yang tidak suka. Nah, sebagai trainer, saya sudah di "pinggir lapangan" dan menempatkan diri untuk "mendukung" mereka.
Dengan kata yang lebih keren, saya harus mereposisi diri kalau mau sukses sebagai trainer. Dari vertikal ke horizontal. Dari "orang dalam" jadi "orang luar''. Dari "pengawas" jadi "pelatih". Wow! Terus terang tidak gampang. Tapi, terus terang, di situlah saya menyadari bahwa sebenarnya saya sudah harus melakukan fungsi sebagai trainer juga waktu masih jadi manajer! Mendidik mereka untuk berpikir "strategic", apa pun posisi mereka. Tidak ada jabatan yang terlalu rendah untuk berpikir strategic! Pelajaran dari semua ini?
To be successful, you must be able to reposition yourself in different situations. Jadilah air yang bisa selalu berubah bentuk mengikuti tempatnya. (*)
Read More..
Mereposisi Diri pada Situasi Berbeda
WALAUPUN hanya mendapatkan job untuk memberikan pelatihan kepada mantan anak buah di divisi distribusi Sampoerna, itu sudah cukup bagus. Saat menangani job itu, selama setahun saya harus keliling Indonesia, mengunjungi seluruh region yang dulu saya buat strukturnya.
Saya tahu persis apa yang mereka sudah tahu dan jago. Dan, apa lagi yang sebenarnya mereka butuhkan. Mereka adalah para "jago lapangan", mulai tingkat salesman, supervisor, hingga manajer.
Mereka tahu persis bagaimana menjalankan pengecekan stok langganan sambil menawarkan barang untuk diorder. Mereka juga sudah terbiasa memasang merchandise seperti poster, stiker, dan alat-alat promosi lain di retailer. Mereka juga jeli melihat perkembangan promosi para pesaing. Selain itu, mereka cekatan untuk bertanya dan mencatat omzet berbagai merek besar untuk perkiraan market share. Itu yang dikerjakan para salesman.
Para supervisor sudah pintar merancang rute-rute kanvas yang akan dijalankan salesman. Supervisor juga sudah hebat dalam mengawasi kerja salesman dan laporannya. Karena sebagian besar berasal dari salesman, para supervisor segera tahu kalau melihat ada laporan yang "dikarang". Mereka juga mengawasi produktivitas salesman dan menghitung pencapaian target penjualan areanya. Supervisor juga tahu cara melaksanakan kegiatan below the line di area masing-masing. Para supervisor yang biasanya sudah lama di lapangan ini, punya market sensing yang kuat.
Sedangkan para manajer wilayah atau region lebih berpengalaman lagi. Mereka hebat dalam merancang dan menjalankan time and territory management. Mereka bertanggung jawab terhadap omzet region di bawah kendalinya. Mereka juga bertanggung jawab terhadap logistik dan inventory yang dibutuhkan dari waktu ke waktu. Mereka juga sudah jadi human resources manager di wilayahnya. Mereka harus tahu bagaimana menjalankan policy perusahaan di wilayah masing-masing.
Mereka juga harus bisa memberikan motivasi kepada bawahannya yang lagi kurang bergairah. Tapi, mereka juga harus berani menegakkan disiplin dan memberikan evaluasi atas bawahannya. Lantas? Apalagi yang harus saya latihkan kepada mereka?
Jawabnya, saya harus bisa "mengisi" yang kurang dari mereka! Karena itu, saya memberikan pelatihan yang bersifat "strategic". Semua yang dilakukan selama ini adalah "tactical" dan "rutin". Nah, yang saya berikan adalah cara berpikir "strategic", baik dalam penjualan, penyediaan, dan manajemen.
Saya jaring mereka untuk melihat pasar dari "atas". Saya katakan bahwa kelebihan orang yang biasa ada di pasar adalah dengan cepat bisa melihat apa yang terjadi. Tapi, karena sibuk dengan operasional sehari-hari, biasanya lemah dalam melihat big picture.
Seorang salesman yang "strategic", misalnya. Dia bisa tahu bahwa kayaknya mulai sulit menjual produk tertentu. Dia tidak hanya mengecek dan mencatat angka-angka, tapi juga belajar menganalisis. Mereka harus mampu mulai mencari apa kira-kira penyebab makin sulitnya berjualan produk tertentu itu. Kemudian mereka menulis dalam laporannya kepada supervisor. Mereka juga harus mampu "menguasai" sejumlah langganan tetap yang diserahkan kepadanya. Melaporkan pada supervisor, langganan mana yang mulai "malas" berjualan atau bahkan "akan bangkrut".
Supervisor juga harus mampu berpikir "strategic" untuk area masing-masing. Bukan cuma menjadi "kantor pos" untuk meneruskan laporan dari salesman ke manajer. Atau meneruskan instruksi manajer ke salesman. Supervisor harus bisa "mengolah" laporan para salesman menjadi suatu kesimpulan komprehensif.
Supervisor juga saya ajari menganalisis kegiatan para pesaing, baik dalam above maupun below the line di areanya. Dia tidak boleh percaya begitu saja pada laporan salesman. Dia harus bisa turun ke rute salesman untuk mengecek dan mencari kebenaran akan sense-nya.
Sedangkan para manajer, saya ajari menjadi "marketing manager kecil". Walaupun mereka resminya cuma bertanggung jawab atas distribusi, ternyata mereka bangga kalau bisa mengerti "perang marketing" di wilayah masing-masing.
Saya katakan kepada mereka bahwa seseorang, apa pun jabatannya, punya tiga tugas. Pertama, menguasai pekerjaan dan menyempurnakan pekerjaan masing-masing. Kedua, mempersiapkan diri untuk jabatan yang lebih tinggi dengan menambah pengetahuan baru. Ketiga, menyiapkan pengganti untuk dirinya bila kelak dipromosi.
Nah, dengan cara seperti itu, akhirnya saya "diterima" oleh mantan anak buah saya. Mereka merasakan ada sesuatu yang "berbeda" dari ajaran saya sebagai pelatih ketimbang waktu sebagai bos mereka.
Memang benar kan? Waktu saya jadi bos, saya terpaksa menjalankan hubungan vertikal "atas bawah". Memberikan instruksi, mengawasi, dan mengevaluasi pekerjaan mereka. Ada yang suka, ada yang tidak suka. Nah, sebagai trainer, saya sudah di "pinggir lapangan" dan menempatkan diri untuk "mendukung" mereka.
Dengan kata yang lebih keren, saya harus mereposisi diri kalau mau sukses sebagai trainer. Dari vertikal ke horizontal. Dari "orang dalam" jadi "orang luar''. Dari "pengawas" jadi "pelatih". Wow! Terus terang tidak gampang. Tapi, terus terang, di situlah saya menyadari bahwa sebenarnya saya sudah harus melakukan fungsi sebagai trainer juga waktu masih jadi manajer! Mendidik mereka untuk berpikir "strategic", apa pun posisi mereka. Tidak ada jabatan yang terlalu rendah untuk berpikir strategic! Pelajaran dari semua ini?
To be successful, you must be able to reposition yourself in different situations. Jadilah air yang bisa selalu berubah bentuk mengikuti tempatnya. (*)
Read More..
Minggu, 07 Februari 2010
Sejarah Perkembangan Kopi


Sejarah Perkembangan Kopi
by:Azis Rifianto
Asal Usul Kopi
Tidak ada bukti nyata yang menunjukkan kapan atau bagaimana sesungguhnya kopi pertama kali ditemukan. Meskipun demikian, kopi memiliki legenda yang cukup banyak, beberapa sumber mengatakan bahwa kopi sudah dikonsumsi pada sekitar 900 sebelum masehi.
Legenda Kopi
Banyak legenda kopi yang mewarnai asal-usul penanaman kopi. Beberapa pihak meyakini bahwa kopi yang kita kenal pertama kali ditemukan pada abad ke-3, ketika pengembala kambing asal Etopia yang biasa disebut Kaldi, mencoba memperhatikan kumpulan kambingnya bertingkah seperti layaknya anak kecil setelah mereka makan biji kopi merah. Pengembala kambing tersebut membagi pengalamannya kepada kepala biara pria, yang kemudian melakukan pengujian terhadap kekuatan yang ada pada biji kopi tersebut.
Kepala biara tersebut menuangkan air mendidih pada biji kopi yang telah dikumpulkan dan menciptakan sebuah minuman yang membuatnya tetap terjaga selama lebih dari beberapa jam ketika melakukan doa. Namun ada yang mengatakan sejarah kopi ini berawal dari Abessynia juga, tapi lain cerita, di mana Ali al-Shadili yang gemar meminum sari biji kopi untuk membuatnya tetap terjaga demi menjalankan shalat malam. Dari sinilah akhirnya khasiat kopi menyebar sebagai minuman penghilang kantuk.
Meskipun terdapat banyak legenda yang menjelaskan tentang asal-usul kopi, namun penemuan kopi masih merupakan sebuah misteri.
Asal-usul Kopi Arabika
Kopi arabika (Coffea arabica) tumbuh di daerah dengan ketinggian 700-1700 m dpl, suhu 16-20 ° C, beriklim kering 3 bulan/tahun secara berturut-turut. Kopi arabika peka terhadap penyakit HV, terutama bila ditanam di daerah kurang dari 500 dpl. Terlepas dari legenda, kita mengetahui bahwa penananaman komersil kopi pertamakali dilakukan di Arab pada abad ke-15. Untuk jangka waktu yang lama, perdagangan komoditi yang berkelas tersebut dijaga dengan sangat ketat, para petani Arab berusaha dengan berbagai cara untuk menghentikan negara lain memperoleh biji kopi mereka yang berharga. Sejalan dengan waktu, biji kopi serta potongan tanaman tersebar ke daerah Aden, Egypt, Suria serta Turki di mana kopi terkenal sebagai "anggur arab"
Dari Arab hingga ke Seluruh Dunia
Tidak lama, kedai kopi dibuka di setiap kota di sekitar wilayah bagian timur. Kemudian, pengiriman biji kopi untuk yang pertama kali tiba di Eropa dan popularitas kopi menyebar seperti api liar. Hingga pada akhir abad ke 17, kedai-kedai kopi tersebut menyebar sampai ke Austria, Prancis, Jerman, Belanda serta Inggris.
Belanda mulai menanam kopi di daerah Timur Jauh, sementara Inggris dan Prancis menyusul dengan memperkenalkan kopi kepada koloni-koloni mereka. Di Amerika, popularitas kopi berkembang setelah peristiwa 'Boston Tea Party' yang terkenal, pada saat rakyat Amerika bangkit menentang penetapan pajak yang tinggi atas teh oleh Raja George dari Inggris.
Pada abad ke-18, misionaris (utusan), para pedagang serta kolonis memperkenalkan kopi pada Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Lingkungan alamnya yang alami terbukti merupakan tempat yang tepat untuk bertanam kopi, sehingga kopi dapat tumbuh menyebar dengan cepat. Pada akhir tahun 1800an yang lalu, kopi menjadi salah satu hasil panen ekspor utama di dunia, terutama untuk negara-negara berkembang.
Kopi Saat Ini
Saat ini, kopi merupakan salah satu komoditi perdagangan terbesar di dunia yang kedua setelah minyak. Perdagangan kopi bernilai lebih dari $12 miliar dolar setiap tahun, terutama antara negara-negara berkembang tempat di mana kopi tersebut diproduksi dan dengan negara-negara industri, tempat di mana kopi tersebut dikonsumsi.
Harga kopi terus berfluktuasi tajam. Sebagai komoditi pertanian, kopi mengalami variasi dalam pengadaannya yang disebabkan oleh adanya kondisi lingkungan yang berubah. Sebagian besar hasil panen kopi di dunia diproduksi di Amerika bagian selatan dan tengah, Asia serta Afrika.
Kopi merupakan minuman ke-2 yang dikonsumsi di seluruh dunia, setelah air. Amerika Serikat adalah pengimpor terbesar kopi yang mengkonsumsi sebanyak satu per enam kali hasil panen setiap tahunnya di dunia. Namun demikian, Finlandia merupakan negara yang konsumsi per kapita paling tinggi, dengan rata-rata konsumsi per orang sekitar 1400 cangkir setiap tahunnya!
Sekarang ini di seluruh dunia, dipenuhi dengan saat-saat menikmati kopi.. kopi membuat kita terjaga, bahagia serta memberikan ketenangan. Kopi membuat kita semangat dan siap untuk menghadapi segala pekerjaan. Kopi dapat menemani kita istirahat, sehingga memberikan kesempatan untuk rileks dan merefleksikan diri, ataupun dapat menemani kita berbagi cerita.
Read More..
Menyuburkan Lahan Gambut dengan Mikroba
Menyuburkan Lahan Gambut dengan Mikroba
JAKARTA, JUMAT - Pemanfaatan lahan di Indonesia sejak dulu telah salah arah. Lahan subur, terutama di Jawa, tak terbendung terus berubah fungsi ke nonpertanian. Sementara itu, kebutuhan pangan yang terus meningkat memaksa pemanfaatan lahan kering dan marginal yang umumnya di luar Jawa. Di sinilah rekayasa teknologi berperan untuk mengubahnya menjadi lahan subur. Salah satu yang kini gencar disasari adalah lahan gambut.
Dalam ASEAN-China Workshop on the Development of Effective Microbial Consortium Poten in Peat Modification di Jakarta, Senin (10/11), tim peneliti mikroba dari Pusat Teknologi Bioindustri BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), yang diketuai Gatyo Angkoso, melaporkan keberhasilan mereka menyuburkan lahan gambut dengan menambahkan limbah selulosa dari perkebunan kelapa sawit dan memasukkan secara bersamaan beberapa jenis isolat mikroba tertentu.
Perlakuan ini dapat mengurangi tingkat keasaman atau menaikkan pH lahan gambut dari rata-rata 3,5 menjadi 5,5, jelas Direktur Pusat Teknologi Bioindustri, Koesnandar, yang juga terlibat dalam riset tersebut, di Rasau dan Siantan, Kalimantan Barat. Selama ini lahan gambut secara alami memang tidak subur karena memiliki keasaman tinggi atau kebasaannya (pH) rendah, antara 2,8 dan 4,5. Sifat lain lahan gambut yang tidak menguntungkan adalah nilai kapasitas tukar kation dan kandungan organik yang tinggi.
Penyuburan lahan gambut dilakukan dengan memasukkan konsorsia atau beberapa kelompok mikroba. Dijelaskan Diana Nurani, peneliti, riset yang dilakukan sejak tahun 2006 berhasil diisolasi puluhan mikroba di dua daerah di Pontianak itu. Dari puluhan ditemukan empat kelompok mikroba yang memiliki kinerja yang baik dalam meningkatkan kebasaan lahan gambut.
Ditambahkan Koesnandar, mikroba itu ditemukan di lahan gambut, pada limbah kelapa sawit, dan kotoran sapi. Dari efeknya pada tanah gambut, konsorsia mikroba itu bersimbiosa mutualisme. Penelitian lebih lanjut akan dilakukan untuk meneliti peran dan karakteristik masing- masing mikroba.
Aplikasi empat kelompok mikroba pada tanah gambut selain dapat meningkatkan pH, juga terbukti memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan ketersediaan mineral. Keuntungan lainnya adalah mengganti cara konvensional, yaitu pembakaran yang biasa dilakukan petani di lahan gambut untuk meningkatkan pH tanah gambut.
Indonesia memiliki kawasan gambut keempat terluas di dunia, yakni 20,6 juta hektar. Peringkat pertama adalah Kanada (170 juta ha), Uni Soviet (150 juta ha), dan Amerika Serikat (40 juta ha). Lahan gambut di Indonesia terbanyak dijumpai di Sumatera (35 persen), Kalimantan (30 persen), dan Papua (30 persen). (YUN)
Read More..
Mikroba "Tenaga Kerja" Bioplastik
Mikroba "Tenaga Kerja" Bioplastik
oleh Nawa Tunggal
Mikroba adalah jasad renik yang sangat beragam jenisnya dan memiliki fungsi sebagai pengurai. Kini salah satu jenisnya telah diubah menjadi ”tenaga kerja” untuk memproduksi bioplastik oleh Khaswar Syamsu. Ia seorang perekayasa dari Institut Pertanian Bogor yang berhasil merekayasa pembuatan plastik terbuat dari bahan pati sagu dan lemak sawit sehingga menjadi plastik ramah lingkungan atau bioplastik.
”Mikroba itu tenaga kerja yang tidak pernah menunggu perintah dan tidak pernah demo,” ujar Khaswar, Kamis (8/1) di laboratoriumnya yang berisi perlengkapan-perlengkapan yang usianya tergolong tua.
Perlengkapan tua itu termasuk bioreaktor buatan Jerman yang dibeli 23 tahun silam atau pada 1986. Bioreaktor itu telah menemani Khaswar setidaknya ketika memulai riset produksi bioplastik sejak tahun 2000 hingga 2006 ketika ia berhasil menemukan metode pembuatan bioplastik dan mendaftarkan patennya.
Sedikitnya ada tujuh uji coba bioplatik yang dilaksanakan. Uji coba itu meliputi kekuatan tarik, elastisitas, perpanjangan putus, sifat termal, derajat kristalinitas, gugus fungsi dalam struktur kimia, dan biodegradabilitas atau keteruraiannya.
Uji coba yang terakhir mengenai keteruraiannya ini, bioplastik hasil rekayasa Khaswar dapat terurai atau termakan mikroba dalam waktu 80 hari.
”Dibandingkan dengan bahan organik lainnya, seperti kertas, laju terurai pada bioplastik ini lebih cepat,” ujar Khaswar.
Menimbun plastik
Khaswar mengutip sebuah referensi yang menunjukkan fenomena yang berlangsung saat ini berupa timbunan plastik sebagai salah satu produk utama sampah yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia. Padahal, sampah plastik itu tidak akan terurai dan akan merusak lapisan tanah.
”Pada 2003 kebutuhan plastik di Indonesia mencapai 1,35 juta ton per tahun. Setelah menjadi sampah, pemerintah hanya mampu mengelola 20-30 persennya. Selebihnya ditimbun ke area pembuangan sampah,” katanya yang kini menjabat Kepala Divisi Rekayasa Bioproses dan Bahan Baru pada Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi IPB.
Pada 2000 dan 2001, Khaswar menggunakan dana riset dari program Riset Hibah Bersaing Direktorat Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan saat itu. Dana riset Rp 29,9 juta per tahun.
Kemudian dilanjutkan pada 2005 dan 2006 menggunakan dana riset dari program Riset Unggulan Terpadu Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Dana riset setiap tahun Rp 97 juta dan Rp 93 juta. Dari kegiatan riset selama empat tahun itulah lalu dihasilkan bioplastik.
Menurut dia, harga produksi bioplastik ini antara lima sampai tujuh kali harga pembuatan plastik konvensional yang terbuat dari bahan berbasis petrokimia atau minyak bumi.
”Negara Korea saat ini berhasil menyimulasikan produksi bioplastik hanya dengan biaya tiga kali biaya pembuatan plastik berbasis petrokimia. Ketika bahan petrokimia yang terbatas dan tidak teruraikan itu ke depan makin mahal, produksi bioplastik akan makin murah dan yang lebih penting ramah lingkungan,” ujar Khaswar.
Mikroba impor
Mikroba yang disebut-sebut Khaswar sebagai tenaga kerja bioplastik, yang bekerja dengan tidak pernah menunggu perintah dan tidak pernah mendemo, adalah Ralstonia eutropha impor dari Jepang.
”Sebetulnya, mikroba itu juga ada di dalam tanah di mana pun di Indonesia ini. Namun, di Indonesia tidak ada badan nasional yang secara khusus menangani masalah pemetaan dan pengoleksian mikroba seperti di Jepang,” kata Khaswar.
Secara terpisah, Kepala Bidang Biologi Sel dan Jaringan pada Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Puspita Lisdiyanti mengatakan, keberadaan badan nasional yang secara khusus menangani pemetaan dan pengoleksian berbagai mikroba di Indonesia belum dirintis.
”Saat ini para peneliti atau perekayasa yang membiakkan mikroba itu hanya menggunakannya demi kepentingan masing-masing. Semestinya, memang ada badan nasional yang secara khusus menangani koleksi mikroba dan pemanfaatannya untuk kepentingan bersama,” kata Puspita.
Pada era ke depan, menurut Puspita, bidang mikroorganisme ini memiliki peranan sangat penting untuk menunjang kehidupan yang berkelanjutan. Mikroba terbukti dapat menciptakan bahan bioplastik sekaligus akan mengurainya kembali. Dengan rantai ini, keseimbangan alam tercipta. Read More..
oleh Nawa Tunggal
Mikroba adalah jasad renik yang sangat beragam jenisnya dan memiliki fungsi sebagai pengurai. Kini salah satu jenisnya telah diubah menjadi ”tenaga kerja” untuk memproduksi bioplastik oleh Khaswar Syamsu. Ia seorang perekayasa dari Institut Pertanian Bogor yang berhasil merekayasa pembuatan plastik terbuat dari bahan pati sagu dan lemak sawit sehingga menjadi plastik ramah lingkungan atau bioplastik.
”Mikroba itu tenaga kerja yang tidak pernah menunggu perintah dan tidak pernah demo,” ujar Khaswar, Kamis (8/1) di laboratoriumnya yang berisi perlengkapan-perlengkapan yang usianya tergolong tua.
Perlengkapan tua itu termasuk bioreaktor buatan Jerman yang dibeli 23 tahun silam atau pada 1986. Bioreaktor itu telah menemani Khaswar setidaknya ketika memulai riset produksi bioplastik sejak tahun 2000 hingga 2006 ketika ia berhasil menemukan metode pembuatan bioplastik dan mendaftarkan patennya.
Sedikitnya ada tujuh uji coba bioplatik yang dilaksanakan. Uji coba itu meliputi kekuatan tarik, elastisitas, perpanjangan putus, sifat termal, derajat kristalinitas, gugus fungsi dalam struktur kimia, dan biodegradabilitas atau keteruraiannya.
Uji coba yang terakhir mengenai keteruraiannya ini, bioplastik hasil rekayasa Khaswar dapat terurai atau termakan mikroba dalam waktu 80 hari.
”Dibandingkan dengan bahan organik lainnya, seperti kertas, laju terurai pada bioplastik ini lebih cepat,” ujar Khaswar.
Menimbun plastik
Khaswar mengutip sebuah referensi yang menunjukkan fenomena yang berlangsung saat ini berupa timbunan plastik sebagai salah satu produk utama sampah yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia. Padahal, sampah plastik itu tidak akan terurai dan akan merusak lapisan tanah.
”Pada 2003 kebutuhan plastik di Indonesia mencapai 1,35 juta ton per tahun. Setelah menjadi sampah, pemerintah hanya mampu mengelola 20-30 persennya. Selebihnya ditimbun ke area pembuangan sampah,” katanya yang kini menjabat Kepala Divisi Rekayasa Bioproses dan Bahan Baru pada Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi IPB.
Pada 2000 dan 2001, Khaswar menggunakan dana riset dari program Riset Hibah Bersaing Direktorat Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan saat itu. Dana riset Rp 29,9 juta per tahun.
Kemudian dilanjutkan pada 2005 dan 2006 menggunakan dana riset dari program Riset Unggulan Terpadu Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Dana riset setiap tahun Rp 97 juta dan Rp 93 juta. Dari kegiatan riset selama empat tahun itulah lalu dihasilkan bioplastik.
Menurut dia, harga produksi bioplastik ini antara lima sampai tujuh kali harga pembuatan plastik konvensional yang terbuat dari bahan berbasis petrokimia atau minyak bumi.
”Negara Korea saat ini berhasil menyimulasikan produksi bioplastik hanya dengan biaya tiga kali biaya pembuatan plastik berbasis petrokimia. Ketika bahan petrokimia yang terbatas dan tidak teruraikan itu ke depan makin mahal, produksi bioplastik akan makin murah dan yang lebih penting ramah lingkungan,” ujar Khaswar.
Mikroba impor
Mikroba yang disebut-sebut Khaswar sebagai tenaga kerja bioplastik, yang bekerja dengan tidak pernah menunggu perintah dan tidak pernah mendemo, adalah Ralstonia eutropha impor dari Jepang.
”Sebetulnya, mikroba itu juga ada di dalam tanah di mana pun di Indonesia ini. Namun, di Indonesia tidak ada badan nasional yang secara khusus menangani masalah pemetaan dan pengoleksian mikroba seperti di Jepang,” kata Khaswar.
Secara terpisah, Kepala Bidang Biologi Sel dan Jaringan pada Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Puspita Lisdiyanti mengatakan, keberadaan badan nasional yang secara khusus menangani pemetaan dan pengoleksian berbagai mikroba di Indonesia belum dirintis.
”Saat ini para peneliti atau perekayasa yang membiakkan mikroba itu hanya menggunakannya demi kepentingan masing-masing. Semestinya, memang ada badan nasional yang secara khusus menangani koleksi mikroba dan pemanfaatannya untuk kepentingan bersama,” kata Puspita.
Pada era ke depan, menurut Puspita, bidang mikroorganisme ini memiliki peranan sangat penting untuk menunjang kehidupan yang berkelanjutan. Mikroba terbukti dapat menciptakan bahan bioplastik sekaligus akan mengurainya kembali. Dengan rantai ini, keseimbangan alam tercipta. Read More..
Mikroba Asal Papua Jadi Pupuk "Beyonic"
Mikroba Asal Papua Jadi Pupuk "Beyonic"
KOMPAS/LASTI KURNIA
JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia berhasil mengisolasi mikroba pilihan dan memberdayakannya menjadi pupuk unggulan yang disebut beyonic. Peluncuran pupuk organik ini dilakukan di Kawasan Cibinong Science Center Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia oleh Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata, Sabtu (30/1).
Mikroba yang telah teruji itu berguna untuk mengubah lahan pertanian menjadi lebih baik.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Endang Sukara mengatakan, penggunaan pupuk organik dapat mengurangi penggunaan pupuk sintetis serta pestisida dan herbisida. Keuntungan lain adalah mengurangi biaya produksi dan emisi CO dari pabrik pupuk. Pemerintah memperkirakan kebutuhan pupuk organik pada tahun 2010 mencapai sekitar 11,75 juta ton.
Beyonic adalah pupuk organik yang dipadukan dengan mikroba koleksi LIPI berupa konsorsium yang mampu mengatasi masalah pertanian setempat dan berproduktivitas tinggi. Saat ini koleksi mikroba LIPI, ujar Endang, telah mencapai sekitar 20.000 jenis, sekitar 4.000 mikroba telah teridentifikasi kemampuan unggulnya.
”Mikroba yang telah teruji itu berguna untuk mengubah lahan pertanian menjadi lebih baik,” kata Heddy Sulistyo, peneliti di Pusat Penelitian Biologi LIPI.
Teknologi beyonic diharapkan dapat mengantisipasi dampak perubahan iklim pada lahan kering dan dapat mempercepat pertumbuhan tanaman. Ditambahkan Sri Widiati, peneliti Puslit Biologi LIPI, konsorsium mikroba yang digunakan pada beyonic, antara lain, berasal dari Kawasan Penelitian Biologi LIPI di Wamena, Papua. Di Wamena, 16 mikroba unggulan untuk pengembangan pupuk organik bisa diisolasi. (YUN)
Read More..
KOMPAS/LASTI KURNIA
JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia berhasil mengisolasi mikroba pilihan dan memberdayakannya menjadi pupuk unggulan yang disebut beyonic. Peluncuran pupuk organik ini dilakukan di Kawasan Cibinong Science Center Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia oleh Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata, Sabtu (30/1).
Mikroba yang telah teruji itu berguna untuk mengubah lahan pertanian menjadi lebih baik.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Endang Sukara mengatakan, penggunaan pupuk organik dapat mengurangi penggunaan pupuk sintetis serta pestisida dan herbisida. Keuntungan lain adalah mengurangi biaya produksi dan emisi CO dari pabrik pupuk. Pemerintah memperkirakan kebutuhan pupuk organik pada tahun 2010 mencapai sekitar 11,75 juta ton.
Beyonic adalah pupuk organik yang dipadukan dengan mikroba koleksi LIPI berupa konsorsium yang mampu mengatasi masalah pertanian setempat dan berproduktivitas tinggi. Saat ini koleksi mikroba LIPI, ujar Endang, telah mencapai sekitar 20.000 jenis, sekitar 4.000 mikroba telah teridentifikasi kemampuan unggulnya.
”Mikroba yang telah teruji itu berguna untuk mengubah lahan pertanian menjadi lebih baik,” kata Heddy Sulistyo, peneliti di Pusat Penelitian Biologi LIPI.
Teknologi beyonic diharapkan dapat mengantisipasi dampak perubahan iklim pada lahan kering dan dapat mempercepat pertumbuhan tanaman. Ditambahkan Sri Widiati, peneliti Puslit Biologi LIPI, konsorsium mikroba yang digunakan pada beyonic, antara lain, berasal dari Kawasan Penelitian Biologi LIPI di Wamena, Papua. Di Wamena, 16 mikroba unggulan untuk pengembangan pupuk organik bisa diisolasi. (YUN)
Read More..
Cobalah Tinggal di Pegunungan untuk Turunkan Berat Badan
-dalam.jpg)
Cobalah Tinggal di Pegunungan untuk Turunkan Berat Badan
Irna Gustia - detikHealth
Munich, Penderita obesitas harus mencoba tinggal di pegunungan jika ingin menurunkan berat badan. Lemak jadi lebih mudah terbakar ketika udara semakin tipis yang merupakan ciri khas daerah pegunungan.
Ilmuwan mengatakan fenomena itu banyak terjadi di negara-negara yang atmosfernya sedikit karena daerahnya tinggi seperti di Tibet dan Argentina.
Daerah tinggi memiliki udara yang oksigennya tipis sehingga tubuh dipaksa berusaha keras untuk mendapatkan oksigen. Sedangkan di daerah lautan atau permukaan rendah oksigennya sangat padat dan mudah didapat.
Peneliti melakukan studi terhadap 20 orang yang memiliki indeks massa tubuh atau body mass index (BMI) 34. Angka BMI lebih dari 30 adalah pertanda orang mengalami obesitas serius juga masalah kegemukan yang parah. Karena seseorang dikatakan gemuk jika BMI sebesar 25-29,9 dan obesitas jika BMI mencapai 30 atau lebih.
Para partisipan itu berhasil menurunkan beberapa pound setelah tinggal sedikitnya satu bulan untuk percobaan ini. Ketika tinggal di gunung gaya hidup partisipan mengalami perubahan. Dengan kondisi yang unik itu malah membuat fungsi metabolismenya meningkat, nafsu makan berkurang dan menurunnya tekanan darah.
Dr Florian Lippi, dari Ludwig Maximillians University di Munich, mengatakan dengan memahami mekanisme di balik penurunan berat badan ini dapat memberikan dasar untuk perawatan baru penderita obesitas.
Dr Lippi dan timnya juga mempelajari efek tinggal di dataran tinggi selama satu minggu tanpa melakukan perubahan seperti melakukan latihan rutin atau kesediaan pangan.
Pada akhir penelitian sebuah studi juga dilakukan di laboratorium berpendingin udara (AC) dekat puncak gunung tertinggi di Jerman Zugspitze, untuk melihat pengaruhnya terhadap berat badan. Ternyata asupan makanan dan tekanan darah telah menurun secara dramatis dan efek-efek ini masih berlanjut hingga empat minggu sesudahnya.
Peneliti mengatakan rendahnya tingkat oksigen pada daerah tinggi berpengaruh pada peningkatan leptin yakni hormon di otak yang berperan untuk menekan nafsu makan. Meskipun diakui penyebab ini masih perlu dipelajari lebih lanjut. Penemuan ini telah dipublikasikan dalam the journal Obesity.
"Penurunan berat terlihat pada tempat yang tinggi terutama disebabkan oleh peningkatan metabolisme dan asupan makanan yang berkurang. Namun alasan di balik perubahan-perubahan ini belum begitu jelas dan mungkin merupakan efek sementara tubuh ke perubahan iklim dan lingkungan yang baru," kata Dr Lippi seperti dilansir dari Telegraph, Minggu (7/2/2010).(ir/ir)
Read More..
Teh Rosella, Penurun Kolesterol Sekaligus Antioksidan
Teh Rosella, Penurun Kolesterol Sekaligus Antioksidan
Teh rosella yang banyak tumbuh di China, India, dan Taiwan seringkali digunakan sebagai pengobatan tradisional untuk menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh.
Teh rosella yang banyak tumbuh di China, India, dan Taiwan seringkali digunakan sebagai pengobatan tradisional untuk menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh. Tapi ternyata manfaatnya tak hanya sekedar menurunkan kolesterol, teh ini juga mengandung antioksidan serta mengurangi tekanan darah tinggi.
Studi para ahli di Shan Medical University of Biochemistry di Taiwan mengambil ekstrak Rosella dan terbukti menurunkan kadar LDL kolesterol serta mengurangi resiko penyakit jantung. Hasil penelitian ini dipublikasikan di Journal of the Scinece Of Food and Agriculture yang diprakarsai oleh Dr.Chau - Jong Wang.
Dr. Chau-Jong Wang menyatakan bahwa penelitiannya telah membuktikan komponen ekstrak rosella dapat mengurangi kolesterol dan lemak yang tertimbun di pembuluh darah.
Hal senada juga diungkapkan oleh Dr.Charmaine Griffiths, juru bicara dari British Heart Foundation seperti yang dilansir BBC bahwa ada suatu kandungan antioksidan yang dinamakan flavonoid yang bisa mengurangi LDL atau kolesterol jahat.
Sedangkan seorang peneliti dari Insititute of Biochemistry and Biotechnology di Chung San Medical University, Yun Ching Chan, menyatakan bahwa pigmen dari rosella yang dikeringkan cukup efektif dalam menghancurkan sel kanker. Untuk itu, penelitian lebih lanjut mengenai hal ini masih dilakukan.
Akan tetapi, perlu diingat pula bahwa untuk mengurangi kolesterol, Anda tidak hanya dengan meminum teh saja. Tentunya, akan lebih baik jika Anda menyertakan olahraga dan makan makanan yang sehat untuk menjaga kesehatan Anda.
Sumber: dr.Intan Airlina Febiliawanti/acandra /KCM
Read More..
Teh rosella yang banyak tumbuh di China, India, dan Taiwan seringkali digunakan sebagai pengobatan tradisional untuk menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh.
Teh rosella yang banyak tumbuh di China, India, dan Taiwan seringkali digunakan sebagai pengobatan tradisional untuk menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh. Tapi ternyata manfaatnya tak hanya sekedar menurunkan kolesterol, teh ini juga mengandung antioksidan serta mengurangi tekanan darah tinggi.
Studi para ahli di Shan Medical University of Biochemistry di Taiwan mengambil ekstrak Rosella dan terbukti menurunkan kadar LDL kolesterol serta mengurangi resiko penyakit jantung. Hasil penelitian ini dipublikasikan di Journal of the Scinece Of Food and Agriculture yang diprakarsai oleh Dr.Chau - Jong Wang.
Dr. Chau-Jong Wang menyatakan bahwa penelitiannya telah membuktikan komponen ekstrak rosella dapat mengurangi kolesterol dan lemak yang tertimbun di pembuluh darah.
Hal senada juga diungkapkan oleh Dr.Charmaine Griffiths, juru bicara dari British Heart Foundation seperti yang dilansir BBC bahwa ada suatu kandungan antioksidan yang dinamakan flavonoid yang bisa mengurangi LDL atau kolesterol jahat.
Sedangkan seorang peneliti dari Insititute of Biochemistry and Biotechnology di Chung San Medical University, Yun Ching Chan, menyatakan bahwa pigmen dari rosella yang dikeringkan cukup efektif dalam menghancurkan sel kanker. Untuk itu, penelitian lebih lanjut mengenai hal ini masih dilakukan.
Akan tetapi, perlu diingat pula bahwa untuk mengurangi kolesterol, Anda tidak hanya dengan meminum teh saja. Tentunya, akan lebih baik jika Anda menyertakan olahraga dan makan makanan yang sehat untuk menjaga kesehatan Anda.
Sumber: dr.Intan Airlina Febiliawanti/acandra /KCM
Read More..
Cara Keledai Membaca
Cara Keledai Membaca
Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata, "Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya."
Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.
Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu, si keledai menatap Nasrudin. "Demikianlah," kata Nasrudin, "Keledaiku sudah bisa membaca." Timur Lenk mulai menginterogasi, "Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?"
Nasrudin berkisah,"Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar." "Tapi," tukas Timur Lenk tidak puas,"Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?"
Nasrudin menjawab,"Memang demikianlah cara keledai membaca; hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, berarti kita setolol keledai, bukan ?"
Read More..
Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata, "Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya."
Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.
Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu, si keledai menatap Nasrudin. "Demikianlah," kata Nasrudin, "Keledaiku sudah bisa membaca." Timur Lenk mulai menginterogasi, "Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?"
Nasrudin berkisah,"Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar." "Tapi," tukas Timur Lenk tidak puas,"Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?"
Nasrudin menjawab,"Memang demikianlah cara keledai membaca; hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, berarti kita setolol keledai, bukan ?"
Read More..
"Ora Usah Melu Macam-macam"
"Ora Usah Melu Macam-macam"
Ada suatu daerah di Jawa Tengah yang mayoritas berkultur nahdliyin (NU). Penduduk setempat sehari-sehari mengamalkan amaliah NU seperti tahlilan, qunut, wirid dan lain-lain. Aktivitas organisasi NU dan banom-banom-nya pun tumbuh subur termasuk banom pelajarnya, IPNU (Ikatan Pelajar NU).
Alkisah, di daerah tersebut, ada satu keluarga yang baru saja kehilangan sang ayah. Sebelum meninggal, si ayah tersebut berpesan kepada istrinya agar menjaga Nanang (bukan nama sebenarnya) putra semata wayangnya yang baru duduk di kelas X madrasah aliyah agar tetap berpegang pada ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah dan tidak terpengaruh teman-temannya dari kota yang sering mengajaknya ikut pengajian sel tertutup seperti yang seringkali dipraktekkan kaum muda Islam di perkotaan. Intinya, sang ayah berpesan agar putranya tersebut dapat mengikuti jejaknya menjadi aktivis NU dengan bergabung ke IPNU.
Menjelang tahun ajaran berakhir, tiba-tiba Nanang bertanya pada ibunya, ”Bu, aku mau naik ke kelas XI Aliyah, tapi aku bingung dengan pilihanku, masuk IPA atau IPS ya?”.
Sang ibu pun menjawab, ”Ora usah bingung-bingung le, ingat pesan bapakmu dulu, ora usah melu (ikut) macam-macam, IPA atau IPS, melu IPNU aja le”, tandas sang Ibu. Lho?? (Alf)
sumber : www.gusmus.net
Read More..
Ada suatu daerah di Jawa Tengah yang mayoritas berkultur nahdliyin (NU). Penduduk setempat sehari-sehari mengamalkan amaliah NU seperti tahlilan, qunut, wirid dan lain-lain. Aktivitas organisasi NU dan banom-banom-nya pun tumbuh subur termasuk banom pelajarnya, IPNU (Ikatan Pelajar NU).
Alkisah, di daerah tersebut, ada satu keluarga yang baru saja kehilangan sang ayah. Sebelum meninggal, si ayah tersebut berpesan kepada istrinya agar menjaga Nanang (bukan nama sebenarnya) putra semata wayangnya yang baru duduk di kelas X madrasah aliyah agar tetap berpegang pada ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah dan tidak terpengaruh teman-temannya dari kota yang sering mengajaknya ikut pengajian sel tertutup seperti yang seringkali dipraktekkan kaum muda Islam di perkotaan. Intinya, sang ayah berpesan agar putranya tersebut dapat mengikuti jejaknya menjadi aktivis NU dengan bergabung ke IPNU.
Menjelang tahun ajaran berakhir, tiba-tiba Nanang bertanya pada ibunya, ”Bu, aku mau naik ke kelas XI Aliyah, tapi aku bingung dengan pilihanku, masuk IPA atau IPS ya?”.
Sang ibu pun menjawab, ”Ora usah bingung-bingung le, ingat pesan bapakmu dulu, ora usah melu (ikut) macam-macam, IPA atau IPS, melu IPNU aja le”, tandas sang Ibu. Lho?? (Alf)
sumber : www.gusmus.net
Read More..
Bidadari itu Dibawa Jibril (Cerpen)
Bidadari itu Dibawa Jibril (Cerpen)
Oleh: A. Mustofa Bisri
Sebelum jilbab populer seperti sekarang ini, Hindun sudah selalu memakai busana muslimah itu. Dia memang seorang muslimah taat dari keluarga taat. Meski mulai SD tidak belajar agama di madrasah, ketaatannya terhadap agama, seperti salat pada waktunya, puasa Senin-Kamis, salat Dhuha, dsb, tidak kalah dengan mereka yang dari kecil belajar agama. Apalagi setelah di perguruan tinggi. Ketika di perguruan tinggi dia justru seperti mendapat kesempatan lebih aktif lagi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.
Dalam soal syariat agama, seperti banyak kaum muslimin kota yang sedang semangat-semangatnya berislamria, sikapnya tegas. Misalnya bila dia melihat sesuatu yang menurut pemahamannya mungkar, dia tidak segan-segan menegur terang-terangan. Bila dia melihat kawan perempuannya yang muslimah--dia biasa memanggilnya ukhti--jilbabnya kurang rapat, misalnya, langsung dia akan menyemprotnya dengan lugas.
Dia pernah menegur dosennya yang dilihatnya sedang minum dengan memegang gelas tangan kiri, "Bapak kan muslim, mestinya bapak tahu soal tayammun;" katanya, "Nabi kita menganjurkan agar untuk melakukan sesuatu yang baik, menggunakan tangan kanan!" Dosen yang lain ditegur terang-terangan karena merokok. "Merokok itu salah satu senjata setan untuk menyengsarakan anak Adam di dunia dan akherat. Sebagai dosen, Bapak tidak pantas mencontohkan hal buruk seperti itu." Dia juga pernah menegur terang-terangan dosennya yang memelihara anjing. "Bapak tahu enggak? Bapak kan muslim?! Anjing itu najis dan malaikat tidak mau datang ke rumah orang yang ada anjingnya!"
Di samping ketaatan dan kelugasannya, apabila bicara tentang Islam, Hindun selalu bersemangat. Apalagi bila sudah bicara soal kemungkaran dan kemaksiatan yang merajalela di Tanah Air yang menurutnya banyak dilakukan oleh orang-orang Islam, wah, dia akan berkobar-kobar bagaikan banteng luka. Apalagi bila melihat atau mendengar ada orang Islam melakukan perbuatan yang menurutnya tidak rasional, langsung dia mengecapnya sebagai klenik atau bahkan syirik yang harus diberantas. Dia pernah ikut mengoordinasi berbagai demonstrasi, seperti menuntut ditutupnya tempat-tempat yang disebutnya sebagai tempat-tempat maksiat; demonstrasi menentang sekolah yang melarang muridnya berjilbab; hingga demonstrasi menuntut diberlakukannya syariat Islam secara murni. Mungkin karena itulah, dia dijuluki kawan-kawannya si bidadari tangan besi. Dia tidak marah, tetapi juga tidak kelihatan senang dijuluki begitu. Yang penting menurutnya, orang Islam yang baik harus selalu menegakkan amar makruf nahi mungkar di mana pun berada. Harus membenci kaum yang ingkar dan menyeleweng dari rel agama.
Bagi Hindun, amar makruf nahi mungkar bukan saja merupakan bagian dari keimanan dan ketakwaan, tetapi juga bagian dari jihad fi sabilillah. Karena itu dia biarkan saja kawan-kawannya menjulukinya bidadari tangan besi.Ketika beberapa lama kemudian dia menjadi istri kawanku, Mas Danu, ketaatannya kian bertambah, tetapi kelugasan dan kebiasaannya menegur terang-terangan agak berkurang. Mungkin ini disebabkan karena Mas Danu orangnya juga taat, namun sabar dan lemah lembut. Mungkin dia sering melihat bagaimana Mas Danu, dengan kesabaran dan kelembutannya, justru lebih sering berhasil dalam melakukan amar makruf nahi mungkar. Banyak kawan mereka yang tadinya mursal, justru menjadi insaf dan baik oleh suaminya yang lembut itu. Bukan oleh dia.*
Sudah lama aku tidak mendengar kabar mereka, kabar Mas Danu dan Hindun. Dulu sering aku menerima telepon mereka. Sekadar silaturahmi. Saling bertanya kabar. Tetapi, kemudian sudah lama mereka tidak menelepon. Aku sendiri pernah juga beberapa kali menelepon ke rumah mereka, tapi selalu kalau tidak terdengar nada sibuk, ya, tidak ada yang mengangkat. Karena itu, ketika Mas Danu tiba-tiba menelepon, aku seperti mendapat kejutan yang menggembirakan.
Lama sekali kami berbincang-bincang di telepon, melepas kerinduan.Setelah saling tanya kabar masing-masing, Mas Danu bilang, "Mas, Sampeyan sudah dengar belum? Hindun sekarang punya syeikh baru lo?
"Syeikh baru?" tanyaku. Mas Danu memang suka berkelakar."Ya, syeikh baru. Tahu, siapa? Sampeyan pasti enggak percaya.
"Siapa, mas?" tanyaku benar-benar ingin tahu."Jibril, mas. Malaikat Jibril!""Jibril?" aku tak bisa menahan tertawaku.
Kadang-kadang sahabatku ini memang sulit dibedakan apakah sedang bercanda atau tidak."Jangan ketawa! Ini serius!
"Wah. Katanya, bagaimana rupanya?" aku masih kurang percaya."Dia tidak cerita rupanya, tetapi katanya, Jibril itu humoris seperti Sampeyan.
"Saya ngakak. Tetapi, di seberang sana, Mas Danu kelihatannya benar-benar serius, jadi kutahan-tahan juga tawaku. "Bagaimana ceritanya, mas?
"Ya, mula-mula dia ikut grup pengajian. Kan di tempat kami sekarang lagi musim grup-grup pengajian. Ada pengajian eksekutif; pengajian seniman; pengajian pensiunan; dan entah apa lagi. Nah, lama-lama gurunya itu didatangi malaikat Jibril dan sekarang malaikat Jibril itulah yang langsung mengajarkan ajaran-ajaran dari langit. Sedangkan gurunya itu hanya dipinjam mulutnya.
"Bagaimana mereka tahu bahwa yang datang itu malaikat Jibril?""Lo, malaikat Jibrilnya sendiri yang mengatakan. Kepada jemaahnya, gurunya itu, maksud saya malaikat Jibril itu, menunjukkan bukti berupa fenomena-fenomena alam yang ajaib yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia.
"Ya, tetapi jin dan setan kan bisa melakukan hal seperti itu, mas!" selaku, "Kan ada cerita, dahulu Syeikh Abdul Qadir Jailani, sufi yang termasyhur itu, pernah digoda iblis yang menyamar sebagai Tuhan berbentuk cahaya yang terang benderang. Konon, sebelumnya, Iblis sudah berhasil menjerumuskan 40 sufi dengan cara itu. Tetapi, karena keimanannya yang tebal, Syeikh Abdul Qadir bisa mengenalinya dan segera mengusirnya.
"Tak tahulah, mas. Yang jelas jemaahnya banyak orang pintarnya lo."Wah."Ketika percakapan akhirnya disudahi dengan janji dari Mas Danu dia akan terus menelepon bila sempat, aku masih tertegun.
Aku membayangkan sang bidadari bertangan besi yang begitu tegar ingin memurnikan agama itu kini "hanya" menjadi pengikut sebuah aliran yang menurut banyak orang tidak rasional dan bahkan berbau klenik. Allah Mahakuasa! Dialah yang kuasa menggerakkan hati dan pikiran orang.
Beberapa minggu kemudian aku mendapat telepon lagi dari sahabatku Mas Danu. Kali ini, dia bercerita tentang istrinya dengan nada seperti khawatir.
"Wah, mas; Hindun baru saja membakar diri. "Apa, mas?" aku terkejut setengah mati, "membakar diri bagaimana?
"Gurunya yang mengaku titisan Jibril itu mengajak jemaahnya untuk membersihkan diri dari kekotoran-kekotoran dosa. Mereka menyiram diri mereka dengan spritus kemudian membakarnya.
"Hei," aku ternganga. Dalam hati aku khawatir juga, soalnya aku pernah mendengar di luar negeri pernah terjadi jemaah yang diajak guru mereka bunuh diri.
"Yang lucu, mas," suara Mas Danu terdengar lagi melanjutkan, "gurunya itu yang paling banyak terbakar bagian-bagian tubuhnya. Berarti kan dia yang paling banyak dosanya ya, mas?!
"Aku mengangguk, lupa bahwa kami sedang bicara via telepon."Doakan sajalah mas!" kata sahabatku di seberang menutup pembicaraan.
Beberapa hari kemudian Mas Danu menelepon lagi, menceritakan bahwa istrinya kini jarang pulang. Katanya ada tugas dari Syeikh Jibril yang mengharuskan jemaahnya berkumpul di suatu tempat. Tugas berat, tetapi suci. Memperbaiki dunia yang sudah rusak ini.
"Pernah pulang sebentar, mas" kata Mas Danu di telepon, "dan Sampeyan tahu apa yang dibawanya? Dia pulang sambil memeluk anjing. Entah dapat dari mana?"***Setelah itu, Mas Danu tidak pernah menelepon lagi. Aku mencoba menghubunginya juga tidak pernah berhasil. Baru hari ini. Tak ada hujan tak ada angin, aku menerima pesan di HP-ku, SMS, isinya singkat: "Mas, Hindun sekarang sudah keluar dari Islam. Dia sudah tak berjilbab, tak salat, tak puasa. (Danu).
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mas Danu saat menulis SMS itu. Aku sendiri yang menerima pesan itu, tidak bisa menggambarkan perasaanku sendiri. Hanya dari mulutku meluncur saja ucapan masya Allah.
***Rembang, Akhir Ramadan 1423
sumber :www.gusmus.net
Read More..
Oleh: A. Mustofa Bisri
Sebelum jilbab populer seperti sekarang ini, Hindun sudah selalu memakai busana muslimah itu. Dia memang seorang muslimah taat dari keluarga taat. Meski mulai SD tidak belajar agama di madrasah, ketaatannya terhadap agama, seperti salat pada waktunya, puasa Senin-Kamis, salat Dhuha, dsb, tidak kalah dengan mereka yang dari kecil belajar agama. Apalagi setelah di perguruan tinggi. Ketika di perguruan tinggi dia justru seperti mendapat kesempatan lebih aktif lagi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.
Dalam soal syariat agama, seperti banyak kaum muslimin kota yang sedang semangat-semangatnya berislamria, sikapnya tegas. Misalnya bila dia melihat sesuatu yang menurut pemahamannya mungkar, dia tidak segan-segan menegur terang-terangan. Bila dia melihat kawan perempuannya yang muslimah--dia biasa memanggilnya ukhti--jilbabnya kurang rapat, misalnya, langsung dia akan menyemprotnya dengan lugas.
Dia pernah menegur dosennya yang dilihatnya sedang minum dengan memegang gelas tangan kiri, "Bapak kan muslim, mestinya bapak tahu soal tayammun;" katanya, "Nabi kita menganjurkan agar untuk melakukan sesuatu yang baik, menggunakan tangan kanan!" Dosen yang lain ditegur terang-terangan karena merokok. "Merokok itu salah satu senjata setan untuk menyengsarakan anak Adam di dunia dan akherat. Sebagai dosen, Bapak tidak pantas mencontohkan hal buruk seperti itu." Dia juga pernah menegur terang-terangan dosennya yang memelihara anjing. "Bapak tahu enggak? Bapak kan muslim?! Anjing itu najis dan malaikat tidak mau datang ke rumah orang yang ada anjingnya!"
