Sabtu, 13 Februari 2010

Talk the Walk, Before You Walk the Talk!

Grow with Character! (25/100) Series by Hermawan Kartajaya
Talk the Walk, Before You Walk the Talk!

TAHUN ketiga MarkPlus Professional Service mulai ''mantap'' di Surabaya. Selain itu, network di Jakarta sudah lumayan. Undangan pun sudah banyak di Surabaya. Pemeo ''It is better to be a big fish in a big pond'' jadi kenyataan di Surabaya.

Karena pasar masih kosong, MarkPlus dengan cepat menjadi market pioneer sekaligus market leader praktis tanpa saingan. Tapi, masalahnya, pasar masih kecil. Pak Harto pada 1993 masih sangat ''vertikal'' dan ''kuat''. Belum banyak yang membutuhkan marketing karena perusahaan besar bukan karena pemasaran. Tapi, itu lebih karena KKN!

Saya sadar bahwa marketing akan dibutuhkan kalau sudah ada persaingan. Kalau mengandalkan perusahaan kecil menengah, harga menjadi terbatas. Waktu itu pekerjaan utama saya sebagai speaker. Riset baru kecil-kecilan kalau ada permintaan.

Konsultasi? Mana ada yang mau bayar. Paling hitungannya adalah seperti harga speaker kalau sedang ikut meeting suatu perusahaan untuk memberikan input. Setelah dua tahun plus, pekerjaan saya masih speaker plus! Ini banyak dikerjakan banyak one man show speaker hingga sekarang. Kartu nama mentereng, tapi pekerjaan ya speaker!

Tim yang ada hanya mendukung dan ''gagah-gagahan''. Yang membuat saya shock, pada suatu hari saya berceramah di suatu seminar publik. Tahu-tahu ada seorang peserta yang mengajukan pertanyaan. ''Pak, kenapa Anda hanya bisa mengatakan konsep dari si A atau si B. Yang dari Anda sendiri mana?''

Waktu itu saya benar benar kayak ditonjok! Bayangkan, sesudah dua tahun mulai ''merajai'' Surabaya, ada orang yang berani mengatakan itu. Saking kagetnya, saya diam sejenak.

Tapi, kemudian saya menjawab dengan spontan. ''Anda benar, Mas. Saya hanya bisa menjadi guru yang sering hanya 'menang' semalam.'' Maksudnya, saya hanya rajin membaca buku terbaru untuk diceritakan kembali keesokannya! Adu cepat dengan speaker lain, bahkan dengan peserta seminar.

Setelah hati saya senag, saya menambahkan lagi jawaban dengan tulus. ''Terima kasih atas pertanyaan Mas. Saya berjanji akan membuat konsep saya sendiri. Dan, saya juga akan berusaha supaya konsep saya itu akan diakui dunia!''

Pernyataan saya itu spontan belaka, tidak dirancang sebelumnya. Tapi, pernyataan tersebut benar-benar memacu saya untuk membuat konsep sendiri. Saya benar-benar malu ketika saya ditanya seperti itu. Sejak hari itu, saya membulatkan tekad untuk menjadi ''Guru Marketing Kelas Dunia''. Tapi, tentu saja, saya tidak berani gembar-gembor dulu.

Apa yang saya lakukan? Saya telusuri semua hasil karya para guru manajemen dunia, seperti Peter Drucker, Michael Porter, Tom Peters, dan Kehnichi Ohmae. Saya bukan sekadar membaca dan menghafal, tapi berusaha keras mencari ''benang merah''-nya. Saya berusaha mengerti rahasia para tokoh itu menjadi guru dunia! Saya habiskan semua buku-buku ''wajib'' manajemen, strategi, dan pemasaran. Setelah itu, saya mencoba menghubung-hubungkan satu dengan yang lain.

Bayangkan, zaman itu belum ada Google untuk mencari materi. Komputer pun belum umum. Jadi, alat saya hanya kertas dan pensil.

Buku-buku yang saya baca pun penuh dengan coretan ball-point. Tanpa corat-coret, rasanya saya tidak bisa punya ''tekanan'' pada hal-hal tertentu yang menarik. Akhirnya, setelah enam bulan kerja keras, saya seolah melihat ''lampu pijar'' di otak saya! Saya tidak ''kuat'' lagi menahannya untuk tidak segera diekspresikan dalam bentuk konsep!

Saya serasa pelukis yang sesudah mendapat ide tidak bisa menahan diri dan mencari kanvas untuk dilukis! Besok akan saya ceritakan apa yang kemudian saya lakukan dalam ''melahirkan'' Konsep Marketing saya sendiri ! Tapi, apa pelajaran hari ini yang paling penting? Jangan takut berjanji, asal masih realistis !

Ingat Pak Ciputra? ''Janji adalah utang dan utang harus dibayar!'' Supaya mudah diingat, inilah tipnya: Talk the Walk, Before you Walk the Talk! (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar