Minggu, 05 Januari 2014

SATU TAMPARAN,MAMPU MENJAWAB 3 PERTANYAA

SATU TAMPARAN,MAMPU MENJAWAB 3 PERTANYAAN
Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri paman Sam kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, kiai atau siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya Orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut.

Pemuda : "Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan – pertanyaan saya?"
Kyai : "Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda."
Pemuda : "Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya."
Kyai : "Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya."
Pemuda : "Saya punya 3 buah pertanyaan"

1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya

2. Apakah yang dinamakan takdir ?

3. Kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syetan Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?

Tiba-tiba Kyai tersebut menampar pipi si Pemuda dengan keras.

Pemuda (sambil menahan sakit) : "Kenapa anda marah kepada saya?"
Kyai : "Saya tidak marah…Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya."
Pemuda : "Saya sungguh-sungguh tidak mengerti."
Kyai : "Bagaimana rasanya tamparan saya?"
Pemuda : "Tentu saja saya merasakan sakit !"
Kyai : "Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?"
Pemuda : "Ya."
Kyai : "Tunjukan pada saya wujud sakit itu !"
Pemuda : "Saya tidak bisa."
Kyai : "Itulah jawaban pertanyaan pertama: kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya."
Kyai : "Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?"
Pemuda : "Tidak."
Kyai : "Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?"
Pemuda : "Tidak."
Kyai : "Itulah yang dinamakan Takdir."
Kyai : "Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?"
Pemuda : "kulit."
Kyai : "Terbuat dari apa pipi anda?"
Pemuda : “kulit.”
Kyai : "Bagaimana rasanya tamparan saya?"
Pemuda : "sakit."
Kyai : "Walaupun Syeitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, Jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan Menjadi tempat menyakitkan untuk syeitan."


Sumber : https://www.facebook.com/abunawasmajdub Read More..

Mandor Bangunan

Seorang mandor bangunan yg berada di lt 5 ingin memanggil pekerjanya yg
lagi bekerja di bawah...

Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak
dapat mendengar karena fokus pada pekerjaannya dan bisingnya alat
bangunan.

Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh ke atas,
dilemparnya Rp. 1.000- yg jatuh tepat di sebelah si pekerja.

Si pekerja hanya memungut Rp 1.000 tsb dan melanjutkan pekerjaannya.

Sang mandor akhirnya melemparkan Rp 100.000 dan berharap si pekerja
mau menengadah "sebentar saja" ke atas.

Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan Rp
100.000 dan kembali asyik bekerja.

Pada akhirnya sang mandor melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja.

Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan sang mandor...

Cerita tersebut di atas sama dengan kehidupan kita, Allah selalu ingin
menyapa kita, akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi "dunia" kita.

Kita diberi rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk
menengadah bersyukur kpd NYA,
Bahkan lebih sering kita tidak mau tahu dari mana rejeki itu datang···

Bahkan kita selalu bilang ··· kita lagi "HOKI!"

Yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan rejeki milik Allah.

Jadi jangan sampai kita mendapatkan lemparan "batu kecil" yg kita sebut
musibah ...!

agar kita mau menoleh kepada-NYA. Sungguh Allah sangat mencintai kita,
marilah kita selalu ingat untuk
menoleh kepada NYA sebelum Allah melemparkan batu kecil.


diambil dr Fanpage: abunawas majdub
Read More..

Rabu, 06 November 2013

Buku Budidaya Jagung Manis


Penerbit : Penebar Swadaya Penulis : Dr. M. Syukur, SP., M.Si. & Azis Rifianto, SP., M.Si
ISBN : 978-979-002-591-2
Halaman : 124

Konsumsi jagung manis juga mengalami peningkatan di Asia, Eropa, Amerika Latin serta banyak negara lain, termasuk Indonesia. Seiring dengan kebutuhan yang semakin meningkat maka perlu pengetahuan teknik budi daya jagung manis yang lebih baik, agar diperoleh kualitas dan kuantitas produksi yang lebih optimal.

Berbeda dengan jagung pipil, jagung manis memerlukan penanganan khusus dalam produksi benih, teknik budi daya, dan isolasi tanaman dari tanaman lain (baik jagung manis tipe lain maupun jagung biasa) di lahan agar tidak terjadi penyerbukan silang. Penyerbukan silang tersebut menyebabkan biji jagung manis menjadi tidak manis. 

Buku ini membahas berbagai hal tentang jagung manis antara lain gen pengendali rasa manis, varietas unggul, produksi benih, teknik isolasi, dan budi daya jagung manis, selain itu buku ini juga dilengkapi dengan solusi dan permasalahan budidaya yang didasarkan pada pengalaman penulis. Segera dapatkan buku ini di Toko Buku Gramedia, dan Toko Buku yang ada di Kota Anda Read More..

Senin, 27 Mei 2013

GUS DUR WALI (4)

GUS DUR WALI (4) Gus Sholah: Gus Dur Wali Sosial Rabu, 23 Februari 2011 10:35 Jakarta, NU Online KH Salahuddin Wahid, biasa dipanggil Gus Sholah, yang merupakan adik kandung Gus Dur memiliki pendapat kewalian bisa dibagi pada aspek sosial dan aspek agama. Jika secara sosial, masyarakat sudah menganggap seseorang sebagai wali, ia jadi wali. “Bagi saya, Gus Dur itu wali sosial. Kalau dari sudut pandang agama, saya tidak tahu, ini rahasia Allah,” katanya, Rabu (23/2). Namun ia mengakui, ada tanda-tanda kewalian dalam diri Gus Dur yang akhirnya membuat orang percaya bahwa mantan ketua umum PBNU ini adalah wali. “Saya juga pernah mendengan banyak cerita, dari yang mengalami langsung, Gus Dur ngasih tahu begini-begini dan benar. Artinya bukan tanpa alasan, anda indikator yang dipercaya bahwa Gus Dur adalah wali,” ujarnya. Namun secara pribadi, sebagai saudara kandung yang tumbuh dan besar bersama-sama ia malah tidak pernah melihat keanehan-keanehan yang dilakukan kakaknya itu. Gus Sholah juga mengaku bukan orang yang menggemari dan mendalami dunia spiritual. Apresiasi atas kewalian Gus Dur yang ditunjukkan oleh masyarakat, yang merupakan cerminan perilaku sosial diantaranya dapat ditunjukkan banyaknya orang yang datang ke makam mantan presiden RI ke-4 ini, meskipun tak ada yang menyuruh. “Orang timbul kesadaran sendiri, saya menafsirkan karena Gus Dur banyak berbuat hal yang baik bagi masyarakat. Ini diterima oeh masyarakat sebagai sesuatu jasa Gus Dur, dan itu ditafsirkan sebagai niat tulus. Gus Dur semasa hidupnya juga rajin berziarah ke makan wali, Allah membalas dalam bentuk yang sama,” terangnya. Mengenai kemampuan Gus Dur untuk tahu sebelum datangnya peristiwa, Pengasuh Pesantren Tebuireng ini menganggap ada pembicaraan Gus Dur yang harus dinilai sebagai analisis, bukan ramalan. “Contoh saja, Gus Dur mengatakan DPR kayak TK, nyatanya memang seperti itu. Ini kan analisis, bukan ramalam, tapi oleh masyarakat dianggap doyo linuwih, kelebihan yang sifatnya ada mistisnya,” paparnya. (mkf) Read More..

Gus Dur Wali (3)

GUS DUR WALI (3) Jasad Gus Dur Sangat Manusiawi Selasa, 22 Februari 2011 12:12 Jakarta, NU Online Setelah empat kali mengalami pengurukan akibat longsor dalam setahun, makam Gus Dur semakin ramai di kunjungi para peziarah. Hiruk pikuk dan kehebohan masyarakat menyikapi fenomena longsornya makam mantan Presiden Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid terus berlanjut. Setalah berbagai kalangan mengutarakan pendapatnya mengenai pertanda kewalian Gus Dur, kini giliran para santrinya di Pesantren Ciganjur yang angkat bicara. Para santri di Pesantren Ciganjur inilah yang dahulu memandikan jenazahnya, kala Gus Dur sang pengasuh para santri ini dipanggil menghadap Sang Khaliq. "Waktu para santri memandikan jenazahnya, jasad Gus Dur kelihatan sangat manusiawi. Kulitnya cerah, seperti biasa waktu beliau kami sering mengajar santri-santrinya," tutur Mahbib salah seorang santri yang dulu turut memandikan. Sementara para santri lain menceritakan kepada NU Online,Selasa (21/2), sewaktu memandikan Gus Dur para santri melihat jasad Gus Dur dalam ekspresi yang wajar. Tidak tampak pucat tidak pula seperti orang mati. Menurut Mahbib, para santri bergiliran memandikan di samping rumah sebelum jenazah disemayamkan di ruang tengah untuk disholatkan secara bergiliran pula. Sholat Jenazah untuk Gus dur di kediaman Ciganjur sendiri, berlangsung berkali-kali sejak dimandikan hingga sebelum diberangkatkan menuju Bandara Halim Perdana Kusuma. Dari Bandara Halim Perdana Kusuma ini jenazah kemudian diterbangkan ke peristirahatan terakhirnya di Tebuireng Jombang. "Tidak terhitung berapa kali sholat dilakukan bergantian. Para jamaa terus berduyun-duyun sholat di hadapan jenazah. Sementara mereka yang tidak bisa masuk, lalu melaksanakan sholat jenazah di Masjid al-Munawwaroh," tutur Ahsin, imam Masjid al-Munawwaroh Ciganjur. (min) Read More..

Gus Dur Wali (2)

GUS DUR WALI (2) Gus Ipul: Keberanian Gus Dur Tanda Kewalian Jumat, 18 Februari 2011 13:30 Jakarta, NU Online Tak ada orang yang tahu seseorang telah menjadi wali atau kekasih Allah keciali wali lainnya. Meskipun demikian H Saifullah Yusuf, wakil gubernur Jawa Timur juga yakin akan kewalian yang ada pada Gus Dur. Ia merujuk pada sebuah ayat Qur’an, Ala inna aulia allahi la khoufun alaihim wala hum yahzanuun yang dalam arti bebasnya, para wali merupakan orang yang tidak punya rasa takut kecuali pada Allah. “Gus Dur pada batas tertentu diatas rata-rata keberaniannya, ketakutannya terhadap urusannya dunia terbukti tak pernah menghalangi perjuangan dia untuk, katakanlah menolong ummat, membantu masyarakat, maka ia tak punya rasa takut kepada apa pun kecuali Allah,” katanya, Kamis (17/2). Mengenai aspek mistis dari Gus Dur, Saifullah Yusuf yang masih keponakan ini mengaku tak pernah melihat sesuatu yang di luar nalar dari Gus Dur. “Ndak ada mistis dari Gus Dur, tetapi beliau ahli silaturrahmi, baik pada yang hidup atau pun yang mati. Al ahyak minhum wal amwat. Wong NU kalau ketemunya yang urip (hidup) saja, kurang NU. Diparani kabeh (didatangi semua), ini ciri khas NU,” tuturnya. Tentang hubungan pribadinya yang ngak selalu cocok, ia menjelaskan, Gus Dur yang ngajarkan perbedaan. “Gus Dur ngerti ini konsekuensi apa yang selama ini diyakini. Dia membesarkan orang yang suatu ketika berhadapan dengan dirinya, baik dari sisi pemikiran dan politik, itu biasa, baginya. Dan ini dibawa sampai meninggal,” paparnya. Ia menambahkan kembali bahwa seorang wali memiliki keunggulan komparatif dibanding manusia biasa, melampaui umumnya manusia, baik dalam akidahnya atau ketaqwaannya. “Saya mengaggap Gus Dur diatas rata-rata, karena diberi di atas rata-rata berarti kekasih Allah. Gus Dur ora duwe wedi,” tandasnya. (mkf) Sumber : www.nu.or.id Read More..

Gus Dur Wali (1)

GUS DUR WALI (1) Kewalian Gus Dur Masuk Akal Jumat, 11 Februari 2011 14:30 Jakarta, NU Online Polling yang dilakukan NU Online antara 30 Desember 2010-11 Februari tentang kewalian Gus Dur menunjukkan sebanyak 49 persen percaya Gus Dur seorang wali, 27 persen mempercayai Gus Dur orang cerdas dan multibakat, 18 persen menganggap Gus Dur orang biasa dan 6 persen mengaku tidak tahu. Wakil Sekjen PBNU Enceng Sobirin Najd mengaku tidak heran terhadap persepsi masyarakat tersebut karena kewalian Gus Dur sangat masuk akal. “Gus Dur memiliki banyak keistimewaan, tak hanya terlihat saat hidup, tetapi juga setelah meninggal dan kelebihannya ini tak hanya diakui oleh para pengikutnya, tetapi juga musuh-musuhnya,” katanya, Jum’at (11/2). Ia menjelaskan banyak sekali pernyataan dan ungkapan Gus Dur yang terbukti setelah ia meninggal, salah satu yang sering dirujuk orang adalah tentang sikap DPR yang seperti taman kanak-kanak. Masyarakat Indonesia, kata Enceng yang berkarir lama di lembaga penelitian LP3ES, meyakini bahwa semuanya yang bisa dipercaya tak harus inderawi,. Fenomena wali merupakan salah satu wujud keyakinan adanya hal-hal yang sifatnya spiritual dan diluar kemampuan manusia biasa. “Menurut ajaran Islam, yang tahu seorang wali diantara sesama wali itu sendiri. Kewalian akan dipercaya orang kalau sudah meninggal. Gus Dur masuk kriteria seperti itu,” katanya. Kalangan yang mengikuti pendekatan saintis, hanya percaya apa saja yang bisa dinalar, sehingga tidak percaya adanya fenomena kewalian. Tetapi mereka tetap percaya bahwa seseorang memiliki kelebihan tertentu diatas kemampuan rata-rata manusia. Adanya kewalian Gus Dur, melalui sebuah polling melalu jaringan internet juga menunjukkan, kalangan yang memiliki akses luas terhadap intenet dan informasi secara global tetap meyakini fenomena kewalian, termasuk pada Gus Dur. (mkf) Sumber : www. nu.or.id Read More..

Minggu, 18 Maret 2012

Lalat Cari Alkohol Jika di Tolak Pasangan


VIRGINIA, KOMPAS.com - Pernahkah merasa patah hati ditolak orang yang dicintai dan akhirnya melampiaskan kekecewaan dengan mabuk-mabukan dengan minuman beralkohol? Tak cuma manusia, lalat buah pun kalau ditolak pasangan mencari alkohol.

Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science bahwa lalat buah jantan yang ditolak oleh betina akan mengonsumis makanan yang mengandung alkohol lebih banyak.

Demikian kesimpulan hasil penelitian Galit Shohat Ophir dan rekannya dari Howard Hughes Medical Institute di Virginia, AS melakukan sebuah penelitian di laboratorium Ulrike Heberlein, Universitas California di San Diego.

Dalam penelitian itu, Ophir mengelompokkan lalat buah jantan menjadi dua grup. Grup pertama ditempatkan di kotak penuh lalat betina perawan yang siap dikawini. Sementara, lalat grup kedua ditempatkan di box dengan lalat yang sudah dikawini sehingga cenderung menolak ajakan kawin.

Peneliti menemukan bahwa grup pejantan yang ditolak memakan makanan yang mengandung 15 persen alkohol, sementara grup lain menghindari. Menurut Ophir, lalat buah memilih alkohol untuk memberi penghargaan atas dirinya walau ditolak.

Perilaku tersebut dikendalikan oleh senyawa dalam otak yang disebut neuropeptida F (NPF). Berdasarkan penelitian, lalat buah jantan yang gagal kawin memiliki level NPF yang lebih rendah.

"Ini semua membuat kita berpikir bahwa otak lalat buah, dan juga mungkin hewan lain dan manusia, memiliki sistem kontrol untuk memberi penghargaan internal, bahwa jika penghargaan internal turun maka akan diikuti dengan perilaku yang akan mengembalikannya lagi," kata Ophir seperti dikutip BBC, Kamis (15/3/2012).

Senyawa mirip NPF sebenarnya juga ditemukan pada manusia, disebut Neuropeptida Y. Namun, efek zat itu pada perilaku manusia belum bisa dijelaskan dengan gamblang.

Sumber : www.kompas.com
Read More..

Jumat, 16 Desember 2011

Do’a, Bacaan Al-Qur’an, Shadaqoh & Tahlil untuk Orang Mati

Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:

وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى

“Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)

Juga hadits Nabi MUhammad SAW:

اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ

“Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.”

Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :

وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)

Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.

وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ

“Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)

سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ

“Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).

Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa’at do’a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.

Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; “Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat”.

Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do’a kepada orang mati dan lain-lainnya.

Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:

عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ


“Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.”

Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,” mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.

KH Nuril Huda
Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)

Read More..

Jumat, 18 November 2011

Membaca Shalawat untuk Nabi

Membaca shalawat adalah salah satu amalan yang disenangi orang-orang NU, disamping amalan-amalan lain semacam itu. Ada shalawat “Nariyah”, ada “Thibbi Qulub”. Ada shalawat “Tunjina”, dan masih banyak lagi. Belum lagi bacaan “hizib” dan “rawatib” yang tak terhitung banyaknya. Semua itu mendorong semangat keagamaan dan cita-cita kepada Rasulullah sekaligus ibadah.

Salah satu hadits yang membuat kita rajin membaca shalawat ialah: Rasulullah bersabda: Siapa membaca shalawat untukku, Allah akan membalasnya 10 kebaikan, diampuni 10 dosanya, dan ditambah 10 derajat baginya. Makanya, bagi orang-orang NU, setiap kegiatan keagamaan bisa disisipi bacaan shalawat dengan segala ragamnya.

Salah satu shalawat yang sangat popular ialah “Shalawat Badar”. Hampir setiap warga NU, dari anak kecil sampai kakek dan nenek, dapat dipastikan melantunkan shalawat Badar. Bahkan saking populernya, orang bukan NU pun ikut hafal karena pagi, siang, malam, acara dimana dan kapan saja “Shalawat Badar” selalu dilantunkan bersama-sama.

Shalawat yang satu ini, “shalawat Nariyah”, tidak kalah populernya di kalangan warga NU. Khususnya bila menghadapi problem hidup yang sulit dipecahkan maka tidak ada jalan lain selain mengembalikan persoalan pelik itu kepada Allah. Dan shalawat Nariyah adalah salah satu jalan mengadu kepada-Nya.

Salah satu shalawat lain yang mustajab ialah shalawat Tafrijiyah Qurtubiyah, yang disebut orang Maroko shalawat Nariyah karena jika mereka (umat Islam) mengharapkan apa yang dicita-citakan, atau ingin menolak apa yang tidak disuka, mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat Nariyah ini sebanyak 4444 kali, tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat bi idznillah. Shalawat ini juga oleh para ahli yang tahu rahasia alam.

Imam Dainuri memberikan komentarnya: Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat (fardlu) 11 kali digunakan sebagai wiridan maka rejekinya tidak akan putus, disamping mendapatkan pangkat/kedudukan dan tingkatan orang kaya. (Khaziyat al-Asrar, hlm 179)

Simak sabda Rasulullah SAW berikut ini:

وَأخْرَجَ ابْنُ مُنْذَة عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ الله عَنهُ أنّهُ قال قال َرسُوْلُ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ: مَنْ صَلّى عَلَيَّ كُلّ يَوْمٍ مِئَة مَرّةٍ – وَفِيْ رِوَايَةٍ – مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي اليَوْمِ مِئَة مَرّةٍ قَضَى اللهُ لَهُ مِئَة حَجَّةٍ – سَبْعِيْنَ مِنْهَا في الأخِرَةِ وَثَلاثِيْنَ فِي الدُّنْيَا – إلى أنْ قال – وَرُوِيَ أن النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عليه وسلم قال : اكْثَرُوا مِنَ الصَّلاةِ عَلَيَّ فَإنّهَا تَحِلُّ اْلعَقْدَ وَتَفْرجُ الكُرَبَ – كَذَا فِيْ النزهَةِ

Hadits Ibnu Mundah dari Jabir, ia mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Siapa membaca shalawat kepadaku 100 kali maka Allah akan mengijabahi 100 kali hajatnya; 70 hajatnya di akhirat, dan 30 di dunia. Sampai kata-kata … dan hadits Rasulullah yang mengatakan: Perbanyaklah shalawat kepadaku karena dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan. Demikian seperti tertuang dalam kitab an-Nuzhah.

Rasulullah di alam barzakh mendengar bacaan shalawat dan salam dan dia akan menjawabnya sesuai jawaban yang terkait dari salam dan shalawat tadi. Seperti tersebut dalam hadits. Rasulullah SAW bersabda: Hidupku, juga matiku, lebih baik dari kalian. Kalian membicarakan dan juga dibicarakan, amal-amal kalian disampaikan kepadaku; jika saya tahu amal itu baik, aku memuji Allah, tetapi kalau buruk aku mintakan ampun kepada Allah. (Hadits riwayat Al-hafizh Ismail Al-Qadhi, dalam bab shalawat ‘ala an-Nabi).

Imam Haitami dalam kitab Majma’ az-Zawaid meyakini bahwa hadits di atas adalah shahih. Hal ini jelas bahwa Rasulullah memintakan ampun umatnya (istighfar) di alam barzakh. Istighfar adalah doa, dan doa Rasul untuk umatnya pasti bermanfaat.

Ada lagi hadits lain. Rasulullah bersabda: Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan menyampaikan kepada ruhku sehingga aku bisa menjawab salam itu. (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah. Ada di kitab Imam an-Nawawi, dan sanadnya shahih)

KH Munawwir Abdul Fattah
Pengasuh Pesantren Krapyak, Yogyakarta

sumber:www.nu.or.id
Read More..

MBAH DULLAH

Berkenaan dengan haul Simbah KH. Abdullah Salam Kajen, rahimahuLlah, aku turunkan kembali tulisanku saat itu. Saat kudengar kepulangan orang hebat ini ke hadirat Ilahi 25 Sya'ban 1422. Mudah-mudahan ada manfaatnya.



MBAH DULLAH

Di Surabaya, dalam perjalanan pulang dari Jember, saya mendapat telpon dari anak saya bahwa Mbah Dullah, KH. Abdullah Salam Kajen, telah pulang ke rahamtuLlah. Innaa liLlahi wainnaa ilaiHi raaji’uun! Dikabarkan juga, berdasarkan wasiat almarhum walmaghfurlah, jenazah beliau akan langsung dikebumikan sore hari itu juga.

SubhanaLlah! Selalu saja setiap kali ada tokoh langka yang dicintai banyak orang meninggal, saya merasa seperti anak-anak yang terpukul, lalu hati kecil bicara yang tidak-tidak. Seperti kemarin itu ketika mendengar Mbah Dullah wafat, secara spontan hati kecil saya ‘gerundel’: “Mengapa bukan koruptor dan tokoh-tokoh jahat yang sibuk pamer gagah tanpa mempedulikan kepentingan orang banyak itu yang dicabut nyawanya? Mengapa justru orang baik yang dicintai masyarakat seperti mbah Dullah yang dipanggil?” Astaghfirullah!

Sepanjang perjalanan itu pun saya terus diam dengan pikiran mengembara. Kenangan demi kenangan tentang pribadi mulia mbah Dullah, kembali melela bagai gambar hidup.

Berperawakan gagah. Hidung mancung. Mata menyorot tajam. Kumis dan jenggotnya yang putih perak, menambah wibawanya. Hampir selalu tampil dengan pakaian putih-putih bersih, menyempurnakan kebersihan raut mukanya yang sedap dipandang.

Melihat penampilan dan rumahnya yang tidak lebih baik dari gotakan tempat tinggal santri-santrinya, mungkin orang akan menganggapnya miskin; atau minimal tidak kaya. Tapi tengoklah; setiap minggu sekali pengajiannya diikuti oleh ribuan orang dari berbagai penjuru dan … semuanya disuguh makan.

Selain pengajian-pengajian itu, setiap hari beliau menerima tamu dari berbagai kalangan yang rata-rata membawa masalah untuk dimintakan pemecahannya. Mulai dari persoalan keluarga, ekonomi, hingga yang berkaitan dengan politik. Bahkan pedagang akik dan minyak pun beliau terima dan beliau ‘beri berkah’ dengan membeli dagangan mereka.

Ketika beliau masih menjadi pengurus (Syuriah) NU, aktifnya melebihi yang muda-muda. Seingat saya, beliau tidak pernah absen menghadiri musyawarah semacam Bahtsul masaail, pembahasan masalah-masalah yang berkaitan dengan agama, yang diselenggarakan wilayah maupun cabang. Pada saat pembukaan muktamar ke 28 di Situbondo, panitia meminta beliau –atas usul kiai Syahid Kemadu—untuk membuka Muktamar dengan memimpin membaca Fatihah 41 kali. Dan beliau jalan kaki dari tempat parkir yang begitu jauh ke tempat sidang, semata-mata agar tidak menyusahkan panitia.

Semasa kondisi tubuh beliau masih kuat, beliau juga melayani undangan dari berbagai daerah untuk memimpin khataman Quran, menikahkan orang, memimpin doa, dsb.
Ketika kondisi beliau sudah tidak begitu kuat, orang-orang pun menyelenggarakan acaranya di rumah beliau. Saya pernah kebetulan sowan, agak kaget di rumah beliau ternyata banyak sekali orang. Belakangan saya ketahui bahwa Mbah Dullah sedang punya gawe. Menikahkan tiga pasang calon pengantin dari berbagai daerah.

Mbah Dullah, begitu orang memanggil kiai sepuh haamilul Qur’an ini, meskipun sangat disegani dan dihormati termasuk oleh kalangan ulama sendiri, beliau termasuk kiai yang menyukai musyawarah. Beliau bersedia mendengarkan bahkan tak segan-segan meminta pendapat orang, termasuk dari kalangan yang lebih muda. Beliau rela meminjamkan telinganya hingga untuk sekedar menampung pembicaraan-pembicaraan sepele orang awam. Ini adalah bagian dari sifat tawaduk dan kedermawanan beliau yang sudah diketahui banyak orang.

Tawaduk atau rendah hati dan kedermawanan adalah sikap yang hanya bisa dijalani oleh mereka yang kuat lahir batin, seperti Mbah Dullah. Mereka yang mempunyai (sedikit) kelebihan, jarang yang mampu melakukannya. Mempunyai sedikit kelebihan, apakah itu berupa kekuatan, kekuasaan, kekayaan, atau ilmu pengetahuan, biasanya membuat orang cenderung arogan atau minimal tak mau direndahkan.

Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Berbeda dengan rendah hati yang muncul dari pribadi yang kuat, rendah diri muncul dari kelemahan. Mbah Dullah adalah pribadi yang kuat dan gagah luar dalam. Kekuatan beliau ditopang oleh kekayaan lahir dan terutama batin. Itu sebabnya, disamping dermawan dan suka memberi, Mbah Dullah termasuk salah satu –kalau tidak malah satu-satunya – kiai yang tidak mudah menerima bantuan atau pemberian orang, apalagi sampai meminta. Pantangan. Seolah-olah beliau memang tidak membutuhkan apa-apa dari orang lain. Bukankah ini yang namanya kaya?

Ya, mbah Dullah adalah tokoh yang mulai langka di zaman ini. Tokoh yang hidupnya seolah-olah diwakafkan untuk masyarakat. Bukan saja karena beliau punya pesantren dan madrasah yang sangat berkualitas; lebih dari itu sepanjang hidupnya, mbah Dullah tidak berhenti melayani umat secara langsung maupun melalui organisasi (Nahdlatul Ulama).

Mungkin banyak orang yang melayani umat, melalui organanisi atau langsung; tetapi yang dalam hal itu, tidak mengharap dan tidak mendapat imbalan sebagaimana mbah Dullah, saya rasa sangat langka saat ini. Melayani bagi mbah Dullah adalah bagian dari memberi. Dan memberi seolah merupakan kewajiban bagi beliau, sebagaimana meminta –bahkan sekedar menerima imbalan jasa-- merupakan salah satu pantangan utama beliau.

Beliau tidak hanya memberikan waktunya untuk santri-santrinya, tapi juga untuk orang-orang awam. Beliau mempunyai pengajian umum rutin untuk kaum pria dan untuk kaum perempuan yang beliau sebut dengan tawadluk sebagai ‘belajar bersana’. Mereka yang mengaji tidak hanya beliau beri ilmu dan hikmah, tapi juga makan setelah mengaji.

Pernah ada seorang kaya yang ikut mengaji, berbisik-bisik: “Orang sekian banyaknya yang mengaji kok dikasi makan semua, kan kasihan kiai.” Dan orang ini pun sehabis mengaji menyalami mbah Dullah dengan salam tempel, bersalaman dengan menyelipkan uang. Spontan mbah Dullah minta untuk diumumkan, agar jamaah yang mengaji tidak usah bersalaman dengan beliau sehabis mengaji. “Cukup bersalaman dalam hati saja!” kata beliau. Konon orang kaya itu kemudian diajak beliau ke rumahnya yang sederhana dan diperlihatkan tumpukan karung beras yang nyaris menyentuh atap rumah, “Lihatlah, saya ini kaya!” kata beliau kepada tamunya itu.
Memang hanya hamba yang fakir ilaLlah-lah, seperti mbah Dullah, yang sebenar-benar kaya.

Kisah lain; pernah suatu hari datang menghadap beliau, seseorang dari luar daerah dengan membawa segepok uang ratusan ribu. Uang itu disodorkan kepada mbah Dullah sambil berkata: “Terimalah ini, mbah, sedekah kami ala kadarnya.”
“Di tempat Sampeyan apa sudah tak ada lagi orang faqir?” tanya mbah Dullah tanpa sedikit pun melihat tumpukan uang yang disodorkan tamunya, “kok Sampeyan repot-repot membawa sedekah kemari?”
“Orang-orang faqir di tempat saya sudah kebagian semua, mbah; semua sudah saya beri.”
“Apa Sampeyan menganggap saya ini orang faqir?” tanya mbah Dullah.
“Ya enggak, mbah …” jawab si tamu terbata-bata. Belum lagi selesai bicaranya, mbah Dullah sudah menukas dengan suara penuh wibawa: “Kalau begitu, Sampeyan bawa kembali uang Sampeyan. Berikan kepada orang faqir yang memerlukannya!”

Kisah yang beredar tentang ‘sikap kaya’ mbah Dullah semacam itu sangat banyak dan masyhur di kalangan masyarakat daerahnya.

Mbah Dullah ‘memiliki’, di samping pesantren, madrasah yang didirikan bersama rekan-rekannya para kiai setempat. Madrasah ini sangat terkenal dan berpengaruh; termasuk –kalau tidak satu-satunya— madrasah yang benar-benar mandiri dengan pengertian yang sesungguhnya dalam segala hal.
32 tahun pemerintah orde baru tak mampu menyentuhkan bantuan apa pun ke madrasah ini. Orientasi keilmuan madrasah ini pun tak tergoyahkan hingga kini. Mereka yang akan sekolah dengan niat mencari ijazah atau kepentingan-kepentingan di luar ‘menghilangkan kebodohan’, jangan coba-coba memasuki madrasah ini.

Ini bukan berarti madrasahnya itu tidak menerima pembaruan dan melawan perkembangan zaman. Sama sekali. Seperti umumnya ulama pesantren, beliau berpegang kepada ‘Al-Muhaafadhatu ‘alal qadiemis shaalih wal akhdzu bil jadiedil ashlah’, Memelihara yang lama yang relevan dan mengambil yang baru yang lebih relevan. Hal ini bisa dilihat dari kurikulum, sylabus, dan matapelajaran-matapelajaran yang diajarkan yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Singkat kata, sebagai madrasah tempat belajar, madrasah mbah Dullah mungkin sama saja dengan yang lain. Yang membedakan ialah karakternya.

Agaknya mbah Dullah –rahimahuLlah — melalui teladan dan sentuhannya kepada pesantren dan madrasahnya, ingin mencetak manusia-manusia yang kuat ‘dari dalam’; yang gagah ‘dari dalam’; yang kaya ‘dari dalam’; sebagaimana beliau sendiri. Manusia yang berani berdiri sendiri sebagai khalifah dan hanya tunduk menyerah sebagai hamba kepada Allah SWT.

Bila benar; inilah perjuang yang luar biasa berat. Betapa tidak? Kecenderungan manusia di akhir zaman ini justru kebalikan dari yang mungkin menjadi obsesi mbah Dullah. Manusia masa kini justru seperti cenderung ingin menjadi orang kuat ‘dari luar’; gagah ‘dari luar’; kaya ‘dari luar’, meski terus miskin di dalam.

Orang menganggap dirinya kuat bila memiliki sarana-sarana dan orang-orang di luar dirinya yang memperkuat; meski bila dilucuti dari semua itu menjadi lebih lemah dari makhluk yang paling lemah. Orang menganggap dirinya gagah bila mengenakan baju gagah; meski bila ditelanjangi tak lebih dari kucing kurap. Orang menganggap dirinya kaya karena merasa memiliki harta berlimpah; meski setiap saat terus merasa kekurangan.

Waba’du; sayang sekali jarang orang yang dapat menangkap kelebihan mbah Dullah yang langka itu. Bahkan yang banyak justru mereka yang menganggap dan memujanya sebagai wali yang memiliki keistimewaan khariqul ‘aadah. Dapat melihat hal-hal yang ghaib; dapat bicara dengan orang-orang yang sudah meninggal; dapat menyembuhkan segala penyakit; dsb. dst. Lalu karenanya, memperlakukan orang mulia itu sekedar semacam dukun saja. Masya Allah!

Ke-’wali’-an Mbah Dullah –waLlahu a’lam-- justru karena sepanjang hidupnya, beliau berusaha --dan membuktikan sejauh mungkin-- melaksanakan ajaran dan keteladanan pemimpin agungnya, Muhammad SAW, terutama dalam sikap, perilaku, dan kegiatan-kegiatan beliau; baik yang berhubungan dengan Allah maupun dengan sesama hambaNya.

Begitulah; Mbah Dullah yang selalu memberikan keteduhan itu telah meninggalkan kita di dunia yang semakin panas ini. Beliau sengaja berwasiat untuk segera dimakamkan apabila meninggal. Agaknya beliau, seperti saat hidup, tidak ingin menyusahkan atau merepotkan orang. Atau, siapa tahu, kerinduannya sudah tak tertahankan untuk menghadap Khaliqnya.

Dan Ahad, 25 Sya’ban 1422 / 11 November 2001 sore, ketika Mbah Dullah dipanggil ke rahmatuLlah, wasiat beliau pun dilaksanakan. Beliau dikebumikan sore itu juga di dekat surau sederhananya di Polgarut Kajen Pati.

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-sejatiKu, dan masuklah ke dalam sorgaKu!”

Selamat jalan, Mbah Dullah! AnnasakumuLlah ilaa yaumi yub’atsuun!

sumber:www.gusmus.net
Read More..

Misteri Bau Tanah Terpecahkan


Bau tanah yang khas tercium setiap kali hujan mengguyur, tapi dari mana asal bau tersebut masih menjadi teka-teki sejak bertahun-tahun. Para peneliti dari Universitas Brown di New York, AS, akhirnya memastikan bahwa aroma tersebut berasal dari senyawa yang dihasilkan bakteri.

Mereka menyimpulkan bahwa bau tanah berasal dari kombinasi dua senyawa yang disebut geosmin dan methylisoborneol. Kedua zat kimia yang tidak berbahaya itu termasuk dalam kelas senyawa terpene yang sama-sama disintesis oleh bakteri tanah.

Tahun lalu, salah satu peneliti bernama David Cane menemukan gen dalam tubuh bakteri yang mengatur produksi geosmin. Proses produksi methylisoborneol masih misterius waktu itu. Sebab, tidak seperti senyawa-senyawa terpene lainnya yang memiliki 15 rantai karbon, senyawa ini hanya memiliki 11 rantai karbon.

Saat itu, Cane dan koleganya, Chieh-Mieh Wang, mencoba menyintesis senyawa tersebut dengan mempelajari gen bakteri tanah yang disebut Streptomyces. Salah satu gen dari 8.000 gen diprediksi sebagai katalis terpene, tapi saat disisipkan ke tubuh bakteri lainnya ternyata tak menghasilkan apa-apa.

Gen ganda

"Kami lalu melihat gen lainnya, gen berikutnya dari yang pertama," ujar Cane yang melaporkan temuannya dalam Journal of the American Chemical Society. Gen tersebut diketahui menambahkan satu rantai karbon dalam senyawa kimia yang dihasilkan gen lainnya.

Tanpa disadari sebelumnya, methylisoberneol dihasilkan dari kerja sama kedua gen. Saat kedua gen disisipkan ke dalam bakteri Escherichia coli, senyawa tersebut terbentuk sempurna.

Selain pada bakteri, Cane memperkirakan kedua senyawa tersebut juga dihasilkan alga hijau. Sebab, aroma yang sama juga ditemukan pada lumpur yang terbentuk di dalam perairan yang ditumbuhi alga tersebut. Jika benar, temuan ini dapat dijadikan dasar peringatan dini untuk mencegah gangguan ganggang sebelum tumbuh berlebihan.

sumber:www.kompas.com
Read More..

Ada Gen yang menyebabkan Suka Makan


Suka makan permen atau makanan manis, bukan cuma disebabkan oleh kebiasaan, tetapi juga oleh DNA kita. DNA yang disebut Glucose Transporter Type 2 (GLUT2) adalah variasi gen yang mampu merangsang otak mengonsumsi makanan secara berlebihan.

Informasi ini merupakan hasil penelitian dari Department of Nutritional Sciences, University of Toronto di Kanada terhadap 687 orang. Para relawan dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama merupakan sekumpulan orang yang memiliki variasi gen GLUT2. Kelompok lainnya tidak. Terbukti, kelompok pertama memakan lebih banyak permen.

Namun, kedua kelompok itu mengonsumsi protein, lemak, dan alkohol dalam porsi yang sama banyaknya. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pola makan seseorang dapat bersifat genetik. Kalau kita termasuk salah satu orang yang memiliki gen ini, cobalah ganti camilan permen dengan dark chocolate yang ditaburi kacang almon. Meski rasanya manis, kadar gula dalam dark chocolate tidak terlalu tinggi.
Read More..

Gen Kanguru Menyerupai Gen Manusia

Kanguru Australia secara genetika serupa dengan manusia dan mungkin pertama kali berevolusi di China.

Beberapa ilmuwan Australia, Selasa (18/11), mengatakan, mereka untuk pertama kali telah memetakan kode genetika hewan khas Australia tersebut dan mendapati kebanyakan gen itu serupa dengan gen manusia. Demikian keterangan Centre of Excellence for Kangaroo Genomics, lembaga yang didukung pemerintah.

"Ada sedikit perbedaan, kami memiliki beberapa tambahan ini, kurang dari itu, tapi semuanya adalah gen yang sama dan banyak di antaranya memiliki susunan yang sama," kata Direktur lembaga tersebut Jenny Graves kepada wartawan di Melbourne.

"Kami mulanya mengira semuanya akan tercampur penuh, tetapi ternyata tidak. Ada banyak potongan genome manusia yang berada tepat di dalam genome kanguru," kata Graves, sebagaimana dilaporkan AAP.

Manusia dan kanguru terakhir memiliki nenek moyang yang sama setidaknya 150 juta tahun lalu, demikian temuan para peneliti tersebut, sementara tikus dan manusia berpisah satu sama lain hanya 70 juta tahun lalu.

Kanguru pertama kali berevolusi di China, tapi pindah melewati dataran Amerika ke Australia dan Antartika. "Kanguru adalah sumber informasi yang sangat besar mengenai seperti apa kita 150 juta tahun lalu," kata Graves.

sumber:www.kompas.com
Read More..

Gen Khusus Perlambat Penuaan Lalat

Ahli biologi dari Universitas California Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat, menemukan gen PGC-1 penghambat proses penuaan lalat buah (Drosophila melanogaster). Gen ini meningkatkan aktivitas mitokondria: organ sel penghasil energi utama pengontrol pertumbuhan dan memberi tahu sel kapan hidup atau mati.

Asisten profesor biologi integratif dan fisiologi UCLA, David Walker, mengujikan gen PGC-1 dengan menempatkannya di jaringan lain pada lalat buah. Hasilnya, saat PGC-1 ditempatkan pada saluran pencernaan lalat, lalat hidup lebih lama, hingga 50 persen usia hidupnya yang umumnya hanya dua bulan.

”Hasil ini tak tampak ketika gen PGC-1 ditempatkan pada jaringan syaraf, otot, dan jaringan lain,” katanya, Rabu (9/11).

Selama ini, para ahli berpikir penuaan dapat dihambat lewat jaringan otak atau jantung. Ternyata, usus berperan besar menghambat penuaan, bukan hanya dalam penyerapan makanan. Usus juga menghambat racun dan patogen dari lingkungan.

Gen ini bisa untuk obat-obatan melawan penyakit terkait penuaan, seperti alzheimer, parkinson, kanker, dan jantung. (SCIENCEDAILY/MZW)

sumber: www.kompas.com

Read More..

Minggu, 27 Maret 2011

Susu Jagung Manis

Jagung manis merupakan salah satu varian dari tanaman jagung dimana memiliki karakter spesial yaitu memiliki rasa manis secara alami. Rasa manis pada jagung manis disebabkan adanya gen resesif yang menghambat pembentukan gula menjadi tepung. Gen resesif yang terdapat pada tanaman jagung manis yang ada dipasaran saat ini adalah gen shrunken 2 (sh2). salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mememberi nilai tambah bagi petani jagung manis adalah dengan menjual produk jagung manis menjadi produk olahan. Produk olahan jagung manis dapat berupa : jagung manis rebus yang dijual berupa jagung manis pipil dalam cup dan diberi aneka rasa seperti keju, strawbery, ditambahkan creamer, susu dan seterusnya. Seperti yang sedang dikembangkan salah satu francise dari malaysia (daily fresh).

Selain dalam bentuk rebusan, jagung manis dapat di olah menjadi tempe jagung manis (seperti yang dilakukan masyarakat Ambarawa Jawa Tengah), selai, sirup, susu maupun susu fermentasi (yogurt). Pada kesempatan kali ini kami mencoba untuk membuat susu dengan bahan dasar jagung manis varietas sweet boy dari cap kapal terbang yang banyak ditanam petani. Tahap pembuatan susu jagung manis sebagai berikut :

Langkah 1:

kita bersihkan jagung manis yang masih segar dari rambut jagung trus kita pipil...biar mudah sisir aja pake pisau
4 tongkol jagung manis ukuran sedang cukup lah buat 3 gelas susu jagung manis







Langkah 2:

Masukkan pipilan jagung manis ke dalam blender..lalu tambahkan 2 gelas air hangat sebagai pengencer dan untuk meminimalisir aroma langu jagung manis














Langkah 3:

Blender jagung manis sampe bener-bener halus











Langkah 4:

Saring jagung manis yang sudah diblender...
Tambahkan air dengan perbandingan 1:4
Sisihkan ampas jagung manis....
(sebenarnya ampas jagung manis masih bisa dimanfaatkan untuk membuat selai dan tempe jagung manis...tapi tidak sekarang kita bikin...dah haus niy hehehe...)





Langkah 5:

Rebus sari jagung manis di atas api sampai suhu 80 derajat Celcius...
Kalo mau ambil sarinya aja bisa disaring lagi karena biasanya setelah direbus, sebagian zat pati yang ikut dalam rebusan akan menggumpal seperti jelly ... yummy






Langkah 6:

Tambahkan susu kental manis atau susu skim biar tambah gurih...
bisa juga ditambahkan gula pasir atau gula jawa untuk minuman berenergi....
kalo pengen diet gula..bisa langsung dikonsumsi... slurp...slurp...






Dan tarra.....ni dia susu jagung manis yang udah siap diminum....dingin lebih enak lho....
seperti susu pada umumnya....batas aman dan sehat untuk dikonsumsi kalo disimpan pada suhu ruang hanya 6 jam....kalo disimpan pada suhu dingin bisa tahan lebih lama..
Dibekukan juga mak nyuuss lho...^_^

Ayo bikin yuuukkk....






Read More..

Yanti, Ibu Rumah Tangga Beromzet Rp 2 M

Status wanita bahkan ibu rumah tangga tidak menjadi halangan bagi kaum Hawa untuk bisa mencapai sukses, laiknya kaum adam. Memulai karier dari seorang pegawai perusahaan, kini Yanti Meilianty Isa justru menjadi pemilik sebuah usaha yang omzetnya mencapai Rp 2 miliar.

"Saya mulai bisnis (PT) MagFood Inovasi Pangan tahun 2001. Inspirasinya adalah berbagi (kepada orang lain). Saya melihat banyak celah untuk makanan Indonesia. Sebagai orang Muslim, makanan itu kan harus halal, dan kita negara yang rawan pangan. Jadi, saya mulai dulu dari diri saya," jelas Yanti kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (23/3/2011).

Produk pertama usahanya adalah campuran bumbu untuk industri kripik singkong, krupuk, yang terbuat dari bahan baku yang higienis, memenuhi syarat Depkes, dan halal. "Tahun 2003, (saya) masuk ke bisnis waralaba. Dulu gerobak kali ya, buat ayam goreng dan kentang," ujar Yanti, yang terus mengampanyekan makanan untuk memakai pengawet dan pewarna yang aman bagi kesehatan.

Selang 4 tahun kemudian, Yanti membeli saham PT Red Crispy. Namun, karena terdapat dua kepemilikan dengan satu merek, maka Magfood RedCrispy berubah merek menjadi Magfood Amazy, yang merupakan resto cepat saji dengan menu andalan ayam goreng dan keripik kentang.

Untuk jumlah karyawan, selama tiga tahun Amazy beroperasi, sudah ada 110 outlet lebih, dengan 8-12 karyawan per outletnya. "Dari merek lama dan baru kita udah ada sekitar 2.000 pekerja, dan sudah terbentuk jaringan wirausaha 400 orang lebih," tuturnya.

Luar Jawa potensial

"Wilayah nasional, ekonomi yang lagi maju justru luar pulau. Mulai dari Sumatera, Kalimantan, kemudian Ambon, Sulawesi. Saya masuk di kota-kota yang belum pernah saya kenal sebelumnya," jelas Yanti.

Menurutnya, merupakan suatu tindakan bunuh diri jika fokus pada Pulau Jawa dalam memperluas ekspansi bisnis, yang cukup berat bersaing dengan perusahaan multinasional. "Kita masuk ke pinggir kota, seperti Bekasi, Bintaro, masuk ke daerah-daerah perumahanlah," jelasnya.

Yanti yang sebelumnya seorang profesional selama 17 tahun dengan spesialisasi manajemen merek menyebutkan, mental sebagai kendala terbesar bagi seseorang dalam memulai usaha. "Modal saya bukan uang, tapi pengalaman saya selama 17 tahun sebagai profesional. Selama itu, saya banyak mendapat kesempatan dari perusahaan multinasional untuk membangun bisnis baru, jadi ini (modal bukan hanya uang) yang saya mau tularkan ke orang," jelasnya.

Mental dalam berusaha, lanjut dia, juga berarti jangan bergantung sepenuhnya dengan pemerintah. Maksudnya, jika menemui perizinan yang susah, pajak yang mempersulit, ataupun dukungan ke UKM masih sangat sulit, jangan mengeluh dan coba usaha sendiri.

"Problemnya di (usaha) mikro, mereka tidak menciptakan kepemimpinan. Seperti, pedagang di Tanah Abang, omsetnya mungkin lebih dari saya, tapi ketika pedagangnya sakit, tokonya tidak buka," tuturnya.

Dengan statusnya sebagai seorang ibu, juga pengusaha, Yanti menyebutkan, banyak hambatan dari lingkungan, mulai dari keluarga inti, besar, hingga masyarakat sekalipun. "Nah, wanita itu harus punya ketahanan fisik dan mental yang sangat kuat. Bikin tangan jadi delapan, octopus, sehingga bisa menjaga keluarga, usaha, dan lainnya," serunya menjelaskan dengan semangat.
sumber : www.kompas.com
Read More..

Minggu, 20 Maret 2011

Sunan Kudus dan Masjid Menara Kudus

Sunan Kudus dan Masjid Menara Kudus

Moment hari raya Idul Fitri merupakan moment yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh umut Islam, terutama umat Islam di Indonesia. Dalam tradisi umat islam di Indonesia di kenal istilah “mudik” yaitu kembalinya keluarga ke kampung halaman untuk berkumpul dengan orang tua dan anggota keluarga yang lain pada saat hari raya Idul Fitri. Sebagai seorang perantauan “ tinggal di Kediri-Jawa Timur” walupun jarak tempuh Kediri-Kudus sekitar 300 km yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 7 jam perjalanan, terkadang dikarenakan kesibukan rutinitas dan kerja, pulang ke kampung tempat kelahiran baru bisa dilakukan dua kali dalam setahun.
Lebaran Idul Fitri pada tahun 2010, merupakan moment yang special, untuk melepas kerinduan dan kenangan akan masa kecil. Wisata kuliner dengan menikmati menu masakan khas kota Kretek seperti Lentog Tanjung, Soto Kerbau, Sate Kerbau, Nasi Pindang dan Bakso yang pastinya pun berbahan daging kerbau tidak kami lewatkan.

Untuk wisata religi tidak lupa kami sempatkan untuk berziarah ke makam Sunan Kudus (Syeikh Dja’far Shodiq), dimana salah satu karya peninggalan beliau adalah Masjid Menara Kudus, dengan arsitektur yang khas perpaduan antara Jawa, Hindu dan China.
Masjid Menara Kudus ini didirikan oleh Ja’far Shodiq yang bergelar Sunan Kudus, diperkirakan pada tahun 956 H/ 1549 M. mengambil angka pada “Batu peringatan yang dibawa dari kota Baitul maqdis (Alquds) Palestina oleh Sunan Kudus pada waktu menunaikan ibadah Haji, yang kemudian digantikan untuk mengganti nama kota Loaram menjadi kota Kudus (yang berarti suci). Masjid ini bernuansa dan berarsitektur Hindu Jawa, didirikan untuk menarik perhatian masyarakat Loaram yang pada masa itu menganut agama Hindu dan Budha yang sangat kuat.
Bagian-bagian Masjid yang bercorak Hindu Budha antara lain:
- Bangunan menara yang mirip dengan candi Hindu

- Gapura/ gerbang 3 buah, 2 diantaranya
pada saat ini terletak di dalam masjid karena perluasan dan yang satu sebagai gerbang masjid berada diluar.



- Ukiran kepala Arca 8 Buah, pancuran padasan atau kolam tempat berwudlu yang artinya Asta Sanghi Kamarga atau delapan jalan utama.

Disebelah selatan areal kompleks masjid dibangun pula bangunan tajug dan penjagaan yang dilakukan Sunan Kudus untuk menerima tamu. Masjid ini telah mengalami perubahan pada akhir tahun 1918 – 1919 M, oleh kyai R. Asnawi, bagian asli bangunan tidak dibuang. Tahun 1921 bangunan masjid diberi penambahan Serambi dan tahun 1933 perluasan serambi serta pemberian kubah pada masjid. Dibelakang kompleks msjid terdapat makam Sunan Kudus beserta keturunan dan pengikutnya.

Tidaklah afdol mengagumi karya peninggalan sunan kudus tanpa mengenal sejarah dari Sunan Kudus. Kota kudus merupakan kota wali dimana 2 dari sembilan wali penyebar agama Islam di tanah Jawa (Wali Songo) berada di kudus. Berikut merupakan sejarah singkat dari Sunan Kudus (Syeikh Dja’far Shodiq) dan Sunan Muria (Raden Umar Said).

Sejarah Sunan Kudus
Dja’far Sodiq, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus, adalah putra dari Raden Usman Haji yang bergelar dengan sebutan Sunan Ngudung di Jipang Panolan. Semasa hidupnya Sunan Kudus mengajarkan agam Islam di sekitar daerah Kudus khususnya di Jawa Tengah pesisir utara pada umumnya. Beliau terhitung salah seorang ulama, guru besar agama yang telah mengajar serta menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya.

Terkenal dengan keahliannya dalam ilmu agama. Terutama dalam ilmu Tauhid, Ushul, Hadits, Sastra Mantiq dan lebih-lebih didalam Ilmu Fiqih. Oleh sebab itu, beliau di beri gelari dengan sebutan sebagai Waliyyul ‘Ilmi. Beliau yang termasuk salah seorang pujangga yang berinisiatif mengarang cerita-cerita pendek yang berisi filsafat serta berjiwa agama. Diantara buah ciptaannya yang terkenal, ialah Gending Maskumambang dan Mijil.

Disamping bertindak sebagai guru Islam, juga sebagai salah seorang yang kuat syariatnya. Sunan Kudus pun menjadi Senopati dari Kerajaan Islam di Demak. Bekas peninggalan beliau antara lain adalah Masjid Raya di Kudus, yang kemudian dikenal dengan sebutan Masjid Menara Kudus. Oleh Karena di halaman masjid tersebut terdapat sebuah menara kuno yang indah.

Mengenai perjuangan Sunan Kudus dalam menyebarkan agama Islam tidak berbeda dengan para wali lainnya, yaitu senantiasa dipakai jalan kebijaksanaan, dengan siasat dan taktik yang demikian itu, rakyat dapat diajak memeluk agama Islam.

Sejarah Sunan Muria
Raden Umar Syaid, atau Raden Said dikenal dengan sebutan Sunan Muria, adalah termasuk salah seorang dari kesembilan wali yang terkenal di Jawa. Nama kecilnya ialah Raden Prawoto. Beliau adalah putra dengan Sunan Kalijaga dengan Dewi Soejinah putri Sunan Ngudung. Jadi, kakak dari Sunan Kudus. Sunan Muria memperoleh seorang putra yang diberi nama Pangeran Santri, dan kemudian mendapat julukan Sunan Ngadilungu. Sunan Muria yang terhitung salah seorang penyokong dari Kerajaan Bintoro. Beliau yang ikut mendirikan Masjid Demak. Beliau lebih suka menyendiri dan bertempat tinggal di desa, bergaul serta hidup di tengah-tengah rakyat jelata.

Sunan Muria lebih suka mendidik rakyat jelata tentang agama Islam di sepanjang lereng Gunung Muria yang terletak 18 km jauhnya sebelah utara Kota Kudus. Cara beliau menjalankan dakwah ke-Islam-an, adalah dengan jalan mengadakan pelatihan terhadap kaum dagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Beliaulah kabarnya yang mempertahankan tetap berlangsungnya gamelan sebagai satu-satunya sebagai seni jawa yang sangat digemari rakyat serta dipergunakannya untuk memasukkan rasa ke-Islaman ke dalam jiwa rakyat untuk mengingat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Disamping itu, beliau adalah pencipta dari gending “Sinom dan Kinanti”. Kini beliau dikenal dengan sebutan Sunan Muria oleh karena beliau di Makamkan di atas Gunung Muria, termasuk dalam wilayah Kudus.

(Oleh : Azis Rifianto, disarikan dari berbagai sumber)

Read More..

Minggu, 26 Desember 2010

Berjalan Kaki 18 Km. ke Gunung Muria untuk Mengajar


Berjalan Kaki 18 Km. ke Gunung Muria untuk Mengajar

Kudus adalah daerah yang terkenal dengan nama kota Kretek dan kota Santri dalam wilayah propinsi Jawa Tengah. Kota ini dibangun oleh Sunan Kudus (Sayyid Ja’far Shodiq) dengan rentetan historisitas yang berpusat pada kerajaan Islam pertama di Jawa (Demak). Hal ini ditengarai dari inskripsi batu nisan yang ada di atas mihrab Masjid al-Aqsha Menara Kudus.

Di belakang Masjid al-Aqsa Menara Kudus inilah, di Komplek Makam Sunan Kudus, hampir selalu ada saja yang mengaji. Baik yang dengan tujuan untuk berziarah, maupun santri yang niat tabarrukan agar diberi kemudahan dalam berbagai urusan. Di antara deretan nisan di komplek makam tersebut, terdapat makam KH Raden Asnawi. Salah seorang ulama keturunan ke-14 Sunan Kudus (Raden Ja’far Shodiq) dan keturunan ke-5 KH Mutamakkin Kajen, Margoyoso, Pati.

Kelahiran
Pada hari Jum’at Pon, kisaran tahun 1861 M (1281 H) di daerah Damaran lahir seorang bayi yang diberi nama Raden Ahmad Syamsyi. Putra dari pasangan H. Abdullah Husnin dan Raden Sarbinah ini lahir di sebuah rumah milik Mbah Sulangsih. Tempat tinggal Mbah Sulang begitu ia akrab disapa menjadi ramai didatangi oleh sanak saudara dan tetangga sekitar lantaran kelahiran anak pembarep. Sudah menjadi tradisi masyarakat Kudus, setiap ada babaran (melahirkan bayi), tetangga ikut merasakan bahagia dengan menjenguk ibu dan anak yang dilahirkan.

H. Abdullah Husnin terkenal seorang pedagang konfeksi yang tergolong besar. Memang sudah menjadi hal yang lumrah, rata-rata penduduk di desa ini mempunyai penggautan (kerja) di bidang konfeksi. Potensi ekonomi masyarakatnya mengandalkan kreatifitas memproduksi kain menjadi pakain, kerudung, rukuh, dan lain sebagainya.

Sejak kecil, Ahmad Syamsyi diasuh oleh kedua orang tuanya, dikenalkan pada pelajaran agama dan tata cara bermasyarakat menurut ajaran-ajaran Islam. Selain itu, Ahmad Syamsyi juga diajarkan berdagang sejak dini. Kemudian semenjak usia 15 tahun, pada kisaran tahun 1876 M. orang tuanya memboyong ke Tulungagung Jawa Timur. Di sana H Abdullah Husnin mengajari anaknya berdagang pagi hingga siang.

Keinginannya mencetak putra sholih mengantarkan Husnin untuk mengikutsertakan Syamsi mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari Tulungagung. Waktu mengaji adalah sepulang dari berdagang mulai sore hingga malam. Tidak diketahui apa kitab yang ditekuni kala itu. Selain mengaji di Tulungagung, Ahmad Syamsi kemudian melanjutkan mengaji kepada KH. Irsyad Naib Mayong, Jepara.

Pergantian Nama dan Mengajar Agama
Sewaktu umur 25 tahun, kira-kira pada tahun 1886 M. Ahmad Syamsi menunaikan ibadah haji yang pertama dan sepulangnya dari ibadah haji ini, KHR. Asnawi mulai mangajar dan melakukan tabligh agama.

Kira-kira umur 30 tahun KHR. Asnawi diajak oleh ayahnya untuk pergi haji yang kedua dengan niat untuk bermukim di tanah suci. Di saat-saat melakukan ibadah haji, ayahnya pulang ke rahmatullah, meskipun demikian, niat bermukim tetap diteruskan selama 20 tahun. Selama itu KHR. Asnawi juga pernah pulang ke Kudus beberapa kali untuk menjenguk ibunya yang masih hidup beserta adik yang bernama H. Dimyati yang menetap di Kudus hingga wafat. Ibunya wafat di Kudus sewaktu KHR. Asnawi telah kembali ke tanah suci untuk meneruskan cita-citanya.

Sepulangnya dari haji pertamanya, nama Raden Ahmad Syamsi diganti dengan Raden Haji Ilyas. Pergantian nama sepulang dari tanah suci sudah menjadi hal yang wajar, namun nama Ilyas juga tidak menjadi nama hingga wafatnya. Nama Ilyas ini kemudian diganti lagi dengan Raden Haji Asnawi, setelah pulang dari menunaikan ibadah haji untuk ketiga kalinya.

Selanjutnya nama Asnawi ini yang menjadi terkenal dalam pengembanagan Ahlussunnah Waljama’ah di daerah Kudus dan sekitarnya. Dari sinilah kharismanya muncul dan masyarakat memanggilnya dengan sebutan Kiai. Sehingga nama harum yang dikenal masyarakat luas menyebut dengan Kiai Haji Raden Asnawi (KHR. Asnawi).