Di samping ketaatan dan kelugasannya, apabila bicara tentang Islam, Hindun selalu bersemangat. Apalagi bila sudah bicara soal kemungkaran dan kemaksiatan yang merajalela di Tanah Air yang menurutnya banyak dilakukan oleh orang-orang Islam, wah, dia akan berkobar-kobar bagaikan banteng luka. Apalagi bila melihat atau mendengar ada orang Islam melakukan perbuatan yang menurutnya tidak rasional, langsung dia mengecapnya sebagai klenik atau bahkan syirik yang harus diberantas. Dia pernah ikut mengoordinasi berbagai demonstrasi, seperti menuntut ditutupnya tempat-tempat yang disebutnya sebagai tempat-tempat maksiat; demonstrasi menentang sekolah yang melarang muridnya berjilbab; hingga demonstrasi menuntut diberlakukannya syariat Islam secara murni. Mungkin karena itulah, dia dijuluki kawan-kawannya si bidadari tangan besi. Dia tidak marah, tetapi juga tidak kelihatan senang dijuluki begitu. Yang penting menurutnya, orang Islam yang baik harus selalu menegakkan amar makruf nahi mungkar di mana pun berada. Harus membenci kaum yang ingkar dan menyeleweng dari rel agama.
Bagi Hindun, amar makruf nahi mungkar bukan saja merupakan bagian dari keimanan dan ketakwaan, tetapi juga bagian dari jihad fi sabilillah. Karena itu dia biarkan saja kawan-kawannya menjulukinya bidadari tangan besi.Ketika beberapa lama kemudian dia menjadi istri kawanku, Mas Danu, ketaatannya kian bertambah, tetapi kelugasan dan kebiasaannya menegur terang-terangan agak berkurang. Mungkin ini disebabkan karena Mas Danu orangnya juga taat, namun sabar dan lemah lembut. Mungkin dia sering melihat bagaimana Mas Danu, dengan kesabaran dan kelembutannya, justru lebih sering berhasil dalam melakukan amar makruf nahi mungkar. Banyak kawan mereka yang tadinya mursal, justru menjadi insaf dan baik oleh suaminya yang lembut itu. Bukan oleh dia.*
Sudah lama aku tidak mendengar kabar mereka, kabar Mas Danu dan Hindun. Dulu sering aku menerima telepon mereka. Sekadar silaturahmi. Saling bertanya kabar. Tetapi, kemudian sudah lama mereka tidak menelepon. Aku sendiri pernah juga beberapa kali menelepon ke rumah mereka, tapi selalu kalau tidak terdengar nada sibuk, ya, tidak ada yang mengangkat. Karena itu, ketika Mas Danu tiba-tiba menelepon, aku seperti mendapat kejutan yang menggembirakan.
Lama sekali kami berbincang-bincang di telepon, melepas kerinduan.Setelah saling tanya kabar masing-masing, Mas Danu bilang, "Mas, Sampeyan sudah dengar belum? Hindun sekarang punya syeikh baru lo?
"Syeikh baru?" tanyaku. Mas Danu memang suka berkelakar."Ya, syeikh baru. Tahu, siapa? Sampeyan pasti enggak percaya.
"Siapa, mas?" tanyaku benar-benar ingin tahu."Jibril, mas. Malaikat Jibril!""Jibril?" aku tak bisa menahan tertawaku.
Kadang-kadang sahabatku ini memang sulit dibedakan apakah sedang bercanda atau tidak."Jangan ketawa! Ini serius!
"Wah. Katanya, bagaimana rupanya?" aku masih kurang percaya."Dia tidak cerita rupanya, tetapi katanya, Jibril itu humoris seperti Sampeyan.
"Saya ngakak. Tetapi, di seberang sana, Mas Danu kelihatannya benar-benar serius, jadi kutahan-tahan juga tawaku. "Bagaimana ceritanya, mas?
"Ya, mula-mula dia ikut grup pengajian. Kan di tempat kami sekarang lagi musim grup-grup pengajian. Ada pengajian eksekutif; pengajian seniman; pengajian pensiunan; dan entah apa lagi. Nah, lama-lama gurunya itu didatangi malaikat Jibril dan sekarang malaikat Jibril itulah yang langsung mengajarkan ajaran-ajaran dari langit. Sedangkan gurunya itu hanya dipinjam mulutnya.
"Bagaimana mereka tahu bahwa yang datang itu malaikat Jibril?""Lo, malaikat Jibrilnya sendiri yang mengatakan. Kepada jemaahnya, gurunya itu, maksud saya malaikat Jibril itu, menunjukkan bukti berupa fenomena-fenomena alam yang ajaib yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia.
"Ya, tetapi jin dan setan kan bisa melakukan hal seperti itu, mas!" selaku, "Kan ada cerita, dahulu Syeikh Abdul Qadir Jailani, sufi yang termasyhur itu, pernah digoda iblis yang menyamar sebagai Tuhan berbentuk cahaya yang terang benderang. Konon, sebelumnya, Iblis sudah berhasil menjerumuskan 40 sufi dengan cara itu. Tetapi, karena keimanannya yang tebal, Syeikh Abdul Qadir bisa mengenalinya dan segera mengusirnya.
"Tak tahulah, mas. Yang jelas jemaahnya banyak orang pintarnya lo."Wah."Ketika percakapan akhirnya disudahi dengan janji dari Mas Danu dia akan terus menelepon bila sempat, aku masih tertegun.
Aku membayangkan sang bidadari bertangan besi yang begitu tegar ingin memurnikan agama itu kini "hanya" menjadi pengikut sebuah aliran yang menurut banyak orang tidak rasional dan bahkan berbau klenik. Allah Mahakuasa! Dialah yang kuasa menggerakkan hati dan pikiran orang.
Beberapa minggu kemudian aku mendapat telepon lagi dari sahabatku Mas Danu. Kali ini, dia bercerita tentang istrinya dengan nada seperti khawatir.
"Wah, mas; Hindun baru saja membakar diri. "Apa, mas?" aku terkejut setengah mati, "membakar diri bagaimana?
"Gurunya yang mengaku titisan Jibril itu mengajak jemaahnya untuk membersihkan diri dari kekotoran-kekotoran dosa. Mereka menyiram diri mereka dengan spritus kemudian membakarnya.
"Hei," aku ternganga. Dalam hati aku khawatir juga, soalnya aku pernah mendengar di luar negeri pernah terjadi jemaah yang diajak guru mereka bunuh diri.
"Yang lucu, mas," suara Mas Danu terdengar lagi melanjutkan, "gurunya itu yang paling banyak terbakar bagian-bagian tubuhnya. Berarti kan dia yang paling banyak dosanya ya, mas?!
"Aku mengangguk, lupa bahwa kami sedang bicara via telepon."Doakan sajalah mas!" kata sahabatku di seberang menutup pembicaraan.
Beberapa hari kemudian Mas Danu menelepon lagi, menceritakan bahwa istrinya kini jarang pulang. Katanya ada tugas dari Syeikh Jibril yang mengharuskan jemaahnya berkumpul di suatu tempat. Tugas berat, tetapi suci. Memperbaiki dunia yang sudah rusak ini.
"Pernah pulang sebentar, mas" kata Mas Danu di telepon, "dan Sampeyan tahu apa yang dibawanya? Dia pulang sambil memeluk anjing. Entah dapat dari mana?"***Setelah itu, Mas Danu tidak pernah menelepon lagi. Aku mencoba menghubunginya juga tidak pernah berhasil. Baru hari ini. Tak ada hujan tak ada angin, aku menerima pesan di HP-ku, SMS, isinya singkat: "Mas, Hindun sekarang sudah keluar dari Islam. Dia sudah tak berjilbab, tak salat, tak puasa. (Danu).
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mas Danu saat menulis SMS itu. Aku sendiri yang menerima pesan itu, tidak bisa menggambarkan perasaanku sendiri. Hanya dari mulutku meluncur saja ucapan masya Allah.
***Rembang, Akhir Ramadan 1423
sumber :www.gusmus.net
Read More..
Kiai Alhamdulillah
Kiai Alhamdulillah
Setiap kiai mempunyai semacam dzikir unggulan yang selau mewarnai kalimat-kalimat yang diucapkannya. Ayah saya, al-Maghfur lah KH Bisri Mustofa, misalnya, dalam setiap pembicaraannya sehari-hari tak pernah sepi dari ucapan Laa ilaaha illaLlah. Ada kiai yang sebentar-sebentar mengucap SubhanaLlah; ada yang AstaghfiruLlah; Laa haulaa walaa quwwata illa biLlah; dsb.
Kiai Syahid lain lagi. Begitu seringnya beliau menyebut AlhamduliLlah, sampai-sampai ada yang menjulukinya Kiai Alhamdulillah dan menjuluki pesantrennya dengan Pesantren Alhamdulillah. Mereka yang pernah datang ke pesantren beliau, di desa Kemadu sekitar 9 km dari Rembang ke arah selatan, tidak hanya akan mendengar dzikir itu meluncur berulang-ulang dari mulut beliau, tapi juga akan merasakan muatan syukur yang dalam dari cara beliau melafalkannya. Alhamdulillah!
Boleh jadi kebiasaan menyeru Alhamdulillah ini dapat dijadikan kunci untuk memahami Kiai Syahid, kiai desa yang rendah hati ini. Setiap hari, puluhan bahkan terkadang ratusan tamu datang ingin bertemu beliau. Ada yang sekedar silaturrahim, ada yang hanya ingin kenalan, ada yang ingin mendapatkan doa-restunya, ada yang mengeluhkan berbagai masalah pribadi, dan terbanyak adalah mereka yang sekedar ingin memperoleh ketenangan batin.
Kiai Syahid memang seperti mempunyai hoby menyuguh tamu. Setiap hari rumahnya diserbu tamu dari berbagai kalangan. Tak peduli kebangsaannya; tak peduli keyakinannya; tak peduli ideologi politiknya; tak peduli status sosialnya; tak peduli jenis kelaminnya; siapa saja boleh datang dan beliau terima dengan ‘Alhamdulillah!’ (Terhitung mulai mBak Tutut, Suryadi, Gus Dur, mbak Mega, Martin Van Bruinessen, Danarto, Abdul Hadi WM, Almarhum Arifien C, Noor, Amak Baldjun, Dedi Mizwar, Neno Warisman, hingga engkoh Ong Ho agen Bus Malam, pernah datang ke kiai yang rendah hati ini). Syaratnya satu, kecuali yang sedang puasa di siang hari, setiap tamu harus makan di rumah beliau. Meski suguhannya ala kadarnya, tapi sikap beliau selalu membuat hidangan yang disuguhkannya dirasa nikmat oleh tamu-tamunya.
Meskipun kadang-kadang ada juga tamu yang tak tahu diri, datang tanpa mempertimbangkan waktu (pernah ada tamu rombongan dua bus tengah malam), beliau tetap menerimanya dengan ‘Alhamdulillah!’. Begitu cepatnya keluarga kiai kharismatik ini menyuguh hidangan makan, sampai-sampai cerpenis Danarto yang suka mentraktir jajan dan pernah menulis tentang Kiai Syahid dengan judul yang sama dengan tulisan ini, setelah berkunjung ke Kemadu, berkomentar, “Kiai Alhamdulillah itu jika menyuguh makanan kepada tamunya kok lebih cepat dari warung Padang!”
Beliau memang cukup kaya, beliau bertani dan berternak, namun orang yang pernah iseng menghitung-hitung tamu yang datang kepada beliau dan beaya untuk menjamu mereka setiap harinya, tetap saja bingung. Apalagi ada kebiasaan lain dari kiai yang satu ini, yaitu bila tamunya termasuk kenalan dekat, pulangnya selalu dibawai macam-macam hasil kebun atau ternaknya.
Karena kiai Syahid guru thariqah dan sekaligus kiai syariat, maka santri-santrinya terdiri dari kakek-kakek hingga kanak-kanak. Karena santrinya selalu bertambah, kiai Syahid tak henti-hentinya membangun tempat tinggal untuk santri-santrinya. Dalam setiap membangun, beliau sendiri selalu ikut terjun langsung bersama tukang-tukang dan menyemangati mereka dengan shalawat Nabi.
Bila saya datang, sering kali saya sengaja diajaknya keliling; melihat-lihat bangunan barunya. Dan selalu saja suasana syukur terasa menebar dari diri beliau, sebagaimana ketika beliau mengawani tamu-tamunya makan, sebagaimana juga ketika beliau menyelipkan “Alhamdulillah” dalam pembicaraannya. Seolah-olah beliau sengaja menularkan syukur dan mengajarkannya kepada mereka yang ada di sekeliling beliau.
Meski kiai Syahid dikenal begitu santun kepada setiap orang, namun dasar manusia, pernah juga beliau kena fitnah dari orang yang hasud. Ceritanya, pada waktu zaman orde baru, beliau pernah mendapat bantuan motor pembangkit listrik dari salah satu instansi pemerintah yang –seperti umumnya waktu itu— diakukan sebagai bantuan dari salah satu partai. Ketika bantuan itu tidak beliau terima, kepala kantor instansi yang bersangkutan mengadukannya kepada Muspida dan kiai Syahid pun dipanggil. Di hadapan muspida dan penjabat-pejabat lain serta beberapa kiai, seperti biasanya, dengan kalem kiai Syahid memberikan penjelasan: “Mohon maaf, Bapak-bapak, bukannya kami menolak anugerah yang diberikan pemerintah; sebaliknya, Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan berterimakasih sekali. Hanya saja kami menyadari kelemahan kami; dari kalangan pesantren kami belum ada yang terbiasa dengan mesin itu. Kami khawatir, bantuan yang diberikan dengan baik hati oleh pemerintah itu, tidak dapat kami rawat secara baik. Biasanya orang hanya berpikir senangnya saat menerima bantuan, namun lupa merawatnya. Kami menghindari hal yang semacam itu.”
“Ini pertama;” kata kiai Syahid lebih lanjut, “kedua; karena ingin ikut mendapat ganjaran, kawan-kawan kampung selama ini, banyak yang menyumbangkan lampu-lampu petromaks, Alhamdulilah. Ada yang secara rutin menyumbangkan minyaknya. Kami tidak bisa begitu saja menyetop bantuan mereka dan mengecewakan keinginan mereka itu.”
Alhamdulillah, penjelasan dan alasan yang lugu dari kiai Syahid itu dapat diterima oleh umumnya para petinggi pemda yang hadir.
Meskipun mempunyai pesantren yang cukup luas, kiai Syahid mengajar dan mendidik tidak hanya di pesantrennya dan tidak hanya dengan kata-kata. Di mana saja, bahkan di sawah, beliau bisa mengajar. Kebanyakan ajarannya disampaikan tidak secara langsung; kadang-kadang melalui cerita; kadang-kadang sambil menunjuk fenomena sekitar; kadang-kadang justru seperti bertanya. Umumnya penekanan beliau ya sepeti selalu dikesankan oleh sikapnya sendiri: kepada penanaman landasan syukur dengan menyadarkan orang akan betapa tak terhitungnya kenikmatan dan anugerah Allah.
Hamba yang tidak tahu bersyukur bisa tampil menjadi orang yang congkak; bisa tampil menjadi orang yang tamak; dan yang terberat tampil menjadi orang yang kafir. Bukankah justru kufurr adalah kebalikan dari syukur? Waidz ta’dzdzana Rabbukum lain syakartum la aziidannakum walain kafartum inna ‘adzaabii lasyadied. (Q. 14: 7) “Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sungguh jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah anugerah nikmat kepadamu dan jika kamu mengkufuri anugerah nikmatKu, sesungguhnya azabKu sangat dahsyat.”
Sebaliknya hamba yang bersyukur mempunyai dada yang senantiasa lapang; tampil menjadi orang yang optimis; tampil menjadi orang yang pemurah; dan tampil menjadi orang yang bergairah melakukan ibadah.
Dan hari Jum’at, sayyidul ayyaam, tanggal 3 September 2004, kiai yang dicintai umatnya itu, sambil tersenyum, pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya menuju keharibaanNya. Innaa liLlahi wainnaa ilaiHi raaji’uun. Puluhan ribu manusia pun mengantarkan senyum syukur sang kiai dengan menangis.
Sumber : www.gusmus.net
Read More..
Setiap kiai mempunyai semacam dzikir unggulan yang selau mewarnai kalimat-kalimat yang diucapkannya. Ayah saya, al-Maghfur lah KH Bisri Mustofa, misalnya, dalam setiap pembicaraannya sehari-hari tak pernah sepi dari ucapan Laa ilaaha illaLlah. Ada kiai yang sebentar-sebentar mengucap SubhanaLlah; ada yang AstaghfiruLlah; Laa haulaa walaa quwwata illa biLlah; dsb.
Kiai Syahid lain lagi. Begitu seringnya beliau menyebut AlhamduliLlah, sampai-sampai ada yang menjulukinya Kiai Alhamdulillah dan menjuluki pesantrennya dengan Pesantren Alhamdulillah. Mereka yang pernah datang ke pesantren beliau, di desa Kemadu sekitar 9 km dari Rembang ke arah selatan, tidak hanya akan mendengar dzikir itu meluncur berulang-ulang dari mulut beliau, tapi juga akan merasakan muatan syukur yang dalam dari cara beliau melafalkannya. Alhamdulillah!
Boleh jadi kebiasaan menyeru Alhamdulillah ini dapat dijadikan kunci untuk memahami Kiai Syahid, kiai desa yang rendah hati ini. Setiap hari, puluhan bahkan terkadang ratusan tamu datang ingin bertemu beliau. Ada yang sekedar silaturrahim, ada yang hanya ingin kenalan, ada yang ingin mendapatkan doa-restunya, ada yang mengeluhkan berbagai masalah pribadi, dan terbanyak adalah mereka yang sekedar ingin memperoleh ketenangan batin.