Sebagaimana lazimnya, sebutan Kiai ini tidaklah muncul begitu saja, atau dedeklarasikan dalam sebuah peristiwa, namun ia diperoleh melalui pengakuan masyarakat yang diajarkan agama secara berkesinambungan sejak KHR. Asnawi berumur 25 tahun. Pada setiap Jumu’ah Pahing, sesudah shalat Jumu’ah, KHR. Asnawi mengajar Tauhid di Masjid Muria (Masjid Sunan Muria) yang berjarak + 18 Km dari kota Kudus, dan jalan pegunungan yang menanjak ini ditempuhnya dengan berjalan kaki. KHR. Asnawi juga selalu berkeliling mengajar dari masjid ke masjid sekitar kota saat shalat Shubuh.

Secara khusus KHR. Asnawi juga mengadakan pengajian rutin, seperti Khataman TafsirJalalain dalam bulan Ramadlan di pondok pesantren Bendan Kudus. Khataman kitab Bidayatul Hidayah dan al-Hikam dalam bulan Ramadlan di Tajuk Makam Sunan Kudus. Membaca kitab Hadist Bukhari yang dilakukan setiap jamaah fajar dan setiap sesudah jama’ah shubuh selama bulan Ramadhan bertempat di Masjid al-Aqsha Kauman Menara Kudus, sampai KHR. Asnawi wafat, kitab ini belum khatam, makanya diteruskan oleh al-Hafidh KHM. Arwani Amin sampai khatam.

Kegiatan tabligh KHR. Asnawi untuk menyebarkan akidah Ahlusunnah wal Jamaah tidaklah terbatas daerah Kabupaten Kudus saja, melainkan juga menjangkau ke daerah lain seperti Demak, Jepara, Tegal, Pekalongan, Semarang, Gresik, Cepu, dan Blora.

Di antara ilmu yang diutamakan oleh KHR. Asnawi adalah Tauhid dan Fiqih. Karenanya, bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya, KHR. Asnawi hingga kini masih selalu diingat melalui karya populernya yang kini dikenal dengan “Shalawat Asnawiyyah.” Selain itu karya Asnawi seperti Soal Jawab Mu’taqad Seket, Fasholatan Kyai Asnawi (yang disusun oleh KH. Minan Zuhri), Syi'ir Nasihat, Du’aul ‘Arusa’in, Sholawat Asnawiyyah dan syi’iran lainnya juga tetap diajarkan di pengajian-pengajian pesantren dan masjid-masjid hingga saat ini.

Mukim di Tanah Suci
Di Makkah, KHR. Asnawi tinggal di rumah Syeikh Hamid Manan (Kudus). Namun setelah menikahi Nyai Hj. Hamdanah (janda Almaghfurlah Syeikh Nawawi al-Bantani), KHR. Asnawi pindah ke kampung Syami’ah. Dalam perkawinannya dengan Nyai Hj. Hamdanah ini, KHR. Asnawi dikaruniai 9 putera. Namun hanya 3 puteranya yang hidup hingga tua. Yaitu H. Zuhri, Hj. Azizah (istri KH. Shaleh Tayu) dan Alawiyah (istri R. Maskub Kudus).

Selama bermukim di Tanah Suci, di samping menunaikan kewajiban sebagai kepala rumah tangga, KHR. Asnawi masih mengambil kesempatan untuk memperdalam ilmu agama dengan para ulama besar, baik dari Indonesia (Jawa) maupun Arab, baik di Masjidil Haram maupun di rumah. Para Kyai Indonesia yang pernah menjadi gurunya adalah KH. Saleh Darat (Semarang), KH. Mahfudz (Termas), KH. Nawawi (Banten) dan Sayid Umar Shatha.

Selain itu, KHR. Asnawi juga pernah mengajar di Masjidil Haram dan di rumahnya, di antara yang ikut belajar padanya, antara lain adalah KH. Abdul Wahab Hasbullah (Jombang), KH. Bisyri Sansuri (Pati/Jombang), KH. Dahlan (Pekalongan), KH. Shaleh (Tayu pati), KH. Chambali Kudus, KH. Mufid Kudus dan KHA. Mukhit (Sidoarjo). Di samping belajar dan mengajar agama Islam, KHR. Asnawi turut aktif mengurusi kewajibannya sebagai seorang Komisaris SI (Syariat Islam) di Mekah bersama dengan kawan-kawannya yang lain.

Pada waktu bermukim ini, KHR. Asnawi pernah mengadakan tukar pikiran dengan salah seorang ulama besar, Mufti Mekah bernama Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau tentang beberapa masalah keagamaan. Pembahasan ini dilakukan secara tertulis dari awal masalah hingga akhir, meskipun tidak memperoleh kesepakatan pendapat antara keduanya. Karena itu KHR. Asnawi bermaksud ingin memperoleh fatwa dari seorang Mufti di Mesir, maka semua catatan baik dari tulisan KHR. Asnawi dan Syeikh Ahmad Khatib tersebut dikirim ke alamat Sayid Husain Bek seorang Mufti di Mesir, akan tetapi Mufti Mesir itu tidak sanggup memberi fatwanya. (sayang, catatan-catatan itu ketinggalan di Mekah bersama kitab-kitabnya dan sayang keluarga KHR. Asnawi lupa masalah apa yang dibahas, meskipun sudah diberitahu).

Melihat tulisan dan jawaban KHR. Asnawi terhadap tulisan Syeikh Ahmad Khatib itu, tertariklah hati Sayid Husain Bek untuk berkenalan dengan KHR. Asnawi. Karena belum kenal, maka Mufti Mesir itu meminta bantuan Syeikh Hamid Manan untuk diperkenalkan dengan KHR. Asnawi Kudus. Akhirnya disepakati waktu perjumpaan yaitu sesudah shalat Jum’ah. Oleh Syeikh Hamid Manan maksud ini diberitahukan kepada KHR. Asnawi dan diatur agar KHR. Asnawi nanti yang melayani mengeluarkan jamuan.

Sesudah shalat Jum’ah datanglah Sayyid Husain Bek ke rumah Syeikh Hamid Manan dan KHR. Asnawi sendiri yang melayani mengeluarkan minuman. Sesudah bercakap-cakap, bertanyalah tamu itu: “Fin, Asnawi?” (Dimana Asnawi?), “Asnawi? Hadza Huwa” (Asnawi ? Inilah dia) sambil menunjuk KHR. Asnawi yang sedang duduk di pojok, sambil mendengarkan percakapan tamu dengan tuan rumah. Setelah ditunjukkan, Mufti segera berdiri dan mendekat KHR. Asnawi, seraya membuka kopiah dan diciumlah kepala KHR. Asnawi sambil berkenalan. Kata Mufti Sayyid Husain Bek kepada Syeikh Hamid Manan: "Sungguh saya telah salah sangka, setelah berkenalan dengan Asnawi. Saya mengira tidaklah demikian, melihat jasmaniahnya yang kecil dan rapih".

Madrasah, Masjid Menara dan Penjara
Saat menjenguk kampung halamannya, bersama kawan-kawannya KHR. Asnawi mendirikan Madrasah Madrasah Qudsiyyah (1916 M). Dan tidak berselang lama, KHR. Asnawi juga memelopori pembangunan Masjid Menara secara gotong royong. Malam hari para santri bersama-sama mengambil batu dan pasir dari Kaligelis untuk dikerjakan pada siang harinya. Di tengah-tengah melaksanakan pembangunan itulah, terjadi huru-hara pada tahun 1918 H. Di mana KHR. Asnawi dan kawan-kawannya terpaksa menghadapi tantangan kaki tangan kaum penjajah Belanda yang menghina Islam.

Di tengah-tengah umat Islam bergotong royong membangun Masjid Menara siang malam, orang-orang Cina malah mengadakan pawai yang akan melewati depan Masjid Menara. Para Ulama dan pemimpin-pemimpin Islam pun mengirim surat kepada pemimpin Cina, agar tidak menjalankan pawai lewat depan masjid Menara, karena banyak umat Islam yang melakukan pengambilan batu dan pasir pada malam hari.

Permintaan itu tidak digubris. Pawai tetap digelar. Ironisnya, dalam rentetan pawai itu, juga menampilkan adegan yang sangat menghina umat Islam. Di mana ada dua orang Cina yang memakai pakaian haji dengan merangkul seorang wanita yang berpakaian seperti wanita nakal. Orang awam menyebutnya Cengge. Pawai Cina yang datang dari depan masjid Manara menuju selatan, itu pun berpapasan dengan santri-santri yang sedang bergotongroyong mengambil pasir dan batu dengan grobak dorong (songkro). Kedua pihak tidak ada yang mengalah. Hingga terjadi pemukulan terhadap seorang santri oleh orang Cina.

Pemukulan terhadap salah seorang santri ditambah adanya Cengge itulah, insiden Cina-Islam di Kudus yang dikenal dengan huru hara Cina, terjadi. Ejekan dan hinaan dari orang-orang Cina terus saja terjadi. Hingga orang-orang Islam terpaksa mengadakan perlawanan. Para Ulama memandang beralasan untuk mengadakan pembelaan, namun tidak sampai pada pembunuhan.

Ironisnya, dalam insiden tersebut, ada pihak ketiga yang mengambil kesempatan untuk mengambil barang-barang orang Cina. Dan tanpa sengaja, menyentuh lampu gas pom yang menimbulkan kebakaran beberapa rumah, baik milik orang Cina maupun orang Jawa.

Kejadian inilah yang berbuntut penangkapan terhadap KH. Asnawi dan rekannya KH. Ahmad Kamal Damaran, KH. Nurhadi dan KH. Mufid Sunggingan dan lain-lain, dengan dalih telah mengadakan pengrusakan dan perampasan oleh pemerintah penjajah. Mereka pun akhirnya dimasukkan ke dalam penjara dengan masa hukuman 3 tahun.

Tidak sekali saja KHR. Asnawi di penjara. Pada zaman penjajahan Belanda, KHR. Asnawi sering dikenakan hukuman denda karena pidatonya tentang Islam serta menyisipkan ruh nasionalisme dalam pidatonya. Pun pada masa pendudukan Jepang. KHR. Asnawi pernah dituduh menyimpan senjata api, sehingga rumah dan pondok KHR. Asnawi dikepung oleh tentara Dai Nippon. KHR. Asnawi pun dibawa ke markas Kempetai di Pati.

Meski sering menghadapi ancaman hukuman, namun KHR. Asnawi tidak pernah berhenti berdakwah, amar ma'ruf nahi munkar. Bahkan di dalam penjara sekalipun, KHR. Asnawi tetap melakukan amar ma'ruf nahi munkar. KHR. Asnawi tetap membuka pengajian di penjara. Banyak kemudian di antara para penjahat kriminal yang dipenjara bersamanya, kemudian menjadi murid KHR. Asnawi.

Pada masa-masa revolusi kemerdekaan terutama menjelang agresi militer Belanda ke-1, KHR. Asnawi mengadakan gerakan ruhani dengan membaca sholawat Nariyah dan do’a surat Al-Fiil. Tidak sedikit pemuda-pemuda yang tergabung dalam laskar-laskar bersenjata berdatangan meminta bekal ruhaniyah sebelum berangkat ke medan pertempuran melawan penjajah.

Larangan Berdasi dan Prinsip Perjuangan
Dalam memperjuangkan Islam, KHR. Asnawi memiliki pendirian yang teguh. Prinsip-prinsip hidupnya sangat keras dan watak perjuangnnya terkenal galak, sebab kala itu bangsa Indonesia sedang dirundung nestapa penjajahan kaum kafir. Keyakinan inilah yang dipeganginya sangat kokoh sekali. Bagi KHR. Asnawi, segala hal yang dilaksanakan oleh Belanda tidak boleh ditiru. Bahkan tidak segan-segan KHR. Asnawi memfatwakan hukum agama dengan sangat tegas, anti-kolonialisme, seperti mengharamkan segala macam bentuk tasyabbuh (menyerupai) perilaku para penjajah dan antek-anteknya.

Salah satu diantara fatwanya yang keras ini adalah larangan untuk memakai berdasi dan menghidupkan radio, termasuk menyerupai gaya jalan orang-orang kafir (Belanda dan China). Fatwa larangan berdasinya ini sangat terkenal, hingga suatu ketika KH Saifuddin Zuhri melepaskan dasi dan sepatunya ketika mengunjungi KHR. Asnawi. KH Saifuddin Zuhri kala itu sedang menjabat Menteri Agama, namun demi menghormati KHR. Asnawi, ia bertamu hanya dengan memakai sandal tanpa dasi.

Kemauan keras KHR. Asnawi agar Islam tetap eksis tanpa campur tangan penjajah kafir sudah menjadi pertaruhan jiwa dan raganya. KHR. Asnawi memadukan pola keulamaan dan gerakan taushiyah dengan pesan melaksanakan jihad atas pemberontakan bangsa kafir.

Pada kisaran tahun 1927 M. KHR. Asnawi membangun pondok pesantren di Desa Bendan Kerjasan Kudus, di atas tanah wakaf dari KH. Abdullah Faqih (Langgar Dalem) dan dukungan dari para dermawan dan umat Islam. Pada tahun ini pula, Charles Olke Van Der Plas (1891-1977), seorang pegawai sipil di Hindia Belanda, pernah datang ke rumah KHR. Asnawi untuk meminta kesediaannya memangku jabatan penghulu di Kudus. Secara tegas KHR. Asnawi menolak penawaran tersebut.

Dalam pandangan KHR. Asnawi, jika dirinya diangkat sebagai penghulu, maka tidak akan lagi dapat bebas melakukan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap para pejabat. Beda halnya jika tetap menjadi orang partikelir, ia dapat berdakwah tanpa harus menanggung rasa segan (ewuh pakewuh).

Pada tahun 1924 M. KHR. Asnawi ditemui oleh KH Abdul Wahab Chasbullah Jombang untuk bermusyawarah guna membentengi pertahanan akidah Ahlussunah wal Jamaah dan menyetujui gagasan tamu yang pernah belajar kepadanya ini. Selanjutnya, bersama-sama dengan para Ulama yang hadir di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344 H./31 Januari 1926 M. KHR. Asnawi turut membidani lahirnya jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).

Semasa hidupnya, KHR. Asnawi KH. Raden Asnawi telah berjasa besar bagi Islam dan bangsa Indonesia melalui keterlibatannya dalam organisasi pergerakan kemerdekaan. Selain itu, KHR. Asnawi juga menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional dari berbagai kalangan, seperti Semaun, H Agus Salim dan HOS. Cokroaminoto.

Syahadatain Terakhir
KHR. Asnawi berpulang ke rahmatullah pada Sabtu Kliwon, 25 Jumadil Akhir 1378 H. bertepatan tanggal 26 Desember 1959 M. pukul 03.00 WIB. KHR. Asnawi meninggal dunia dalam usia 98 tahun, dengan meninggalkan 3 orang istri, 5 orang putera, 23 cucu dan 18 cicit (buyut).

Kepulangan ulama besar Kudus ke rahmatullah ini tidak terduga. Sebab satu minggu sebelum wafatnya KHR. Asnawi masih masih nampak segar bugar ketika turut bermusyawarah dalam muktamar NU XII di Jakarta.
Pukul 02.30 WIB Sabtu itu Asnawi bangun dari tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi yang tidak jauh dari kamarnya untuk mengambil air wudlu. Setelah dari kamar mandi Asnawi dengan didampingi istrinya, Nyai Hj. Hamdanah, kembali berbaring di atas tempat tidur. Kondisinya semakin tidak berdaya. Dan dua kalimat syahadat (syahadatain/Asyhadu an laa ilaaha illallah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah) adalah kalimat terakhir yang mengantarkan arwahnya ke rahmatullah.

Kabar wafatnya KH.R Asnawi disiarkan di Radio Republik Indonesia (RRI) Pusat Jakarta lewat berita pagi pukul 06.00 WIB. Penyiaran itu atas inisiataif Menteri Agama RI KH Wahab Chasbullah yang ditelephon oleh HM. Zainuri Noor.

Disadur dari berbagai sumber oleh Syaifullah Amin)
sumber : www.pesantren-ciganjur.org
Read More..

Jumat, 10 Desember 2010

SELEKSI DINI CEKAMAN KEKERINGAN

SELEKSI DINI CEKAMAN KEKERINGAN

I. PENDAHULUAN
Jagung manis yang biasa dikenal dengan sweet corn (Zea mays saccharata Sturt) termasuk dalam tanaman sayuran dan merupakan tipe jagung yang baru dikembangkan masyarakat di Indonesia. Jagung manis semakin populer dan banyak dikonsumsi karena memiliki rasa yang manis dibandingkan jagung biasa. Selain itu jagung manis mempunyai nilai ekonomis yang tinggi di pasaran, karena selain mempunyai rasa yang manis, faktor lain yang menguntungkan adalah masa produksi yang relatif lebih cepat. Buah tanaman jagung manis ini digemari untuk sayur, lauk-pauk, kue, jagung bakar ataupun dikonsumsi langsung dalam bentuk buah rebusan, bahkan bisa dimakan mentah disebabkan rasa manis pada jagung manis (Noviana,2002).
Jagung manis mempunyai biji-biji yang berisi endosperm manis, mengkilap, tembus pandang sebelum masak dan berkerut bila kering. Pada varietas jagung manis terdapat suatu gen resesif yang mencegah perubahan gula menjadi pati (Purseglove 1992). Gen yang sudah umum digunakan adalah su2 (standard sugary) dan sh2 (shrunken). Gen su2 merupakan gen standar, sedangkan gen sh2 menyebabkan rasa lebih manis dan dapat bertahan lebih lama atau disebut supersweet. Apabila kedua gen berada dalam satu genotipe maka disebut sugary supersweet. Menurut Straughn (1907) dalam Alexander dan Creech (1977), kandungan gula pada biji yang masak berbeda pada setiap kultivar jagung manis, bergantung pada derajat kerutannya. Kerutan yang dalam lebih banyak mengandung gula dibandingkan kerutan yang dangkal (Azrai, dkk.,tanpa tahun).
Namun dalam pengembangan usahatani jagung manis seringkali menghadapi permasalahan yaitu rendahnya produktivitas usahatani karena keterbatasan lahan (Noviana, 2002) dan cekaman kekeringan (Rupitak, dkk.,2008). Cekaman kekeringan di area lahan kering tropis dan subtropis pada fase pembungaan tanaman jagung mempengaruhi pembentukan rambut jagung dan bakal biji sehingga produktivitas menurun. Kemampuan tanaman untuk memenuhi bulir jagung dalam beberapa hari pada kondisi cekaman kekeringan sangat dibutuhkan untuk menghasilkan jagung yang berkualitas (Rupitak, dkk.,2008).
Indonesia memiliki lahan kering sekitar 148 juta ha (78%) dan lahan basah (wet lands) seluas 40,20 juta ha (22%) dari 188,20 juta ha total luas daratan (Abdulrachman, dkk.200 dalam Minardi 2009). Lebih lanjut dijelaskan oleh (Abdulrachman, dkk. 2005 dalam Minardi 2009), bahwa dari total luas lahan kering 148 juta ha, yang sesuai untuk budi daya pertanian hanya sekitar 76,22 juta ha (52%), sebagian besar terdapat di dataran rendah (70,71 juta ha atau (93%) dan sisanya di dataran tinggi. Di wilayah dataran rendah, lahan datar sampai bergelombang (lereng <>30% (McWilliams, dkk. 1999).













Gambar 1. Fase Perkecambahan Benih Jagung (Subekti,dkk.tanpa tahun)

Pada kondisi lingkungan yang lembab, tahap pemunculan kecambah jagung berlangsung 4-5 hari setelah tanam, namun pada kondisi yang dingin atau kering, pemunculan kecambah dapat berlangsung hingga dua minggu setelah tanam atau lebih. Fase V11- Vn (jumlah daun terbuka sempurna 11 sampai daun terakhir 15-18) berlangsung pada saat tanaman berumur antara 33-50 hari setelah berkecambah. Kebutuhan hara dan air relatif sangat tinggi untuk mendukung laju pertumbuhan tanaman. Tanaman sangat sensitif terhadap cekaman kekeringan dan kekurangan hara.








Gambar 2. Bunga Jantan dan Bunga Betina pada Jagung (Subekti,dkk.tanpa tahun)

Pada fase ini, kekeringan dan kekurangan hara sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tongkol, dan bahkan akan menurunkan jumlah biji dalam satu tongkol karena mengecilnya tongkol, yang akibatnya menurunkan hasil (McWilliams, dkk. 1999, Lee 2007). Kekeringan pada fase ini juga akan memperlambat munculnya bunga betina (silking). Fase R4 (dough) mulai terjadi 24-28 hari setelah silking. Bagian dalam biji seperti pasta (belum mengeras). Separuh dari akumulasi bahan kering biji sudah terbentuk, dan kadar air biji menurun menjadi sekitar 70%. Cekaman kekeringan pada fase ini berpengaruh terhadap bobot biji (Subekti,dkk.tanpa tahun).

III. RESPON BEBERAPA JENIS TANAMAN TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN

Menurut Singh (1998), karakteristik akar telah berhasil digunakan untuk skrining toleransi cekaman kekeringan pada tanaman Cow Pea (Vigna sp.). Penelitian mengenai korelasi antara karakteristik akar yang meliputi panjang total tanaman, luas permukaan akar relatif yang menyerap air, jumlah akar serta distribusi akar pada kedalaman 6 cm dan produksi tanaman telah dilakukan oleh Gesimba dkk. (2004). Karakteristik fisiologi dan morfologi meliputi penyesuaian osmotik, perilaku stomata, aktivitas klorofil, potensial air daun, berat akar, luas daun dan berat kering tanaman telah diteliti oleh Camacho dan Caraballo (1994) pada beberapa genotipe jagung lokal Venezuela dalam kondisi cekaman kekeringan. Van der Weele, dkk (1999) melakukan penelitian in vitro mengenai pertumbuhan biji Arabidopsis thaliana pada kondisi cekaman kekeringan dengan menjaga potensial air di dalam media agar.

Beberapa hasil penelitian sebelumnya menyatakan bahwa cekaman kekeringan pada fase perkecambahan dapat digunakan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap lahan kering (Schmidhalter dkk., 1998, Farsiani dan Ghobadi. 2009). Penelitian pada fase perkecambahan untuk tanaman lain juga telah dilakukan, antara lain yaitu pengaruh stres air dengan kisaran suhu pada perkecambahan Orobanche aegyptiaca Pers. (Kebreab dan Murdoch, 2000), skrining ex vitro pada fase perkecambahan untuk mengidentifikasi tanaman kedelai yang toleran terhadap cekaman kekeringan (Widoretno dkk., 2002) serta metode skrining pada populasi kecambah blueberry (Vaccinium sp.) untuk resisten terhadap cekaman kekeringan (Erb dkk., 1988). Metode seleksi lapang memiliki beberapa kelemahan, yaitu kesulitan menjaga keseragaman tekanan seleksi serta lama waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan seleksi (Widoretno dkk., 2002).

Selain itu juga telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh iradiasi gamma pada perkecambahan dan pertumbuhan beberapa tanaman pangan di Nigeria oleh Mokkobia dan Anomohanran (2005). Iradiasi gamma diketahui sangat bermanfaat untuk sterilisasi bahan obat-obatan dan makanan. Tanaman pangan yang digunakan adalah jagung, okra dan kacang tanah yang diberi perlakuan beberapa dosis iradiasi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa untuk dapat tumbuh, benih ketiga tanaman tersebut dapat disimpan secara aman dengan menggunakan iradiasi gamma.


IV. SIMULASI CEKAMAN KEKERINGAN MENGGUNAKAN PEG (POLYETHYLENE GLYCOL)

Kondisi kekeringan dapat disimulasikan dengan menggunakan polietilena glikol (PEG) karena memiliki berat molekul tinggi (≥4000) sehingga tidak dapat masuk ke dalam jaringan tanaman dan tidak menyebabkan keracunan (Mullet dan Whitsitt, 1996). Selain itu PEG bersifat mengikat air (Graham, 1992) sehingga mampu menurunkan potensial air. Polietilena glikol bersifat larut dalam air, merupakan senyawa kimia yang non toksik serta telah digunakan untuk kajian pengaruh kelembaban terhadap perkecambahan biji tanaman budidaya dan rumput – rumputan (Mullahey dkk., 1996). Penggunaan PEG untuk mengatur potensial osmotik membutuhkan pengetahuan yang tepat. Senyawa PEG dengan berat molekul 6000 mampu bekerja lebih baik pada tanaman daripada PEG dengan berat molekul yang lebih rendah (Michel dan Kaufmann, 1973). Simulasi cekaman kekeringan menggunakan PEG menjadi alternatif metode untuk menapis genotipe yang toleran kekeringan. Metode ini mampu menapis genotipe kedelai toleran kekeringan dengan cepat, memberikan lingkungan seleksi yang homogen, serta mengevaluasi genotipe kedelai dalam jumlah banyak (Widoretno, dkk. 2002).