Kiai Syahid memang seperti mempunyai hoby menyuguh tamu. Setiap hari rumahnya diserbu tamu dari berbagai kalangan. Tak peduli kebangsaannya; tak peduli keyakinannya; tak peduli ideologi politiknya; tak peduli status sosialnya; tak peduli jenis kelaminnya; siapa saja boleh datang dan beliau terima dengan ‘Alhamdulillah!’ (Terhitung mulai mBak Tutut, Suryadi, Gus Dur, mbak Mega, Martin Van Bruinessen, Danarto, Abdul Hadi WM, Almarhum Arifien C, Noor, Amak Baldjun, Dedi Mizwar, Neno Warisman, hingga engkoh Ong Ho agen Bus Malam, pernah datang ke kiai yang rendah hati ini). Syaratnya satu, kecuali yang sedang puasa di siang hari, setiap tamu harus makan di rumah beliau. Meski suguhannya ala kadarnya, tapi sikap beliau selalu membuat hidangan yang disuguhkannya dirasa nikmat oleh tamu-tamunya.
Meskipun kadang-kadang ada juga tamu yang tak tahu diri, datang tanpa mempertimbangkan waktu (pernah ada tamu rombongan dua bus tengah malam), beliau tetap menerimanya dengan ‘Alhamdulillah!’. Begitu cepatnya keluarga kiai kharismatik ini menyuguh hidangan makan, sampai-sampai cerpenis Danarto yang suka mentraktir jajan dan pernah menulis tentang Kiai Syahid dengan judul yang sama dengan tulisan ini, setelah berkunjung ke Kemadu, berkomentar, “Kiai Alhamdulillah itu jika menyuguh makanan kepada tamunya kok lebih cepat dari warung Padang!”
Beliau memang cukup kaya, beliau bertani dan berternak, namun orang yang pernah iseng menghitung-hitung tamu yang datang kepada beliau dan beaya untuk menjamu mereka setiap harinya, tetap saja bingung. Apalagi ada kebiasaan lain dari kiai yang satu ini, yaitu bila tamunya termasuk kenalan dekat, pulangnya selalu dibawai macam-macam hasil kebun atau ternaknya.
Karena kiai Syahid guru thariqah dan sekaligus kiai syariat, maka santri-santrinya terdiri dari kakek-kakek hingga kanak-kanak. Karena santrinya selalu bertambah, kiai Syahid tak henti-hentinya membangun tempat tinggal untuk santri-santrinya. Dalam setiap membangun, beliau sendiri selalu ikut terjun langsung bersama tukang-tukang dan menyemangati mereka dengan shalawat Nabi.
Bila saya datang, sering kali saya sengaja diajaknya keliling; melihat-lihat bangunan barunya. Dan selalu saja suasana syukur terasa menebar dari diri beliau, sebagaimana ketika beliau mengawani tamu-tamunya makan, sebagaimana juga ketika beliau menyelipkan “Alhamdulillah” dalam pembicaraannya. Seolah-olah beliau sengaja menularkan syukur dan mengajarkannya kepada mereka yang ada di sekeliling beliau.
Meski kiai Syahid dikenal begitu santun kepada setiap orang, namun dasar manusia, pernah juga beliau kena fitnah dari orang yang hasud. Ceritanya, pada waktu zaman orde baru, beliau pernah mendapat bantuan motor pembangkit listrik dari salah satu instansi pemerintah yang –seperti umumnya waktu itu— diakukan sebagai bantuan dari salah satu partai. Ketika bantuan itu tidak beliau terima, kepala kantor instansi yang bersangkutan mengadukannya kepada Muspida dan kiai Syahid pun dipanggil. Di hadapan muspida dan penjabat-pejabat lain serta beberapa kiai, seperti biasanya, dengan kalem kiai Syahid memberikan penjelasan: “Mohon maaf, Bapak-bapak, bukannya kami menolak anugerah yang diberikan pemerintah; sebaliknya, Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan berterimakasih sekali. Hanya saja kami menyadari kelemahan kami; dari kalangan pesantren kami belum ada yang terbiasa dengan mesin itu. Kami khawatir, bantuan yang diberikan dengan baik hati oleh pemerintah itu, tidak dapat kami rawat secara baik. Biasanya orang hanya berpikir senangnya saat menerima bantuan, namun lupa merawatnya. Kami menghindari hal yang semacam itu.”
“Ini pertama;” kata kiai Syahid lebih lanjut, “kedua; karena ingin ikut mendapat ganjaran, kawan-kawan kampung selama ini, banyak yang menyumbangkan lampu-lampu petromaks, Alhamdulilah. Ada yang secara rutin menyumbangkan minyaknya. Kami tidak bisa begitu saja menyetop bantuan mereka dan mengecewakan keinginan mereka itu.”
Alhamdulillah, penjelasan dan alasan yang lugu dari kiai Syahid itu dapat diterima oleh umumnya para petinggi pemda yang hadir.
Meskipun mempunyai pesantren yang cukup luas, kiai Syahid mengajar dan mendidik tidak hanya di pesantrennya dan tidak hanya dengan kata-kata. Di mana saja, bahkan di sawah, beliau bisa mengajar. Kebanyakan ajarannya disampaikan tidak secara langsung; kadang-kadang melalui cerita; kadang-kadang sambil menunjuk fenomena sekitar; kadang-kadang justru seperti bertanya. Umumnya penekanan beliau ya sepeti selalu dikesankan oleh sikapnya sendiri: kepada penanaman landasan syukur dengan menyadarkan orang akan betapa tak terhitungnya kenikmatan dan anugerah Allah.
Hamba yang tidak tahu bersyukur bisa tampil menjadi orang yang congkak; bisa tampil menjadi orang yang tamak; dan yang terberat tampil menjadi orang yang kafir. Bukankah justru kufurr adalah kebalikan dari syukur? Waidz ta’dzdzana Rabbukum lain syakartum la aziidannakum walain kafartum inna ‘adzaabii lasyadied. (Q. 14: 7) “Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sungguh jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah anugerah nikmat kepadamu dan jika kamu mengkufuri anugerah nikmatKu, sesungguhnya azabKu sangat dahsyat.”
Sebaliknya hamba yang bersyukur mempunyai dada yang senantiasa lapang; tampil menjadi orang yang optimis; tampil menjadi orang yang pemurah; dan tampil menjadi orang yang bergairah melakukan ibadah.
Dan hari Jum’at, sayyidul ayyaam, tanggal 3 September 2004, kiai yang dicintai umatnya itu, sambil tersenyum, pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya menuju keharibaanNya. Innaa liLlahi wainnaa ilaiHi raaji’uun. Puluhan ribu manusia pun mengantarkan senyum syukur sang kiai dengan menangis.
Sumber : www.gusmus.net
Read More..
Mintalah, maka Kamu Akan Diberi!
Grow with Character (19/100) Series by Hermawan Kartajaya
Mintalah, maka Kamu Akan Diberi!
PERJALANAN awal MarkPlus Professional Service tidak semulus yang saya kira. Padahal, personal brand awareness saya sudah cukup tinggi berkat menulis di Jawa Pos tiap Rabu (sejak masih di PT Panggung Electronic Industries dan dilanjutkan ketika di Sampoerna). Personal brand association saya juga sudah sangat "tajam", karena selalu dan hanya menulis dari "angle" marketing. Kalau dihitung secara kasar saja, tiga tahun berturut-turut waktu itu berarti sudah 150 tulisan marketing saya keluar di Jawa Pos.
Kehadiran saya di Rotary Club Surabaya Rungkut pun membantu terjadinya network. Di sanalah saya mulai menawarkan diri untuk bicara secara "gratis" di perusahaan-perusahaan teman saya. Itu pun susah!
Mereka suka membaca tulisan saya karena mudah dicerna, tapi tak mau spend waktu untuk anak buah. Mereka takut kalau saya hanya omong kosong. Untungnya, waktu itu, saya punya kegiatan lain. Yaitu, mengajar secara part-time di Fakultas Ekonomi Ubaya bersama mantan pembimbing skripsi saya di situ, Pak Henky Supit, yang sekarang profesor. Selain itu, saya mengaktifkan diri di Indonesia Marketing Club atau IMC Cabang Surabaya. Pokoknya, supaya kelihatan sibuk, saya harus pergi keluar rumah setiap hari!
Kalau cuma di rumah di Jalan Taman Prapen Indah C 8, Surabaya, saya malu sama tetangga! Karena itu, setiap hari saya harus keluar rumah, nyetir Corolla cicilan ke mana aja. Mengunjungi kantor teman untuk menjajakan diri, tapi tidak laku! Gratis sekalipun.
Semua orang yang dulu hormat, ketika saya masih jadi direktur PT HM Sampoerna, kayak ogah ditemui. Padahal, dulu mereka yang mencari-cari saya. Minta tambahan jatah rokok atau minta sumbangan, bahkan sponsorship. Terus terang, sesudah sebulan saya agak putus asa. Mau balik kerja sama orang malu, mau meneruskan rasanya berat sekali. Tapi, saya tidak boleh terlihat seperti itu di rumah maupun di depan teman-teman.
Setiap malam saya sedih melihat kedua anak saya yang masih kecil, Michael dan Stephanie. Saya tidak khawatir akan saya sendiri, tapi khawatir akan nasib mereka yang masih sekolah di Santa Maria. Di malam hari, beberapa kali saya mengeluarkan air mata secara tidak sengaja.
Tapi, bagaimanapun, saya harus bertahan! Caranya? Akhirnya, saya mengambil keputusan untuk menghadap kepada Pak Putera Sampoerna. Saya ajak Mike (panggilan Michael, anak Hermawan, Red) dan saya brief dia di mobil bahwa saya akan "minta job" kepada Pak Putera. Maksudnya, supaya dia bisa mengerti "perjuangan" saya untuk minta job. Tapi juga, untuk meng-create efek psikologis Pak Putera.
Kami berdua diterima Pak Putera Sampoerna di kamar kerjanya kira-kira pukul tujuh malam. Michael yang belum besar kelihatan "prihatin" akan suasana yang agak "tegang", terutama ketika saya mulai berbicara.
Saya langsung melaporkan bahwa saya sudah mengembalikan Toyota Crown Saloon dan terima kasih karena utang saya dihapus. Saya memang berutang ketika saya masih bekerja di Sampoerna untuk ambil MSc in Marketing dari Graduate School of Business dari University of Strathclyde (by distance learning). Artinya, saya tidak perlu ke Inggris, tapi cukup belajar dari bahan yang dikirim, ikut tutorial di Singapura, dan ujian di British Council.
Saya mengambil keputusan itu supaya punya ijazah S-2 tanpa meninggalkan pekerjaan. Strathclyde dipilih, karena saya lihat rankingnya paling tinggi di antara distance learning program lain waktu itu.
Kalau sekolah full time di sana, hanya empat kuartal atau setahun. Kalau distance learning harus empat semester atau dua tahun. Ketika saya keluar dari Sampoerna, saya sudah menyelesaikan tiga semester dengan baik.
Semester empat yang berupa tesis paling merepotkan saya. Komunikasi dengan pembimbing susah, apalagi bahasa Inggris saya kan memang kurang bagus untuk menulis sebuah tesis. Tapi lumayan, paling tidak sudah lunas utang saya untuk bayar uang sekolah yang harus dibayar sebelumnya.
Balik pada cerita saya, sesudah melaporkan kedua hal tadi, saya langsung saja minta tolong kepada Pak Putera untuk diberi "pelaris". Saya mengaku saja kalau belum laku!
Dalam waktu setengah jam, Putera Sampoerna setuju untuk memberikan job training kepada mantan anak buah saya sendiri di divisi distribusi di seluruh Indonesia selama satu tahun. Itulah job pertama saya! Sebuah kontrak besar! Langsung saja, saya terharu dan merangkul Mike dalam perjalanan pulang ke rumah. Lega rasanya, setelah sebulan tidak dapat job apa pun.
Saya masih ingat, waktu itu total kontrak setahun yang saya dapat sebanyak dua setengah kali dari gaji saya setahun sebagai direktur! Terus terang, inilah "aliran transfusi darah" pertama supaya MarkPlus Professional Service tidak jadi "mak" dan "plus"!
Nah, dengan adanya buffer itu, saya dapat hidup tenang paling tidak setahun. Selain itu, ada kesempatan untuk mulai mencari pembantu administrasi, kantor. dan mengembangkan network di luar kota.
Pelajaran apa yang saya dapat di sini? Saya menjual paket training besar kepada eks bos saya untuk melatih eks anak buah saya sendiri dalam situasi psikologis yang tepat! Selain itu? Sebenarnya saya tidak menjual, tapi meminta pada saat yang tepat (Pak Putera lagi rileks di sore hari) dalam situasi psikologis yang tepat pula (ada Mike di situ). Suatu peristiwa yang tidak akan pernah bisa saya lupakan sampai kapan pun! (el)
Read More..
Mintalah, maka Kamu Akan Diberi!
PERJALANAN awal MarkPlus Professional Service tidak semulus yang saya kira. Padahal, personal brand awareness saya sudah cukup tinggi berkat menulis di Jawa Pos tiap Rabu (sejak masih di PT Panggung Electronic Industries dan dilanjutkan ketika di Sampoerna). Personal brand association saya juga sudah sangat "tajam", karena selalu dan hanya menulis dari "angle" marketing. Kalau dihitung secara kasar saja, tiga tahun berturut-turut waktu itu berarti sudah 150 tulisan marketing saya keluar di Jawa Pos.
Kehadiran saya di Rotary Club Surabaya Rungkut pun membantu terjadinya network. Di sanalah saya mulai menawarkan diri untuk bicara secara "gratis" di perusahaan-perusahaan teman saya. Itu pun susah!
Mereka suka membaca tulisan saya karena mudah dicerna, tapi tak mau spend waktu untuk anak buah. Mereka takut kalau saya hanya omong kosong. Untungnya, waktu itu, saya punya kegiatan lain. Yaitu, mengajar secara part-time di Fakultas Ekonomi Ubaya bersama mantan pembimbing skripsi saya di situ, Pak Henky Supit, yang sekarang profesor. Selain itu, saya mengaktifkan diri di Indonesia Marketing Club atau IMC Cabang Surabaya. Pokoknya, supaya kelihatan sibuk, saya harus pergi keluar rumah setiap hari!
Kalau cuma di rumah di Jalan Taman Prapen Indah C 8, Surabaya, saya malu sama tetangga! Karena itu, setiap hari saya harus keluar rumah, nyetir Corolla cicilan ke mana aja. Mengunjungi kantor teman untuk menjajakan diri, tapi tidak laku! Gratis sekalipun.
Semua orang yang dulu hormat, ketika saya masih jadi direktur PT HM Sampoerna, kayak ogah ditemui. Padahal, dulu mereka yang mencari-cari saya. Minta tambahan jatah rokok atau minta sumbangan, bahkan sponsorship. Terus terang, sesudah sebulan saya agak putus asa. Mau balik kerja sama orang malu, mau meneruskan rasanya berat sekali. Tapi, saya tidak boleh terlihat seperti itu di rumah maupun di depan teman-teman.
Setiap malam saya sedih melihat kedua anak saya yang masih kecil, Michael dan Stephanie. Saya tidak khawatir akan saya sendiri, tapi khawatir akan nasib mereka yang masih sekolah di Santa Maria. Di malam hari, beberapa kali saya mengeluarkan air mata secara tidak sengaja.
Tapi, bagaimanapun, saya harus bertahan! Caranya? Akhirnya, saya mengambil keputusan untuk menghadap kepada Pak Putera Sampoerna. Saya ajak Mike (panggilan Michael, anak Hermawan, Red) dan saya brief dia di mobil bahwa saya akan "minta job" kepada Pak Putera. Maksudnya, supaya dia bisa mengerti "perjuangan" saya untuk minta job. Tapi juga, untuk meng-create efek psikologis Pak Putera.
Kami berdua diterima Pak Putera Sampoerna di kamar kerjanya kira-kira pukul tujuh malam. Michael yang belum besar kelihatan "prihatin" akan suasana yang agak "tegang", terutama ketika saya mulai berbicara.
Saya langsung melaporkan bahwa saya sudah mengembalikan Toyota Crown Saloon dan terima kasih karena utang saya dihapus. Saya memang berutang ketika saya masih bekerja di Sampoerna untuk ambil MSc in Marketing dari Graduate School of Business dari University of Strathclyde (by distance learning). Artinya, saya tidak perlu ke Inggris, tapi cukup belajar dari bahan yang dikirim, ikut tutorial di Singapura, dan ujian di British Council.
Saya mengambil keputusan itu supaya punya ijazah S-2 tanpa meninggalkan pekerjaan. Strathclyde dipilih, karena saya lihat rankingnya paling tinggi di antara distance learning program lain waktu itu.
Kalau sekolah full time di sana, hanya empat kuartal atau setahun. Kalau distance learning harus empat semester atau dua tahun. Ketika saya keluar dari Sampoerna, saya sudah menyelesaikan tiga semester dengan baik.
Semester empat yang berupa tesis paling merepotkan saya. Komunikasi dengan pembimbing susah, apalagi bahasa Inggris saya kan memang kurang bagus untuk menulis sebuah tesis. Tapi lumayan, paling tidak sudah lunas utang saya untuk bayar uang sekolah yang harus dibayar sebelumnya.