Penggunaan senyawa PEG sebagai bahan simulasi kondisi cekaman kekeringan untuk mengetahui seleksi berbagai jenis tanaman toleran terhadap cekaman kekeringan telah dilakukan baik secara in vitro maupun ex vitro. Menurut Lestari (2006) seleksi in vitro untuk mendapatkan tanaman toleran cekaman kekeringan telah diujikan pada kacang hijau (Vigna radiata L.) (Gulati and Jaiwal, 1993), padi (Oryza sativa L.) (Adkins dkk., 1995; Biswas dkk., 2002; Lestari, 2005, 2006), gandum (Sorghum bicolor L.) (Duncan dkk., 1995), tomat (Prakash dkk., 1994) dan kedelai (Widoretno, 2003; Husni dkk., 2005).

Hemon (2009) melakukan identifikasi pertumbuhan tanaman kacang tanah hasil seleksi in vitro berulang pada media selektif yang mengandung polietilena glikol (PEG) terhadap cekaman kekeringan dengan menggunakan larutan PEG. Polietilena glikol dapat menurunkan potensial air dan dapat ditambahkan dalam media untuk seleksi in vitro.










Gambar 3. Gejala nekrosis akibat cekaman PEG.(a) gejala ringan, (b) gejala berat, dan
(c) pertumbuhan akar tanaman sensitive PEG (kiri) dan toleran PEG (kanan). Hemon (2009).

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penyiraman tanaman kacang tanah dengan larutan PEG 15% nyata menghambat pertumbuhan tanaman. Tanaman yang dihasilkan dari ES hasil seleksi in vitro dua siklus (seleksi berulang) pada media selektif PEG 15% menghasilkan pertumbuhan tanaman yang lebih baik dan penghambatan pertumbuhannya lebih kecil dibanding tanaman hasil seleksi ES satu siklus pada media selektif PEG 15% dan tanaman yang tidak melewati seleksi in vitro. Tanaman hasil seleksi ES dua siklus (seleksi berulang) mempunyai tingkat toleransi yang lebih baik terhadap cekaman PEG. Seleksi ES dua siklus pada media selektif PEG 15% menghasilkan individu galur kacang tanah agak toleran dan toleran lebih banyak.


Gambar 4. Kristal PEG (http://www.alibaba.com/showroom/poly-glycol.html)






Beberapa peneliti yang lain telah melakukan evaluasi respon genotipe terhadap cekaman kekeringan pada fase perkecambahan. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan antara lain penelitian yang dilakukan oleh (Krishnasamy dan Irulappan.1993 dalam Aulia, dkk.2005) mengenai respon perkecambahan terhadap stres air pada 9 genotipe Cabai merah (Capsicum annuum L.) dan 22 genotipe Terung (Solanum melongena L.) menggunakan larutan PEG (6000). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa persentase perkecambahan kedua jenis tanaman tersebut menurun seiring dengan berkurangnya potensial osmotik dan mencapai 0 pada potensial osmotik 0.5 MPa. Penurunan persentase perkecambahan sekitar 50% terjadi pada potensial osmotik 0.3 MPa, oleh karena itu skrining genotipe dilakukan menggunakan potensial osmotik 0.3 MPa.

Penelitian lain, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Aulia, dkk (2005) mengenai respon perkecambahan dan struktur akar beberapa varietas kedelai (Glycine max (L.) Merr.) berdaya hasil tinggi terhadap cekaman kekeringan dengan menggunakan polietilena glikol (PEG 6000). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penambahan PEG pada media perkecambahan dapat menurunkan peubah perkecambahan yang meliputi indeks vigor, persentase perkecambahan, jumlah akar lateral, berat kering kecambah, panjang akar dan hipokotil. Selain itu pemberian PEG juga dapat menurunkan tebal epidermis dan korteks, diameter stele serta jumlah dan diameter metaxilem. Penentuan identitas berdasarkan nilai indeks penurunan dan indeks sensitivitas kekeringan (S) pada berbagai peubah perkecambahan dan perubahan anatomi akar.

V. SIMULASI CEKAMAN KEKERINGAN MENGGUNAKAN PEG PADA TANAMAN JAGUNG

Farsiani dan Ghobadi (2009) menggunakan PEG (6000) untuk simulasi cekaman kekeringan dalam media agar (in vitro). Kultivar jagung yang digunakan adalah jagung pipil ( SC704 ) dan jagung manis ( SC403 ). Variabel yang diamati meliputi persentase pertumbuhan, laju pertumbuhan, panjang radikula dan plumula, berat kering akar dan berat kering plumula setelah 10 hari. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa persentase pertumbuhan dan laju pertumbuhan jagung manis lebih tinggi daripada jagung pipil. Selain itu jagung manis ( SC403 ) lebih toleran terhadap cekaman kekeringan daripada jagung pipil ( SC704 ). Berdasarkan penelitian Camacho dan Caraballo ( 1994 ) mengenai evaluasi karakteristik morfologi genotipe 10 jagung hibrida lokal Venezuela pada kondisi cekaman kekeringan, diketahui bahwa hibrida Danac-3006, FM-6, Sefloarca-91, Ceniap PB-8 dan Tocorón-300 toleran terhadap cekaman kekeringan, sedangkan hibrida Cargill-163 resisten terhadap cekaman kekeringan. Selain itu, berat kering akar merupakan kriteria utama untuk seleksi genotipe jagung toleran cekaman kekeringan.




DAFTAR PUSTAKA

Azrai, M., Mejaya, M.D dan Yasin H.G, M. Tanpa tahun. Pemuliaan Jagung Khusus.
http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/ind/bjagung/tujuh.pdf

Aulia,R.F.K., Widoretno, W dan Indriyani, S. 2005. Respon Perkecambahan dan Struktur Akar beberapa Varietas Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) Berdaya Hasil Tinggi terhadap Cekaman Kekeringan dengan Menggunakan Polietilena Glikol (PEG). Skripsi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Brawijaya Malang.

Camacho, R.G dan Caraballo, D.F. 1994. Evaluation Of Morphological Characteristics
In Venezuelan Maize (Zea Mays L.) Genotypes Under Drought Stress. Sci.agric., Piracicaba, 51(3):453-458, set./dez.1994.
http://www.scielo.br/pdf/sa/v51n3/11.pdf

Erb, W.A., Draper, A.D. dan Swartz, H.J. 1998. Methods of Screening Blueberry Seedling Populatins for Drought Resistance. Horticulture Science. 23: 3112-314.
http://agris.fao.org/agris-search/search/display.do?f=1989/US/US89274.xml;US8836953

Farsiani, A. dan Ghobadi, M.E. 2009. Effects of PEG and NaCl Stress on Two Cultivars of Corn (Zea mays L.) at Germination and Early Seedling Stages. World Academy of Science, Engineering and Technology 57.
http://www.waset.org/journals/waset/v57/v57-66.pdf

Gesimba, R.M., Njoka, E dan Kinyua, M. 2004. Root Characteristics of Drought Tolerant Bread Wheat (Triticum aestivum) Genotypes at Seedling Stage. Asian Journal of Plant Sciences. 3: 512-515.
http://docsdrive.com/pdfs/ansinet/ajps/2004/512-515.pdf

Graham, N.B. 1992. Poly(ethylene glycol) Gels and Drug Delivery. Plenum Press. New York. hal 266.
Hemon, A.F. 2009. Pertumbuhan Tanaman Kacang Tanah Hasil Seleksi In Vitro Pada Media Polietilena Glikol Terhadap Cekaman Larutan Polietilena Glikol. Crop Agro, Vol. 2. No.1 – Januari 200.
http://fp.unram.ac.id/data/Profil%20Jurusan/Jurnal%20Crop%20Agro/Jurnal%20Crop%20Agro%20Vol%202%20No%201/Jurnal%20ke%20Crop%20Agro%20-%20Farid%20cetak.pdf

Kebreab, E dan Murdoch, A. J. 2000. The Effects of Water Stress on the Temperature Range for Germination of Orobanche aegyptiaca. Seed Science Research . 10: 1227-133.
http://journals.cambridge.org/action/displayAbstract?fromPage=online&aid=694108

Kristal PEG. http://www.alibaba.com/showroom/poly-glycol.html

Lee, C. 2007. Corn growth and development. www.uky.edu/ag/grain crops.

Lestari, E.G. 2006. In Vitro Selection and Somaclonal Variation for Biotic and Abiotic Stress Tolerance. BIODIVERSITAS Vol. 7, No. 3, Juli 2006, hal. 297-301.
http://www.unsjournals.com/D/D0703/D070320.pdf

McWilliams, D.A., D.R. Berglund, and G.J. Endres. 1999. Corn growth and management quick guide.www.ag.ndsu.edu.

Michel, B.E. dan Kaufmann, M.R. 1973. The Osmotic Potential of Polyethylene Glycol 6000. Plant Physiology. 51: 914-916.
http://www.plantphysiol.org/cgi/content/abstract/51/5/914

Minardi, S.2009. Optimalisasi Pengelolaan Lahan Kering Untuk Pengembangan Pertanian Tanaman Pangan.
http://pustaka.uns.ac.id/include/inc_print.php?nid=134

Mullahey, J.J., S.H. West dan J.A. Cornell. 1996. Effects of Simulated Drought by Polyethylene Glycol on Bahiagrass Germination. Seed Science and Technology. 24: 219-224.
http://cat.inist.fr/?aModele=afficheN&cpsidt=3216841

Mullet, J.E. dan Whitsitt, M.S. 1996. Plant Cellular Responses to Water Deficit. Plant Growth Regulation. 20: 119-124.
http://www.springerlink.com/content/u418850288772p33/

Mokobia, C.E dan O. Anomohanran. 2005. The Effect of Gamma Irradiation on The Germination and Growth of Certain Nigerian Agricultural Crop. Journal of Radiological Protection. 25: 181-188.
http://www.iop.org/EJ/abstract/0952-4746/25/2/006.

Noviana S., E. 2002. Analisa Efisiensi Usahatani Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) (Studi Kasus di Desa Pandanrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu). http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptumm-gdl-s1-2002-endang-8994-jagung&q=Desa
Rupitak, Q.,Aulinger-L.,I.,Messmer, R dan Stamp, P. 2008. Dynamics of Ear Grain Set in Maize under Drought Stress at Flowering.
http://www.tropentag.de/2008/abstracts/links/Messmer_Adpdg0tQ.pdf

Schmidhalter, U., Evequos, M., Camp, K.H dan Studer, C. 1998. Sequence of Drought Response of Maize Seedlings in drying Soil. Physiologia Plantarum. 104: 159-168.
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1034/j.1399-3054.1998.1040203.x/abstract

Singh, B.B. 1998. Simple Screening Method for Drought Tolerance Root Characterisrics in Cow Pea. International Institute of Agriculture. Kano Station, Nigeria. hal: 1-5.
http://www.indianjournals.com/ijor.aspx?target=ijor:ijgpb&volume=59&issue=2&article=010

Subekti, N.A., Syafruddin, Efendi, R dan Sunarti, S. Tanpa tahun. Morfologi Tanaman dan Fase Pertumbuhan Jagung.
http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/ind/bjagung/empat.pdf
Van der Weele, C.M, Spollen, W.G., Sharp, R.E dan Baskin T.I. Growth of Arabidopsis thaliana seedlings under water deficit studied by control of water potential in Nutrient agar media. 1999.
http://jxb.oxfordjournals.org/content/51/350/1555.full

Widoretno, W., Guhardja, E., S. Ilyas dan Sudarsono. 2002. Efektivitas Polietilena Glikol untuk Mengevaluasi Tanggapan Genotipe Kedelai terhadap Cekaman Kekeringan pada Fase Perkecambahan. Hayati. 9: 33-36.
http://202.124.205.107/files/HAY020902wwi.pdf


Read More..