Balik pada cerita saya, sesudah melaporkan kedua hal tadi, saya langsung saja minta tolong kepada Pak Putera untuk diberi "pelaris". Saya mengaku saja kalau belum laku!
Dalam waktu setengah jam, Putera Sampoerna setuju untuk memberikan job training kepada mantan anak buah saya sendiri di divisi distribusi di seluruh Indonesia selama satu tahun. Itulah job pertama saya! Sebuah kontrak besar! Langsung saja, saya terharu dan merangkul Mike dalam perjalanan pulang ke rumah. Lega rasanya, setelah sebulan tidak dapat job apa pun.
Saya masih ingat, waktu itu total kontrak setahun yang saya dapat sebanyak dua setengah kali dari gaji saya setahun sebagai direktur! Terus terang, inilah "aliran transfusi darah" pertama supaya MarkPlus Professional Service tidak jadi "mak" dan "plus"!
Nah, dengan adanya buffer itu, saya dapat hidup tenang paling tidak setahun. Selain itu, ada kesempatan untuk mulai mencari pembantu administrasi, kantor. dan mengembangkan network di luar kota.
Pelajaran apa yang saya dapat di sini? Saya menjual paket training besar kepada eks bos saya untuk melatih eks anak buah saya sendiri dalam situasi psikologis yang tepat! Selain itu? Sebenarnya saya tidak menjual, tapi meminta pada saat yang tepat (Pak Putera lagi rileks di sore hari) dalam situasi psikologis yang tepat pula (ada Mike di situ). Suatu peristiwa yang tidak akan pernah bisa saya lupakan sampai kapan pun! (el)
Read More..
Sabtu, 06 Februari 2010
Brand Must Reflect "Reason for Being"
Grow with Character! (18/100) Series by Hermawan Kartajaya
Brand Must Reflect "Reason for Being"
MarkPlus adalah Marketing Plus! Hal itu terlihat di logo pertama yang saya buat. Ada sembilan kotak bujur sangkar kecil yang saya susun tiga kali tiga.
Pada tiga kotak pada baris paling atas, saya pasang huruf M-A-R. Pada tiga kotak pada baris kedua, saya taruh K-E-T. Susunan huruf pada baris terakhir adalah I-N-G. Jadi, kalau dibaca: MAR-KET-ING.
Untuk menggambarkan Plus, saya mainkan warna hitam dan putih. Di baris atas, huruf M warna hitam dengan latar belakang putih. A warna putih di atas kotak hitam dan R warna hitam di atas putih. K-E-T ketiganya putih di atas kotak-kotak hitam. Akhirnya, balik lagi seperti baris pertama, I hitam di atas putih, N putih di atas hitam, dan G hitam di atas putih.
Dengan demikian, latar belakang MAR-KET-ING akan terbaca sebagai black cross.
Semuanya jelas dan gamblang, bahwa saya memang ingin mengatakan bahwa business is marketing plus others. Artinya, semua fungsi lain seperti finance, operation, dan human resources mengikuti keputusan pemasaran.
Jadi, sejak awal pendirian MarkPlus Professional Service di Surabaya tanggal 1 Mei 1990, saya sudah ingin melakukan "redefinition" of marketing. Saya sangat percaya bahwa marketing merupakan "fungsi" yang punya level lebih tinggi daripada lainnya. Waktu itu, saya sangat kagum pada Unilever yang sangat "marketing".
Di Unilever, waktu itu marketing director punya posisi diatas "setengah tingkat" daripada direktur lainnya. Hal itu "diakui dan diterima" secara alamiah.
Saya jadi semakin kagum pada Unilever waktu itu, ketika sempat mengunjungi pabriknya. Biasa saja, tidak ada yang istimewa.Teman saya, Pak Ibnu yang waktu itu human resources manager, mengatakan bahwa rahasia terbesar Unilever adalah brand-nya. "Kalau saja besok pabrik Unilever ini terbakar, Pepsodent tetap adalah brand besar dan bisa diproduksi di pabrik mana saja." Belakangan saya semakin mengerti pentingnya brand ketika tahu bahwa Nike bahkan tidak punya pabrik satu pun! Tapi, mereka punya brand yang kuat!
Semua fungsi lain diarahkan untuk "men-support" keputusan marketing yang sangat penting itu. R & D diarahkan untuk membuat produk-produk yang sesuai dengan "arahan" brand yang ditentukan sebelumnya. Di kasus Pepsodent, waktu itu "gigi putih" adalah strategi yang dipakai untuk Pepsodent. Kalau yang terjadi sebaliknya, malah bahaya!
Membuat produk-produk lebih dulu yang dianggap "bagus dan kompetitif", tapi tidak sesuai dengan "gigi putih". Akhirnya, brand akan jadi lemah dan produk pun tidak laku!
Begitu juga produksi. Kualitas pasta gigi untuk membuat "gigi putih" itu mesti dijaga supaya sesuai dengan brand promise. Sumber daya manusia yang direkrut pun sejak awal sudah harus mengerti hal itu.
Finance pun diarahkan untuk "membiayai" supaya "gigi putih" itu akan semakin menjadi kenyataan dan semakin banyak pemakainya. Karena itu, spending dalam bentuk iklan, penelitian dan pengembangan, pelatihan SDM, dan sebagainya juga jadi terarah!
Bagaimana channel? Wah, para distributor Unilever jadi "nurut" saja pada permintaan Unilever untuk melakukan investment di infrastuktur seperti mobil kanvas, gudang, atau komputer! Kenapa?
Ya karena Unilever punya bargaining position kuat lantaran punya brand yang kuat! Bahkan, distributor pun "rela" diatur oleh Unilever dalam hal order barang dan harga jual ke retailer! Sekali lagi, semua itu terjadi karena ada brand yang kuat!
Terus terang, itulah yang saya lakukan pada hari pertama MarkPlus: menentukan "arah" atau bahkan reason for being bagi kelahiran MarkPlus Professional Service. Kalau tidak ada alasan yang kuat dan unik dalam mendirikan suatu perusahaan, aktivitas lain akan jadi "sporadik".
Buat saya, business is marketing plus others adalah reason for being, bukan sekadar suatu Logo. Saya sangat yakin bahwa hal itu sangat benar adanya. Juga, semua produk saya dan semua aktivitas harus menunjang hal itu!
Saya juga percaya bahwa logo harus jelas dan gampang dimengerti.
Apalagi kalau saya mendirikan suatu perusahaan baru yang belum dikenal!
Saya masih ingat, kata-kata Putera Sampoerna bahwa makna SAMPOERNA yang juga sembilan huruf itu jauh "lebih bagus" daripada Dji Sam Soe yang waktu itu lebih dikenal! Karena itulah, keputusan dia adalah memakai Sampoerna sebagai corporate brand, bukan Dji Sam Soe! Dengan demikian, semua aktivitas harus diarahkan untuk menjamin "ke-Sampoerna-an"!
Lantaran begitu terobsesinya saya pada kekeramatan angka sembilan, saya sampai percaya bahwa logo MARKETING yang berjumlah sembilan huruf itu akan membawa hokkie pada saya. Karena itu, saya tetap percaya bahwa MarkPlus tidak akan "mak" atau mulai dan "plus" atau mati dalam waktu tiga bulan, seperti ramalan teman saya.
Pelajarannya?
Mulailah dengan logo dengan "makna yang dalam" sebagai reason for being bagi suatu perusahaan baru! (*)
Read More..
Brand Must Reflect "Reason for Being"
MarkPlus adalah Marketing Plus! Hal itu terlihat di logo pertama yang saya buat. Ada sembilan kotak bujur sangkar kecil yang saya susun tiga kali tiga.
Pada tiga kotak pada baris paling atas, saya pasang huruf M-A-R. Pada tiga kotak pada baris kedua, saya taruh K-E-T. Susunan huruf pada baris terakhir adalah I-N-G. Jadi, kalau dibaca: MAR-KET-ING.
Untuk menggambarkan Plus, saya mainkan warna hitam dan putih. Di baris atas, huruf M warna hitam dengan latar belakang putih. A warna putih di atas kotak hitam dan R warna hitam di atas putih. K-E-T ketiganya putih di atas kotak-kotak hitam. Akhirnya, balik lagi seperti baris pertama, I hitam di atas putih, N putih di atas hitam, dan G hitam di atas putih.
Dengan demikian, latar belakang MAR-KET-ING akan terbaca sebagai black cross.
Semuanya jelas dan gamblang, bahwa saya memang ingin mengatakan bahwa business is marketing plus others. Artinya, semua fungsi lain seperti finance, operation, dan human resources mengikuti keputusan pemasaran.
Jadi, sejak awal pendirian MarkPlus Professional Service di Surabaya tanggal 1 Mei 1990, saya sudah ingin melakukan "redefinition" of marketing. Saya sangat percaya bahwa marketing merupakan "fungsi" yang punya level lebih tinggi daripada lainnya. Waktu itu, saya sangat kagum pada Unilever yang sangat "marketing".
Di Unilever, waktu itu marketing director punya posisi diatas "setengah tingkat" daripada direktur lainnya. Hal itu "diakui dan diterima" secara alamiah.
Saya jadi semakin kagum pada Unilever waktu itu, ketika sempat mengunjungi pabriknya. Biasa saja, tidak ada yang istimewa.Teman saya, Pak Ibnu yang waktu itu human resources manager, mengatakan bahwa rahasia terbesar Unilever adalah brand-nya. "Kalau saja besok pabrik Unilever ini terbakar, Pepsodent tetap adalah brand besar dan bisa diproduksi di pabrik mana saja." Belakangan saya semakin mengerti pentingnya brand ketika tahu bahwa Nike bahkan tidak punya pabrik satu pun! Tapi, mereka punya brand yang kuat!
Semua fungsi lain diarahkan untuk "men-support" keputusan marketing yang sangat penting itu. R & D diarahkan untuk membuat produk-produk yang sesuai dengan "arahan" brand yang ditentukan sebelumnya. Di kasus Pepsodent, waktu itu "gigi putih" adalah strategi yang dipakai untuk Pepsodent. Kalau yang terjadi sebaliknya, malah bahaya!
Membuat produk-produk lebih dulu yang dianggap "bagus dan kompetitif", tapi tidak sesuai dengan "gigi putih". Akhirnya, brand akan jadi lemah dan produk pun tidak laku!
Begitu juga produksi. Kualitas pasta gigi untuk membuat "gigi putih" itu mesti dijaga supaya sesuai dengan brand promise. Sumber daya manusia yang direkrut pun sejak awal sudah harus mengerti hal itu.
Finance pun diarahkan untuk "membiayai" supaya "gigi putih" itu akan semakin menjadi kenyataan dan semakin banyak pemakainya. Karena itu, spending dalam bentuk iklan, penelitian dan pengembangan, pelatihan SDM, dan sebagainya juga jadi terarah!
Bagaimana channel? Wah, para distributor Unilever jadi "nurut" saja pada permintaan Unilever untuk melakukan investment di infrastuktur seperti mobil kanvas, gudang, atau komputer! Kenapa?
Ya karena Unilever punya bargaining position kuat lantaran punya brand yang kuat! Bahkan, distributor pun "rela" diatur oleh Unilever dalam hal order barang dan harga jual ke retailer! Sekali lagi, semua itu terjadi karena ada brand yang kuat!
Terus terang, itulah yang saya lakukan pada hari pertama MarkPlus: menentukan "arah" atau bahkan reason for being bagi kelahiran MarkPlus Professional Service. Kalau tidak ada alasan yang kuat dan unik dalam mendirikan suatu perusahaan, aktivitas lain akan jadi "sporadik".
Buat saya, business is marketing plus others adalah reason for being, bukan sekadar suatu Logo. Saya sangat yakin bahwa hal itu sangat benar adanya. Juga, semua produk saya dan semua aktivitas harus menunjang hal itu!
Saya juga percaya bahwa logo harus jelas dan gampang dimengerti.
Apalagi kalau saya mendirikan suatu perusahaan baru yang belum dikenal!
Saya masih ingat, kata-kata Putera Sampoerna bahwa makna SAMPOERNA yang juga sembilan huruf itu jauh "lebih bagus" daripada Dji Sam Soe yang waktu itu lebih dikenal! Karena itulah, keputusan dia adalah memakai Sampoerna sebagai corporate brand, bukan Dji Sam Soe! Dengan demikian, semua aktivitas harus diarahkan untuk menjamin "ke-Sampoerna-an"!
Lantaran begitu terobsesinya saya pada kekeramatan angka sembilan, saya sampai percaya bahwa logo MARKETING yang berjumlah sembilan huruf itu akan membawa hokkie pada saya. Karena itu, saya tetap percaya bahwa MarkPlus tidak akan "mak" atau mulai dan "plus" atau mati dalam waktu tiga bulan, seperti ramalan teman saya.
Pelajarannya?
Mulailah dengan logo dengan "makna yang dalam" sebagai reason for being bagi suatu perusahaan baru! (*)
Read More..
Jumat, 05 Februari 2010
Menjadi Ikan Besar di Kolam Kecil!
Grow with Character! (17/100) Series by Hermawan Kartajaya
Menjadi Ikan Besar di Kolam Kecil!
TERUS terang, hari-hari pertama setelah saya mendirikan MarkPlus Professional Service di Surabaya pada 1 Mei 1990, saya gelisah. Biasanya naik Toyota Crown Salon, lantas naik Toyota Corolla. Cicilian lagi! Baru kasih uang muka Rp 20 juta dan ngutang 24 bulan. Itu pun belum pasti bisa bayar lunas.
Kartu nama yang semula direktur PT HM Sampoerna menjadi MarkPlus Professional Service tanpa jabatan. Malu soalnya. Masa ditulis direktur atau managing director, gak punya karyawan sama sekali. Perusahaan satu orang atau one man show.... Alamatnya dari pabrik Sampoerna di SIER ganti ke alamat rumah Taman Prapen Indah C 8.
Terus terang, waktu itu saya minder setiap ditanya orang. Mengapa kok keluar dari Sampoerna?
Jarang sekali ada orang yang sudah menjadi direktur di perusahaan besar mau resign kalau gak ada masalah. Tidak sedikit yang bertanya, apakah saya di-kick out karena korupsi? Maklum, hal itu memang terjadi lebih dari sekali pada waktu yang lalu.
Apalagi, jabatan direktur distribusi Sampoerna memang cukup ''rawan''. Penuh godaan. Para pedagang besar sering menggoda untuk minta jatah Dji Sam Soe lebih besar untuk ''menguasai'' pasar. Sebab, Dji Sam Soe memang tidak punya pesaing. Jadi, penguasaan suplai bisa menentukan harga! Itulah ciri-ciri pasar monopoli.
Sedangkan di dalam situasi persaingan murni, penguasaan salah satu brand tidak ada artinya. Alasannya, itu bisa di-substitute dengan mudah oleh brand lain. Satu-satunya hal yang ''menghibur'' saya waktu itu cuma adanya kebebasan pakai baju kerja dan dasi tiap hari!
Terus terang, ini yang saya dambakan waktu di Sampoerna. Sebab, waktu itu semua orang, termasuk Pak Putera Sampoerna, harus pakai batik seragam tiap hari. Jadi gak ada kesempatan untuk pakai dasi!
Karena belum laku, kegiatan rutin satu-satunya adalah menghadiri pertemuan mingguan Rotary Club Surabaya Rungkut. Lumayan enak sih. Dulu, kalau hadir di meeting, saya selalu khawatir dipanggil ke kantor. Waktu sudah tidak di Sampoerna, gak ada yang nyari lagi. Ikut pertemuan bisa sampai habis, bahkan masih bisa ngobrol sesudah pertemuan.
Kali pertama saya hadir di pertemuan Rotary tanpa batik, teman-teman tahu bahwa saya sudah ''nekat'' keluar dari Sampoerna. Seorang Rotarian teman saya se-club yang konsultan pajak sempat bertanya apakah keputusan saya benar? Apa lagi buka konsultan di bidang marketing yang waktu itu gak dimengerti orang. Tolong diingat-ingat, waktu itu masih 1 Mei 1990, Pak Harto masih ''kuat-kuat''-nya.
KKN masih sangat menentukan kejayaan bisnis, bukan competitiveness. Monopoli dan lobi jauh lebih menentukan daripada marketing dan entrepreneurship! Teman saya tadi sampai bilang: ''Siapa yang ngerti marketing? Lebih baik ganti haluan menjadi konsultan accounting atau pajak. Pasti ada pasarnya, bahkan gede banget. Sebab, semua orang pasti membutuhkan pembukuan dan bayar pajak!''
Tapi, saya langsung menirukan apa yang pernah dikatakan Putera Sampoerna kepada saya. ''It is better to be a Big Fish in a Small Pond than to be a Big Fish in a Big Pond!'' Pasar konsultasi accounting dan tax memang besar sekali. Tapi, pemainnya sudah sangat banyak. Sudah banyak pemain besar dan saya akan menjadi ''pecundang''.
Dji Sam Soe sendirian di pasar yang tidak besar. Saya pun pengin MarkPlus menjadi sendirian di pasar konsultan marketing yang baru saya ''mulai'' sendiri! Bahkan, teman saya tadi sempat meramal umur MarkPlus hanya akan ''tiga bulan''.
Namanya aja MarkPlus, jadi pasti ''mak'' dan ''plus''! Artinya, muncul sekarang dan mati tiga bulan lagi! Itulah yang justru memberikan semangat saya untuk bangkit. (*)
Read More..
Menjadi Ikan Besar di Kolam Kecil!
TERUS terang, hari-hari pertama setelah saya mendirikan MarkPlus Professional Service di Surabaya pada 1 Mei 1990, saya gelisah. Biasanya naik Toyota Crown Salon, lantas naik Toyota Corolla. Cicilian lagi! Baru kasih uang muka Rp 20 juta dan ngutang 24 bulan. Itu pun belum pasti bisa bayar lunas.
Kartu nama yang semula direktur PT HM Sampoerna menjadi MarkPlus Professional Service tanpa jabatan. Malu soalnya. Masa ditulis direktur atau managing director, gak punya karyawan sama sekali. Perusahaan satu orang atau one man show.... Alamatnya dari pabrik Sampoerna di SIER ganti ke alamat rumah Taman Prapen Indah C 8.
Terus terang, waktu itu saya minder setiap ditanya orang. Mengapa kok keluar dari Sampoerna?
Jarang sekali ada orang yang sudah menjadi direktur di perusahaan besar mau resign kalau gak ada masalah. Tidak sedikit yang bertanya, apakah saya di-kick out karena korupsi? Maklum, hal itu memang terjadi lebih dari sekali pada waktu yang lalu.
Apalagi, jabatan direktur distribusi Sampoerna memang cukup ''rawan''. Penuh godaan. Para pedagang besar sering menggoda untuk minta jatah Dji Sam Soe lebih besar untuk ''menguasai'' pasar. Sebab, Dji Sam Soe memang tidak punya pesaing. Jadi, penguasaan suplai bisa menentukan harga! Itulah ciri-ciri pasar monopoli.
Sedangkan di dalam situasi persaingan murni, penguasaan salah satu brand tidak ada artinya. Alasannya, itu bisa di-substitute dengan mudah oleh brand lain. Satu-satunya hal yang ''menghibur'' saya waktu itu cuma adanya kebebasan pakai baju kerja dan dasi tiap hari!
Terus terang, ini yang saya dambakan waktu di Sampoerna. Sebab, waktu itu semua orang, termasuk Pak Putera Sampoerna, harus pakai batik seragam tiap hari. Jadi gak ada kesempatan untuk pakai dasi!
Karena belum laku, kegiatan rutin satu-satunya adalah menghadiri pertemuan mingguan Rotary Club Surabaya Rungkut. Lumayan enak sih. Dulu, kalau hadir di meeting, saya selalu khawatir dipanggil ke kantor. Waktu sudah tidak di Sampoerna, gak ada yang nyari lagi. Ikut pertemuan bisa sampai habis, bahkan masih bisa ngobrol sesudah pertemuan.
Kali pertama saya hadir di pertemuan Rotary tanpa batik, teman-teman tahu bahwa saya sudah ''nekat'' keluar dari Sampoerna. Seorang Rotarian teman saya se-club yang konsultan pajak sempat bertanya apakah keputusan saya benar? Apa lagi buka konsultan di bidang marketing yang waktu itu gak dimengerti orang. Tolong diingat-ingat, waktu itu masih 1 Mei 1990, Pak Harto masih ''kuat-kuat''-nya.
KKN masih sangat menentukan kejayaan bisnis, bukan competitiveness. Monopoli dan lobi jauh lebih menentukan daripada marketing dan entrepreneurship! Teman saya tadi sampai bilang: ''Siapa yang ngerti marketing? Lebih baik ganti haluan menjadi konsultan accounting atau pajak. Pasti ada pasarnya, bahkan gede banget. Sebab, semua orang pasti membutuhkan pembukuan dan bayar pajak!''
Tapi, saya langsung menirukan apa yang pernah dikatakan Putera Sampoerna kepada saya. ''It is better to be a Big Fish in a Small Pond than to be a Big Fish in a Big Pond!'' Pasar konsultasi accounting dan tax memang besar sekali. Tapi, pemainnya sudah sangat banyak. Sudah banyak pemain besar dan saya akan menjadi ''pecundang''.
Dji Sam Soe sendirian di pasar yang tidak besar. Saya pun pengin MarkPlus menjadi sendirian di pasar konsultan marketing yang baru saya ''mulai'' sendiri! Bahkan, teman saya tadi sempat meramal umur MarkPlus hanya akan ''tiga bulan''.
Namanya aja MarkPlus, jadi pasti ''mak'' dan ''plus''! Artinya, muncul sekarang dan mati tiga bulan lagi! Itulah yang justru memberikan semangat saya untuk bangkit. (*)
Read More..
Rabu, 03 Februari 2010
Karyawan Bermental Pengusaha, Pengusaha Berjiwa Karyawan
Grow with Character! (15/100) Series by Hermawan Kartajaya
Karyawan Bermental Pengusaha, Pengusaha Berjiwa Karyawan
SATU hal yang saya lihat konsisten pada diri Pak Ciputra sejak dulu sampai sekarang ialah entrepreneurship. Beliau percaya bahwa inilah yang akan membawa Indonesia maju. Tanpa entrepreneurship, sebuah negara tidak akan maju.
Menurut Pak Ciputra, paling tidak lima persen penduduk sebuah negara haruslah berjiwa pengusaha. Jadi pengusaha sungguhan atau tetap bekerja pada orang lain, tapi punya jiwa pengusaha. Buat saya, kalau Anda karyawan tapi menganggap perusahaan tempat Anda bekerja sebagai perusahaan sendiri, dampaknya akan lain. Bukan cuma pada perusahaannya, tapi terutama pada diri sendiri. Itu yang kurang disadari orang.
Banyak yang berpikir bahwa dia merasa "rugi" kalau menganggap perusahaan tempat dia bekerja kayak perusahaan sendiri. "Kok enak..rugi dong aku...nanti aja kalau aku sudah punya perusahaan sendiri, baru begitu..." Itu alasan orang yang gak mau jadi intrapreneur.
Pak Ci "mengajarkan" kepada saya bahwa orang seperti itu rugi sendiri. Tidak memanfaatkan kesempatan yang ada. Memang, harus diakui, tidak semua perusahaan memberikan kesempatan kepada Anda seperti itu. Harus diakui, susah juga kalau Anda bekerja di divisi produksi, operasi, atau administrasi yang rutin.
Tugasnya hanya melakukan sesuatu menurut SOP (standar operasi prosedur), bahkan tidak boleh berinovasi sedikit pun. Tapi, bila ada bos seperti Pak Ciputra yang selalu "menantang" karyawannya untuk mempunyai jiwa entrepreneurship di perusahaannya, rugi besar kalau tidak diambil.
John Kao adalah bekas profesor di Harvard Business School yang juga produsen film Sex, Lies, and Videotape. Dia melakukan survei entrepreneurship dan menemukan bedanya dengan profesional murni.
Katanya, ada tiga yang paling utama. Pertama, seorang entrepreneur pintar melihat peluang atau opportunity. Sedangkan, seorang profesional lebih suka melihat sisi threat atau ancaman dari suatu situasi.
Situasinya bisa sama, tapi yang satu dilihat sisi positifnya, sedangkan yang satu dari sisi negatifnya.
Tahu cerita orang yang dikirim bosnya untuk survei sepatu di suatu pulau? Ketika balik ke bos yang minta dia survei, si karyawan mengatakan bahwa di sana tidak ada peluang. Kenapa? Di pulau itu tidak ada orang pakai sepatu. Semuanya masih pakai sandal.
Buat si bos, kata "masih" itu jadi peluang untuk ngajarin mereka pakai sepatu. Jadi, peluangnya sangat besar! Sedangkan, si karyawan yang tidak punya jiwa entrepreneurship bilang begitu karena melihat ancaman. Ancaman untuk sebuah tugas jualan sepatu di situ. Maunya cuma jual sepatu di tempat yang orangnya sudah pakai sepatu, tapi banyak saingan!
Tempat seperti itu buat si bos justru ancaman. Jadi, beda kan cara melihat suatu situasi yang sama? Kedua, seorang profesional yang "berhasil" melihat peluang minta semuanya safe. Tidak mau ambil risiko.
Balik ke cerita tadi, walaupun dia mengerti bahwa pulau tersebut adalah peluang, si karyawan minta jaminan bahwa dia akan berhasil jualan sepatu di situ. Mana ada jaminan seperti itu. Si bos, sebaliknya, sudah melihat cara "ngajari" orang-orang di situ untuk pakai sepatu. Dia juga sudah membayangkan berapa besar effort dan cost yang harus dikeluarkan pada tahap awal. Selanjutnya, dia juga sudah membayangkan cost-benefit analysis yang harus dihitung.
Si bos mau ambil risiko dengan perhitungan. Dia juga siap menjadi risk taker dengan persiapan exit strategy kalau gagal supaya tidak rugi secara besar-besaran. Sedangkan, si Karyawan sama sekali gak mau ambil risiko, bahkan menghindarinya. Risk averter!
Dia juga tidak mencoba mencari cara-cara kreatif untuk membuat peluang tadi jadi kenyataan. Menunggu ada SOP-nya..."Kan saya anak buah, kan saya karyawan, kan saya orang gajian...." Dan seterusnya!
Para profesional sering hanya pintar bikin alasan dan defensif kalau ditanyain. Tidak berani menerima challenge. Sedangkan, seorang entrepreneur berani melakukan sesuatu tindakan nyata dengan perhitungan.
Ketiga, sesudah bisa melihat peluang dan menghitung risiko serta mengambil keputusan, masih ada satu lagi yang penting. Yakinkan orang lain, libatkan orang lain, ajak orang lain untuk dapat modal, dapat dukungan, maupun dapat talenta yang bagus.
Seorang profesional yang tidak punya jiwa entrepreneurship tidak berani mengajak orang lain. Takut salah, takut ditolak, dan takut dimarahin orang. Inilah "penyakit" orang yang begitu. Karena itu, banyak pengusaha kecil yang cuma bisa marah-marah pada pemerintah. Minta pelatihan, minta modal, minta bimbingan, bahkan minta bisnis! "Masak saya pengusaha lokal dan kecil tidak (dibantu) memenangkan tender!" Begitu keluhannya.
Seorang entrepeneur sejati -apakah dia sudah jadi pengusaha atau malah tetap jadi karyawan- jarang mengeluh! Tapi, mereka selalu berusaha "menjual idenya" kepada orang lain karena dia yakin bahwa idenya bagus !
Nah, sekarang Anda tahu kan? Ada karyawan yang bermental "pengusaha". Sebaliknya, ada yang sudah mendirikan perusahaan, tapi "berjiwa" karyawan. Anda milih jadi yang mana? Hahaha!
Setelah 20 tahun lebih, saya pikir-pikir apa yang saya "pelajari" dari Ciputra itu pas dengan hasil riset Prof John Kao. Memang Ciputra is the real entrepreneur! Dia adalah inspirator besar saya saat memulai MarkPlus Professional Service pada 1 Mei 1990 di Surabaya. (*)
Read More..
Karyawan Bermental Pengusaha, Pengusaha Berjiwa Karyawan
SATU hal yang saya lihat konsisten pada diri Pak Ciputra sejak dulu sampai sekarang ialah entrepreneurship. Beliau percaya bahwa inilah yang akan membawa Indonesia maju. Tanpa entrepreneurship, sebuah negara tidak akan maju.
Menurut Pak Ciputra, paling tidak lima persen penduduk sebuah negara haruslah berjiwa pengusaha. Jadi pengusaha sungguhan atau tetap bekerja pada orang lain, tapi punya jiwa pengusaha. Buat saya, kalau Anda karyawan tapi menganggap perusahaan tempat Anda bekerja sebagai perusahaan sendiri, dampaknya akan lain. Bukan cuma pada perusahaannya, tapi terutama pada diri sendiri. Itu yang kurang disadari orang.
Banyak yang berpikir bahwa dia merasa "rugi" kalau menganggap perusahaan tempat dia bekerja kayak perusahaan sendiri. "Kok enak..rugi dong aku...nanti aja kalau aku sudah punya perusahaan sendiri, baru begitu..." Itu alasan orang yang gak mau jadi intrapreneur.
Pak Ci "mengajarkan" kepada saya bahwa orang seperti itu rugi sendiri. Tidak memanfaatkan kesempatan yang ada. Memang, harus diakui, tidak semua perusahaan memberikan kesempatan kepada Anda seperti itu. Harus diakui, susah juga kalau Anda bekerja di divisi produksi, operasi, atau administrasi yang rutin.
Tugasnya hanya melakukan sesuatu menurut SOP (standar operasi prosedur), bahkan tidak boleh berinovasi sedikit pun. Tapi, bila ada bos seperti Pak Ciputra yang selalu "menantang" karyawannya untuk mempunyai jiwa entrepreneurship di perusahaannya, rugi besar kalau tidak diambil.
John Kao adalah bekas profesor di Harvard Business School yang juga produsen film Sex, Lies, and Videotape. Dia melakukan survei entrepreneurship dan menemukan bedanya dengan profesional murni.
Katanya, ada tiga yang paling utama. Pertama, seorang entrepreneur pintar melihat peluang atau opportunity. Sedangkan, seorang profesional lebih suka melihat sisi threat atau ancaman dari suatu situasi.
Situasinya bisa sama, tapi yang satu dilihat sisi positifnya, sedangkan yang satu dari sisi negatifnya.
Tahu cerita orang yang dikirim bosnya untuk survei sepatu di suatu pulau? Ketika balik ke bos yang minta dia survei, si karyawan mengatakan bahwa di sana tidak ada peluang. Kenapa? Di pulau itu tidak ada orang pakai sepatu. Semuanya masih pakai sandal.
Buat si bos, kata "masih" itu jadi peluang untuk ngajarin mereka pakai sepatu. Jadi, peluangnya sangat besar! Sedangkan, si karyawan yang tidak punya jiwa entrepreneurship bilang begitu karena melihat ancaman. Ancaman untuk sebuah tugas jualan sepatu di situ. Maunya cuma jual sepatu di tempat yang orangnya sudah pakai sepatu, tapi banyak saingan!
Tempat seperti itu buat si bos justru ancaman. Jadi, beda kan cara melihat suatu situasi yang sama? Kedua, seorang profesional yang "berhasil" melihat peluang minta semuanya safe. Tidak mau ambil risiko.
Balik ke cerita tadi, walaupun dia mengerti bahwa pulau tersebut adalah peluang, si karyawan minta jaminan bahwa dia akan berhasil jualan sepatu di situ. Mana ada jaminan seperti itu. Si bos, sebaliknya, sudah melihat cara "ngajari" orang-orang di situ untuk pakai sepatu. Dia juga sudah membayangkan berapa besar effort dan cost yang harus dikeluarkan pada tahap awal. Selanjutnya, dia juga sudah membayangkan cost-benefit analysis yang harus dihitung.
Si bos mau ambil risiko dengan perhitungan. Dia juga siap menjadi risk taker dengan persiapan exit strategy kalau gagal supaya tidak rugi secara besar-besaran. Sedangkan, si Karyawan sama sekali gak mau ambil risiko, bahkan menghindarinya. Risk averter!
Dia juga tidak mencoba mencari cara-cara kreatif untuk membuat peluang tadi jadi kenyataan. Menunggu ada SOP-nya..."Kan saya anak buah, kan saya karyawan, kan saya orang gajian...." Dan seterusnya!
Para profesional sering hanya pintar bikin alasan dan defensif kalau ditanyain. Tidak berani menerima challenge. Sedangkan, seorang entrepreneur berani melakukan sesuatu tindakan nyata dengan perhitungan.
Ketiga, sesudah bisa melihat peluang dan menghitung risiko serta mengambil keputusan, masih ada satu lagi yang penting. Yakinkan orang lain, libatkan orang lain, ajak orang lain untuk dapat modal, dapat dukungan, maupun dapat talenta yang bagus.
Seorang profesional yang tidak punya jiwa entrepreneurship tidak berani mengajak orang lain. Takut salah, takut ditolak, dan takut dimarahin orang. Inilah "penyakit" orang yang begitu. Karena itu, banyak pengusaha kecil yang cuma bisa marah-marah pada pemerintah. Minta pelatihan, minta modal, minta bimbingan, bahkan minta bisnis! "Masak saya pengusaha lokal dan kecil tidak (dibantu) memenangkan tender!" Begitu keluhannya.
Seorang entrepeneur sejati -apakah dia sudah jadi pengusaha atau malah tetap jadi karyawan- jarang mengeluh! Tapi, mereka selalu berusaha "menjual idenya" kepada orang lain karena dia yakin bahwa idenya bagus !
Nah, sekarang Anda tahu kan? Ada karyawan yang bermental "pengusaha". Sebaliknya, ada yang sudah mendirikan perusahaan, tapi "berjiwa" karyawan. Anda milih jadi yang mana? Hahaha!
Setelah 20 tahun lebih, saya pikir-pikir apa yang saya "pelajari" dari Ciputra itu pas dengan hasil riset Prof John Kao. Memang Ciputra is the real entrepreneur! Dia adalah inspirator besar saya saat memulai MarkPlus Professional Service pada 1 Mei 1990 di Surabaya. (*)
Read More..
Senin, 01 Februari 2010
Janji Adalah Utang! Karena Itu, Janji Harus Dibayar!
Grow with Character! (13/100) Series by Hermawan Kartajaya
Janji Adalah Utang! Karena Itu, Janji Harus Dibayar!
SELAMA saya bekerja di Sampoerna, saya tetap memelihara kontak dengan Pak Ciputra. Setiap ke Jakarta, saya berusaha menemui beliau.
Saya juga mengikuti terus apa yang dipelopori oleh ''sang pelopor'' di industri properti itu. Salah satu pelajaran yang saya tidak bisa lupa adalah pernyataan beliau kepada pelanggan.
Apa itu? ''Janji adalah utang! Karena itu, janji harus dibayar!'' Itu kan pas dengan konsep dasar Customer Satisfaction atau Kepuasan Pelanggan. CS 101!
Ketika orang berpikir bahwa service adalah ''keramahan'' atau ''senyum'', maka kenyataannya bukan begitu. Ada banyak orang yang berpikir bahwa service adalah ASS atau after sales service. Apalagi, di industri otomotif ada istilah ''3S'' (sales, service, and sparepart)!
Kalau sudah begini, arti service itu menjadi ''kecil''. Sebab, divisi sales bertanggung jawab jualan produk. Service untuk ASS, sedangkan sparepart yang menyiapkan suku cadang. Padahal, pengertian service bukan seperti itu.
Menurut riset intensif yang dilakukan Leonard Berry, Valarie Zeithaml, dan Parasuraman, mereka menemukan bahwa elemen terpenting dalam service adalah reliability. Deliver what you have promised! Berikan apa yang Anda sudah janjikan!
Statemen Pak Ciputra ketika itu bahkan lebih keras lagi yang mengatakan bahwa janji adalah utang! Berarti, kalau Anda sudah janji, sudah langsung utang! Padahal, waktu itu, CS masih istilah baru di dunia marketing. Astra yang merupakan the best managed company pun di Indonesia baru mulai belajar konsepnya. Secara umum, orang yang bekerja di industri service sadar duluan tentang CS ini. Simpel saja....
Ya karena sifat industrinya, yang memang tidak membuat produk. Tekanannya pada delivery yang di-consume pada saat yang sama. Karena itu, Astra pun mengirim orang-orangnya ke hotel bintang untuk '''belajar'' service.
Konon, orang bengkel ASS dikirim ke hotel untuk sekadar ngopi. Ketika kembali ke bengkel, mereka lantas ditanya gimana perasaannya. Mereka bilang bahwa mereka diperlakukan dengan ramah. Senyum dan sapa jadi standar baku di hotel.
Tapi, selain itu, yang penting adalah mereka selalu diberi apa yang mereka dijanjikan. Gak pernah, pesan kopi keluar teh. Atau, dijanjikan teh tawar yang keluar teh manis. Atau, teh panas yang keluar es teh. Nah, hal-hal sederhana seperti itulah yang dipakai sebagai contoh untuk dilaksanakan Bengkel Astra. Padahal, yang dijual adalah mobil atau sepeda motor.
Hebat kan?
Balik kepada cerita Pak Ci, sementara pengembang lain waktu itu hanya mikirin bikin produk yang bagus dengan harga yang pas. Maka, Ciputra berani mengatakan bahwa janji adalah utang. Cerita menarik pun beredar.
Misalnya, ketika ada pembeli rumah dari ''sang pelopor'' bocor gentingnya, dibongkarlah seluruh atap! Kalau masih bocor, ya sekalian diganti rumah baru. Edan kan?
Ciputra berani sekali dengan memasang poster-poster besar gambar dirinya dengan memuat tulisan seperti itu! Nah, kalau sudah begitu, konsekuensinya berat! CEO yang berjanji, semua karyawan harus mendukung! Itu penting! Kalau tidak, pernyataan seperti itu hanya menjadi iklan kosong yang bisa backfire!
Jangan janji kalau sudah tau bakal tidak bisa memenuhi. Tapi, kalau sudah kadung janji, ya harus dipenuhi! Kalau bakal tidak bisa bayar, jangan berutang. Tapi, sekali berutang ya bayarlah. Sebab, nama baik jauh lebih penting dan berharga daripada biaya kerugian yang harus diderita. Sekaligus hal itu mengingatkan bahwa utang itu ada bunganya lho.
Artinya? Berusahalah selalu reliable atau memenuhi janji. Sebab, biaya memuaskan orang yang marah karena merasa tidak dipenuhi apa yang dijanjikan menjadi lebih mahal. Itulah bunga dari utang yang harus dibayar! Pada saat ini saja, masih banyak orang hanya enteng janji, tapi tidak bisa melaksanakan. Tapi, Pak Ciputra sudah melaksanakan itu lebih dari 20 tahun lalu!
Itulah ciri-ciri beliau. Bukan sekadar menirukan teori CS dari buku, tapi berani ''memperkeras'' esensinya.
Manfaatnya? Ada tiga! Satu, konsumen merasa terjamin. Dua, karyawan lebih committed kepada janji. Tiga, perusahaan tidak perlu hanya berkompetisi pada produk dan harga. Got it? (*)
Read More..
Janji Adalah Utang! Karena Itu, Janji Harus Dibayar!
SELAMA saya bekerja di Sampoerna, saya tetap memelihara kontak dengan Pak Ciputra. Setiap ke Jakarta, saya berusaha menemui beliau.
Saya juga mengikuti terus apa yang dipelopori oleh ''sang pelopor'' di industri properti itu. Salah satu pelajaran yang saya tidak bisa lupa adalah pernyataan beliau kepada pelanggan.
Apa itu? ''Janji adalah utang! Karena itu, janji harus dibayar!'' Itu kan pas dengan konsep dasar Customer Satisfaction atau Kepuasan Pelanggan. CS 101!
Ketika orang berpikir bahwa service adalah ''keramahan'' atau ''senyum'', maka kenyataannya bukan begitu. Ada banyak orang yang berpikir bahwa service adalah ASS atau after sales service. Apalagi, di industri otomotif ada istilah ''3S'' (sales, service, and sparepart)!
Kalau sudah begini, arti service itu menjadi ''kecil''. Sebab, divisi sales bertanggung jawab jualan produk. Service untuk ASS, sedangkan sparepart yang menyiapkan suku cadang. Padahal, pengertian service bukan seperti itu.
Menurut riset intensif yang dilakukan Leonard Berry, Valarie Zeithaml, dan Parasuraman, mereka menemukan bahwa elemen terpenting dalam service adalah reliability. Deliver what you have promised! Berikan apa yang Anda sudah janjikan!
Statemen Pak Ciputra ketika itu bahkan lebih keras lagi yang mengatakan bahwa janji adalah utang! Berarti, kalau Anda sudah janji, sudah langsung utang! Padahal, waktu itu, CS masih istilah baru di dunia marketing. Astra yang merupakan the best managed company pun di Indonesia baru mulai belajar konsepnya. Secara umum, orang yang bekerja di industri service sadar duluan tentang CS ini. Simpel saja....
Ya karena sifat industrinya, yang memang tidak membuat produk. Tekanannya pada delivery yang di-consume pada saat yang sama. Karena itu, Astra pun mengirim orang-orangnya ke hotel bintang untuk '''belajar'' service.
Konon, orang bengkel ASS dikirim ke hotel untuk sekadar ngopi. Ketika kembali ke bengkel, mereka lantas ditanya gimana perasaannya. Mereka bilang bahwa mereka diperlakukan dengan ramah. Senyum dan sapa jadi standar baku di hotel.
Tapi, selain itu, yang penting adalah mereka selalu diberi apa yang mereka dijanjikan. Gak pernah, pesan kopi keluar teh. Atau, dijanjikan teh tawar yang keluar teh manis. Atau, teh panas yang keluar es teh. Nah, hal-hal sederhana seperti itulah yang dipakai sebagai contoh untuk dilaksanakan Bengkel Astra. Padahal, yang dijual adalah mobil atau sepeda motor.
Hebat kan?
Balik kepada cerita Pak Ci, sementara pengembang lain waktu itu hanya mikirin bikin produk yang bagus dengan harga yang pas. Maka, Ciputra berani mengatakan bahwa janji adalah utang. Cerita menarik pun beredar.
Misalnya, ketika ada pembeli rumah dari ''sang pelopor'' bocor gentingnya, dibongkarlah seluruh atap! Kalau masih bocor, ya sekalian diganti rumah baru. Edan kan?
Ciputra berani sekali dengan memasang poster-poster besar gambar dirinya dengan memuat tulisan seperti itu! Nah, kalau sudah begitu, konsekuensinya berat! CEO yang berjanji, semua karyawan harus mendukung! Itu penting! Kalau tidak, pernyataan seperti itu hanya menjadi iklan kosong yang bisa backfire!
Jangan janji kalau sudah tau bakal tidak bisa memenuhi. Tapi, kalau sudah kadung janji, ya harus dipenuhi! Kalau bakal tidak bisa bayar, jangan berutang. Tapi, sekali berutang ya bayarlah. Sebab, nama baik jauh lebih penting dan berharga daripada biaya kerugian yang harus diderita. Sekaligus hal itu mengingatkan bahwa utang itu ada bunganya lho.
Artinya? Berusahalah selalu reliable atau memenuhi janji. Sebab, biaya memuaskan orang yang marah karena merasa tidak dipenuhi apa yang dijanjikan menjadi lebih mahal. Itulah bunga dari utang yang harus dibayar! Pada saat ini saja, masih banyak orang hanya enteng janji, tapi tidak bisa melaksanakan. Tapi, Pak Ciputra sudah melaksanakan itu lebih dari 20 tahun lalu!
Itulah ciri-ciri beliau. Bukan sekadar menirukan teori CS dari buku, tapi berani ''memperkeras'' esensinya.
Manfaatnya? Ada tiga! Satu, konsumen merasa terjamin. Dua, karyawan lebih committed kepada janji. Tiga, perusahaan tidak perlu hanya berkompetisi pada produk dan harga. Got it? (*)
Read More..
Menghitung Besar Gaji 5 Tahun ke Depan
Menghitung Besar Gaji 5 Tahun ke Depan
Oleh : Azis Rifianto
Menjelang akhir tahun dan awal tahun merupakan saat yang paling menentukan bagi seorang karyawan atau pegawai perusahaan. Akhir tahun merupakan saat survey upah minimum yang dilakukan oleh Dewan Pengupahan Daerah yang nantinya dijadikan acuan untuk menentukan berapa besar upah minimum regional (UMR). Upah Minimum Regional adalah suatu standar minimum yang digunakan oleh para pengusaha atau pelaku industri untuk memberikan upah kepada pegawai, karyawan atau buruh di dalam lingkungan usaha atau kerjanya. Pemerintah mengatur pengupahan melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/Men/1989 tanggal 29 Mei 1989 tentang Upah Minimum.
Penetapan upah dilaksanakan setiap tahun melalui proses yang panjang. Mula-mula Dewan Pengupahan Daerah (DPD) yang terdiri dari birokrat, akademisi, buruh dan pengusaha mengadakan rapat, membentuk tim survei dan turun ke lapangan mencari tahu harga sejumlah kebutuhan yang dibutuhkan oleh pegawai, karyawan dan buruh. Setelah survei di sejumlah kota dalam propinsi tersebut yang dianggap representatif, diperoleh angka Kebutuhan Hidup Layak (KHL) - dulu disebut Kebutuhan Hidup Minimum (KHM). Berdasarkan KHL, DPD mengusulkan upah minimum regional (UMR) kepada Gubernur untuk disahkan. Komponen kebutuhan hidup layak digunakan sebagai dasar penentuan upah minimum berdasarkan kebutuhan hidup pekerja lajang (belum menikah).
Saat ini UMR juga dikenal dengan istilah Upah Minimum Propinsi (UMP) karena ruang cakupnya biasanya hanya meliputi suatu propinsi. Selain itu setelah otonomi daerah berlaku penuh, dikenal juga istilah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK).
Gaji adalah salah satu hal yang penting bagi setiap karyawan/pegawai yang bekerja dalam suatu perusahaan, karena dengan gaji yang diperoleh seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. terkait tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, kebutuhan hidup layak atau daya beli, dan lainnya. Gaji merupakan salah satu unsur yang penting yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan, sebab gaji adalah alat untuk memenuhi berbagai kebutuhan pegawai, sehingga dengan gaji yang diberikan pegawai akan termotivasi untuk bekerja lebih efektif, produktif dan giat.
Berapa besar gaji anda lima tahun mendatang?berikut merupakan contoh perhitungan perkiraan gaji lima tahun mendatang. Misalkan gaji anda pada tahun 2010 sebesar Rp 1.000.000,- dengan rata rata kenaikan tiap tahun 10 %, maka besar gaji kita pada tahun 2015 dapat dihitung dengan perhitungan sebagai berikut :
Gn = G(1 + i)^n
Gn = nilai G pada akhir period ke n
G = nilai gaji awal
i = interest rate/persentase kenaikan (dalam desimal)
n = jumlah compounding period (kalau n dalam tahun, ya tahun, kalau bulan ya bulan)
Syarat perhitungan gaji diatas adalah apabila kondisi normal, dalam arti tidak mengalami promosi atau kenaikan pangkat, maupun kenaikan gaji, yang di peroleh hanyalah kenaikan gaji tahunan
Gaji (5 tahun kedepan) = 1.000.000 ( 1 + 10%)5
= 1.000.000 ( 1 + 0.1)5
= 1.000.000 (1.1)5
= 1.000.000 (1,61051)
= 1.610.510
Jadi besar gaji yang akan anda peroleh pada lima tahun mendatang (2015) dengan rata-rata kenaikan tiap tahun 10% adalah Rp 1.610.510,-. Berapa besar gaji anda pada 10 tahun kedepan atau 20 tahun kedepan? silahkan dihitung sendiri dengan menggunakan rumus perhitungan diatas. Semoga simulasi perhitungan ini bisa membantu, mengambil keputusan dan arah hidup kedepan. Selamat mencoba dan sukses selalu!!!
Read More..
Oleh : Azis Rifianto
Menjelang akhir tahun dan awal tahun merupakan saat yang paling menentukan bagi seorang karyawan atau pegawai perusahaan. Akhir tahun merupakan saat survey upah minimum yang dilakukan oleh Dewan Pengupahan Daerah yang nantinya dijadikan acuan untuk menentukan berapa besar upah minimum regional (UMR). Upah Minimum Regional adalah suatu standar minimum yang digunakan oleh para pengusaha atau pelaku industri untuk memberikan upah kepada pegawai, karyawan atau buruh di dalam lingkungan usaha atau kerjanya. Pemerintah mengatur pengupahan melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/Men/1989 tanggal 29 Mei 1989 tentang Upah Minimum.
Penetapan upah dilaksanakan setiap tahun melalui proses yang panjang. Mula-mula Dewan Pengupahan Daerah (DPD) yang terdiri dari birokrat, akademisi, buruh dan pengusaha mengadakan rapat, membentuk tim survei dan turun ke lapangan mencari tahu harga sejumlah kebutuhan yang dibutuhkan oleh pegawai, karyawan dan buruh. Setelah survei di sejumlah kota dalam propinsi tersebut yang dianggap representatif, diperoleh angka Kebutuhan Hidup Layak (KHL) - dulu disebut Kebutuhan Hidup Minimum (KHM). Berdasarkan KHL, DPD mengusulkan upah minimum regional (UMR) kepada Gubernur untuk disahkan. Komponen kebutuhan hidup layak digunakan sebagai dasar penentuan upah minimum berdasarkan kebutuhan hidup pekerja lajang (belum menikah).
Saat ini UMR juga dikenal dengan istilah Upah Minimum Propinsi (UMP) karena ruang cakupnya biasanya hanya meliputi suatu propinsi. Selain itu setelah otonomi daerah berlaku penuh, dikenal juga istilah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK).
Gaji adalah salah satu hal yang penting bagi setiap karyawan/pegawai yang bekerja dalam suatu perusahaan, karena dengan gaji yang diperoleh seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. terkait tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, kebutuhan hidup layak atau daya beli, dan lainnya. Gaji merupakan salah satu unsur yang penting yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan, sebab gaji adalah alat untuk memenuhi berbagai kebutuhan pegawai, sehingga dengan gaji yang diberikan pegawai akan termotivasi untuk bekerja lebih efektif, produktif dan giat.
Berapa besar gaji anda lima tahun mendatang?berikut merupakan contoh perhitungan perkiraan gaji lima tahun mendatang. Misalkan gaji anda pada tahun 2010 sebesar Rp 1.000.000,- dengan rata rata kenaikan tiap tahun 10 %, maka besar gaji kita pada tahun 2015 dapat dihitung dengan perhitungan sebagai berikut :
Gn = G(1 + i)^n
Gn = nilai G pada akhir period ke n
G = nilai gaji awal
i = interest rate/persentase kenaikan (dalam desimal)
n = jumlah compounding period (kalau n dalam tahun, ya tahun, kalau bulan ya bulan)
Syarat perhitungan gaji diatas adalah apabila kondisi normal, dalam arti tidak mengalami promosi atau kenaikan pangkat, maupun kenaikan gaji, yang di peroleh hanyalah kenaikan gaji tahunan
Gaji (5 tahun kedepan) = 1.000.000 ( 1 + 10%)5
= 1.000.000 ( 1 + 0.1)5
= 1.000.000 (1.1)5
= 1.000.000 (1,61051)
= 1.610.510
Jadi besar gaji yang akan anda peroleh pada lima tahun mendatang (2015) dengan rata-rata kenaikan tiap tahun 10% adalah Rp 1.610.510,-. Berapa besar gaji anda pada 10 tahun kedepan atau 20 tahun kedepan? silahkan dihitung sendiri dengan menggunakan rumus perhitungan diatas. Semoga simulasi perhitungan ini bisa membantu, mengambil keputusan dan arah hidup kedepan. Selamat mencoba dan sukses selalu!!!
Read More..
Langganan:
Postingan (Atom)
